<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138</id><updated>2011-08-01T15:46:24.143-07:00</updated><category term='NASEHAT'/><category term='INFO KAJIAN SALAFI JOGJAKARTA'/><category term='HADIST SHAHIH'/><category term='JUAL VOUCER HOTEL MURAH'/><category term='KISAH SAHABAT'/><category term='RAMADHAN'/><category term='FATWA ULAMA'/><category term='JUAL HANDPHONE'/><category term='PROMO'/><category term='PAKET HAJI PLUS DAN UMROH'/><title type='text'>HIDUP TENTRAM BERSAMA SUNNAH</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>109</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-8327834166982073230</id><published>2010-01-31T16:48:00.000-08:00</published><updated>2010-01-31T17:03:24.467-08:00</updated><title type='text'>6 kerusakan valentine’s day</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S2YoUt4V41I/AAAAAAAAAWI/9zi0x6R6B1U/s1600-h/novalentine.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S2YoUt4V41I/AAAAAAAAAWI/9zi0x6R6B1U/s400/novalentine.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433074336847487826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fih kama yuhibbu robbuna wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kalangan pasti sudah mengenal hari valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day). Hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cikal Bakal Hari ValentineSebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ironis memang kondisi umat Islam saat ini. Sebagian orang mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas. Seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme. Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual paganisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kita akan melihat berbagai kerusakan yang ada di hari Valentine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan Pertama: Merayakan Valentine Berarti Meniru-niru Orang Kafir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman dalam Irwa’ul Gholil no. 1269). Telah jelas di muka bahwa hari Valentine adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan Kedua: Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain semacam valentine. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon [25]: 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Jauziy dalam Zaadul Maysir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur. Di antara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483). Jadi, merayakan Valentine’s Day bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan Ketiga: Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا أَعْدَدْتَ لَهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tersebut menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas pun mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang tokoh Nashrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda. Valentine-lah sebagai pahlawan dan pejuang ketika itu. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. Jika Anda seorang muslim, manakah yang Anda pilih, dikumpulkan bersama orang-orang sholeh ataukah bersama tokoh Nashrani yang jelas-jelas kafir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang kafir[?] Semoga menjadi bahan renungan bagi Anda, wahai para pengagum Valentine!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan Keempat: Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam Kesyirikan dan Maksiat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari berbagai sumber)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun telah kemukakan di awal bahwa hari valentine jelas-jelas adalah perayaan nashrani, bahkan semula adalah ritual paganisme. Oleh karena itu, mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan selamat dalam hari raya orang kafir lainnya adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah (1/441, Asy Syamilah). Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal atau selamat hari valentine, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan Kelima: Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan Keenam: Meniru Perbuatan Setan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebagian kerusakan yang ada di hari valentine, mulai dari paganisme, kesyirikan, ritual Nashrani, perzinaan dan pemborosan. Sebenarnya, cinta dan kasih sayang yang diagung-agungkan di hari tersebut adalah sesuatu yang semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Perlu diketahui pula bahwa Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh agama lainnya. Sebagaimana berita yang kami peroleh dari internet bahwa hari Valentine juga diingkari di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Alasannya, karena hari valentine dapat merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Kami katakan: “Hanya orang yang tertutup hatinya dan mempertuhankan hawa nafsu saja yang enggan menerima kebenaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kami ingatkan agar kaum muslimin tidak ikut-ikutan merayakan hari Valentine, tidak boleh mengucapkan selamat hari Valentine, juga tidak boleh membantu menyemarakkan acara ini dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, dan mensponsori acara tersebut karena ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Ingatlah, Setiap orang haruslah takut pada kemurkaan Allah Ta’ala. Semoga tulisan ini dapat tersebar pada kaum muslimin yang lainnya yang belum mengetahui. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-8327834166982073230?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/8327834166982073230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2010/01/6-kerusakan-valentines-day.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/8327834166982073230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/8327834166982073230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2010/01/6-kerusakan-valentines-day.html' title='6 kerusakan valentine’s day'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S2YoUt4V41I/AAAAAAAAAWI/9zi0x6R6B1U/s72-c/novalentine.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-1627587340033572827</id><published>2010-01-27T16:38:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T16:40:58.209-08:00</updated><title type='text'>Gadis Kecilku yang Sabar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S2DdDXeCzaI/AAAAAAAAAWA/JK724r7ag48/s1600-h/img_1089.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S2DdDXeCzaI/AAAAAAAAAWA/JK724r7ag48/s400/img_1089.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431584200518192546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aisyah nama itu yang kami berikan saat dia lahir didunia ini. Saat ini telah menginjak usia 1 tahun 7 bulan. Saat usianya telah menginjak 1 tahun dia terkena sakit batuk yang setelah dua minggu tak kunjung sembuh meski telah di obati bahkan dia mulai sesak napas, dan ternyata dokter mengatakan dia terkena asma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kami sebagai orang tuanya sebenarnya kaget dan juga pahit mendengar   diagnosa dokter, tapi matanya yang tajam menatap kami seolah menguatkan hati dengan mengatakan “ ini masih belum kiamat, doakan aku untuk kuat dan sabar menerima semua ini ”. dia  tidak pernah mengeluh, bahkan saat sakitpun dan dalam keadaan dia susah bernafas juga tidak ada keluh kesah. menangispun tidak asal dia bisa tidur juga istirahat. Seolah segala tingkah lakunya dan tatapan matanya mengatakan “ tegarlah dalam menerima semua ini”, karena dia tetap lincah dan aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saat dia batuk dan susah bernafas sepertinya dia bertanya ”   apakah ini yang umi rasakan dulu?”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang saya dulu pernah mengidap asma karena kemasukan air ketuban saat lahir. Dan saat ini telah sembuh. Saya ingat betul bagaimana sakitnya tidak bisa bernafas , bagaimana susahnya melakukan sesuatu dengan kondisi susah bernafas, dan bagaimana indahnya kesehatan saat kita bisa merasakan rongga dada kita dapat merasakan kelegaan nafas. Subhanallah! Maha suci Allah...Sungguh nikmat Allah itu sangat luar biasa nikmatnya dan indahnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kasihan melihat dia yang hampir setiap minggu kedokter atau paling tidak sebulan sekali. Berat badan susah naik, meski makan normal dan vitamin terus diberikan tapi penyakit itu yang telah menggerogoti tubuhnya yang masih kecil itu.  Setiap orang yang bertemu pasti berkomentar. Aisyah makin kurus ya? Aisyah sakit –sakitan ya? Aisyah makanannya gak dikasih makanan yang bergizi ya? Dan banyak lagi komentar yang kadang kalau hati kita tak kuat ingin sekali aku menangis, pedih, perih yang kurasa. Dan mereka hanya bisa mengatakan seperti itu. Mereka tak akan pernah paham dan mengerti kalau mereka belum pernah merasakan dan tahu bagaimana mahalnya pernafasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaa Allah... betapa perih, sakit hati ini bila tak sadari kalau sebenarnya  ini adalah tanda cintaMu, betapa aku tidak terima kalau tidak ingat ini adalah jalan untuk kami menggapai rahmatMu. Betapa aku ingin berontak untuk menolak semua ini kalau tidak ingat ini adalah pemberian terindah dariMu. “Allah masih bersamaku kah Engkau saat ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah pernah kurasakan dulu mulai aku kecil, bukan hanya rasa sakit dari penyakit ini tapi juga sakitnya disisihkan oleh teman sendiri dan mereka juga manusia. Saya dulu juga merasakan  bagaimana mereka menjauh saat penyakit itu ada dalam tubuh saya, mereka menjauh saat saya tidak bisa sepadan dengan mereka dalam hal materi karena uang saya habis untuk berobat bukan  untuk beli mainan atau baju yang sama mahalnya dengan mereka. Saya juga tidak dapat merasakan makanan yang anak – anak lain bisa makan. Pernah samapi ada yang mengatakan “ masak uang 3500 rupiah saja tidak punya untuk bayar sekolah bulan ini?” karena masa itu saya habis perawatan keluar kota, dan guru saya itu tidak mau terima dengan alasan yang saya berikan. Pernah juga disuatu acara saya tidak diajak main teman – teman, karena saya tak memakai baju yang sebagus mereka. Banyak sebenarnya kepedihan kalau mau diuraikan. Saya juga manusia biasa yang bisa mengeluh dan kadang tidak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu untungnya cuma manusia yang menjauh dari saya, bukan Allah!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah dengar doaku, doa ibu dan juga orang terdekat. Allah berikan sakit itu untuk mengajakku dekat dan semakin mendekat padaNya, dalam balutan kasih dan cintaNya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini setelah semua terjadi dan semua telah kumengerti. Ucapan kata yang patut ku ucapkan adalah “Terima kasih ya Allah, ke Agungan hanya milikMu, kecintaan yang paling besar hanya dariMu, meski semua orang memandang kami hina.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenangan, atau ketidak senangan dalam hidup ini adalah karuniaNya. Allah sayang kepada kita, dan semua yang diberikanNya  adalah pemberian yang harus disyukuri dan dinikmati dengan kesabaran dan keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memang pemilik cinta yang sebenarnya, dan Dialah yang punya skenario atas semuanya. Dan Allah punya  hikmah terbesar dan terindah. Tidak semua orang bisa merasakan dan menikmati tanda cintaNya.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah tidaklah aku terima semua karunia dari Mu hari ini atau yang melalui hambaMu, kecuali bahwa itu hanya dari Engkau semata, tiada sekutu bagiMu dan segala ucapan terima kasih itu hanya milikMu. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ ya Allah sungguh diri kami ada dalam genggamanmu, kuatkan kesabaran kami dan kuatkan kami dalam menerima semua ini. Dan jangan jadikan kesedihan dan kesenangan ini sebagai alat bagi kami untuk jauh dan menghindar dariMu. dariMu dan kepadaMu kami kembali. Tidak ada yang kami harapkan selain rahmat dariMu, masukkanlah kami kedalam surgaMu bersama orang – orang yang sabar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku kesabaranmu yang buat kami kuat saat ini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai gadis kecilku ajarkan kepada kami arti sabar dan ikhlas....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai gadis keciku semoga Allah jadikanmu permata dalam surgaNya kelak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Engkaulah ya Robb yang telah menjadikan semua ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.eramuslim.com/oase-iman/gadis-kecilku-yang-sabar.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-1627587340033572827?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/1627587340033572827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2010/01/gadis-kecilku-yang-sabar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/1627587340033572827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/1627587340033572827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2010/01/gadis-kecilku-yang-sabar.html' title='Gadis Kecilku yang Sabar'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S2DdDXeCzaI/AAAAAAAAAWA/JK724r7ag48/s72-c/img_1089.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-8353003138309865917</id><published>2010-01-20T21:57:00.000-08:00</published><updated>2010-01-20T22:13:09.740-08:00</updated><title type='text'>Ada apa dengan cinta pada sang ibu?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1ftN1Mc7AI/AAAAAAAAAVU/3fZSvDPcabk/s1600-h/bayi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 340px; height: 227px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1ftN1Mc7AI/AAAAAAAAAVU/3fZSvDPcabk/s400/bayi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429068697691810818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Abu Ahmad Said Yai, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nina bobo’, o Nina bobo’, kalau tidak bobo’ digigit nyamuk.“ Sedih juga rasanya mendengar kalimat-kalimat itu, mengingatkan kita pada perngorbanan ibu saat membesarkan kita, sewaktu mengandung, melahirkan, menyusui, sampai kita menjadi besar. Kasih sayang ibu masih terasa sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun telah berlalu, semakin banyak orang yang melupakan ibunya, melupakan jasa-jasanya.padahal sudah tak terhitung lagi berapa dosa yang telah diperbuat pada sang ibu. Akan tetapi, ibu selalu sabar, tabah dan mendoakan kebaikan pada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu menyayat di hati, begitu pekak di telinga, begitu menusuk di mata, ketika melihat dengan mata kepala sendiri seorang anak berbicara kasar pada ibunya, memakinya, menghinanya bahkan sampai memukulnya. Inikah yang dinamakan balas budi?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فلاتقل لهما اف&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Janganlah kamu katakan pada mereka berdua uf (ah)!”(QS Al-Isra’ :23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan ah yang dianggap remeh oleh manusia ternyata telah dinilai suatu kedurhakaan oleh Allah, apalagi sampai memakinya dan memukulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الجنة تحت اقدام الامهات&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Surga di bawah telapak kaki ibu.” Tapi sayang hadits ini sangat lemah (dha’if jiddan).[1] Jika diartikan bahwa dengan berbakti kepada ibu dapat memasukkan orang ke surga, maka hadits di atas memiliki banyak  pendukung. Rasulullah r bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رغم انف ثم رغم انف ثم رغم انف من ادرك ابويه عند الكبر احدهما او كلاهما فلم يدخل الجنة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Sungguh hina/sungguh rendah/sungguh merugi orang yang hidup bersama orangtuanya yang sudah lanjut usia, salah satu atau kedua-duanya, tapi tidak masuk kedalam surga.” (Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Irafah bin Iyas berkata, “Saya melihat Al-Harits Al-Akali di dekat kubur ibunya sedang menangis, kemudian dia ditanya, “Kamu menangis?” Dia menjawab, “Bagaimana tidak, sebuah pintu dari pintu-pintu surga telah ditutup bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad atau berbakti pada orang tua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Abdullah bin Mas’ud t berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah r “Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah? Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Saya berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti pada kedua orangtua.” Saya bertanya lagi,”Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah lebih mencintai bakti kepada orangtua dibanding seseorang berjihad di jalan Allah sedang orang tuanya membutuhkannya. Hal itu juga dengan tegas dinyatakan oleh Rasulullahh r ketika menolak salah seorang sahabat yang tidak mendapatkan izin dari orangtuanya dan menyuruhnya kembali ke orangtuanya karena di keduanya terdapat jihad. Begitu juga terdapat atsar dari ‘Umar t dan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan cinta pada ibu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta pada sang ibu lebih diutamakan daripada ayah. “Untuk ibu tiga perempat bagian dari kebaikan,” kata Imam Ahmad.[3]hal ini dikarenakan ibu adalah orang yang paling dengan dengan anaknya dan paling banyak mengorbankan waktunya dibandingkan dengan ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan tindakan durhaka terjadi pada sang ibu. Ibu adalah seorang wanita dan wanita itu lemah dari segi fisik dan perasaan. Ketika seorang anak sudah merasa besar dan cukup dewasa, bisa saja dia melawan ibunya dengan lisannya atau dengan fisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis pernah mengunjungi suatu desa. Di desa itu seolah-olah anak laki-laki sudah biasa berkata kasar pada ibunya, membantahnya dan tidak patuh. Akan tetapi,, terhadap ayahnya dia bisa berbicara sopan, patuh dan tunduk. Hati ibu mana yang tidak sakit jika diperlakukan seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-jaza’u min jinsil’amal (Balasan itu semisal dengan perbuatan), ini adalah salah satu kaidah di dalam agama kita. Apabila seorang anak durhaka pada orangtuanya, maka dia harus bersiap-siap untuk didurhakai oleh anak-anaknya. “Telah banyak cerita-cerita nyata di antara manusia, siapa yang berbakti pada orangtuanya, maka anak-anaknya juga berbakti padanya. Demikian pula dengan perbuatan durhaka. Seseorang yang durhaka pada orangtuanya, maka anak-anaknya akan mendurhakainya,” kata Syaikh Ibnu Al-’Utsaimin.[4] Maukah kita didurhakai oleh anak-anak kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai detik ini dan seterusnya mari kita menghitung berapa banyak kesalahan yang telah kita perbuat pada kedua orangtua kita terutama pada sang ibu. Entah itu berupa perbuatan, perkataan atau bahkan ejekan kita di dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taat kepada orangtua merupakan ketaatan pada Allah ta’ala. Sudah semestinya kita membahagiakan hati mereka dan tidak melukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Al-Munkadir berkata,”Saya pernah semalaman memijat-mijat kaki ibuku sedangkan pamanku mengisi malamnya dengan shalat.Tapi malamnya itu tidak sesenang malamku (bersama ibuku-pent).”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adz-dzahaby menceritakan tentang Ibnu ‘Aun,”Suatu saat ibunya memanggil, dan dia pun menyahut panggilan itu. Akan tetapi, suaranya lebih keras dari suara ibunya maka dia pun memerdekakan dua orang budaknya.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis terkesan setelah mendengar cerita dari seorang teman (guru TPA), dia mengisi kajian anak-anak TPA di suatu desa tentang  wajibnya berbakti pada orangtua. Setelah kajian anak-anak TPA itu kembali ke rumahnya masing-masing dan dengan segera menjabat tangan orangtuanya  dan meminta maaf pada keduanya. Mereka itu adalah anak-anak yang notabene belum dibebani hekum syar’i (gairu mukallaf), bagaimana dengan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian jangan sampai air susu dibalas dengan air tuba. Na’udzu billahi mindzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رب اغففرلي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://jalansemut.wordpress.com/2010/01/14/ada-apa-dengan-cinta-pada-sang-ibu/#more-495&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-8353003138309865917?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/8353003138309865917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2010/01/nina-bobo-o-nina-bobo-kalau-tidak-bobo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/8353003138309865917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/8353003138309865917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2010/01/nina-bobo-o-nina-bobo-kalau-tidak-bobo.html' title='Ada apa dengan cinta pada sang ibu?'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1ftN1Mc7AI/AAAAAAAAAVU/3fZSvDPcabk/s72-c/bayi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-486822534881486638</id><published>2009-11-11T14:34:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T14:52:56.390-08:00</updated><title type='text'>HAKIKAT DAN KEDUDUKAN TAUHID</title><content type='html'>Tauhid, sebuah kata yang tidak asing lagi bagi kita, khususnya kaum muslimin. Karena pada umumnya kita menginginkan atau bahkan telah mengaku sebagai seorang yang bertauhid. Disamping itu, kata ‘tauhid’ ini sangat sering disampaikan oleh para penceramah baik pada waktu khutbah atau pengajian-pengajian. Akan tetapi bisa jadi masih banyak orang yang belum memahami hakikat dan kedudukan tauhid ini bagi kehidupan manusia, bahkan bagi yang telah merasa bertauhid sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari banyaknya pemahaman orang yang telah kabur tentang hakikat tauhid dan lupa akan kedudukannya yang begitu tinggi maka penjelasan yang gamblang tentang masalah ini sangat penting untuk disampaikan. Dan karena permasalahan tauhid merupakan permasalahan agama maka penjelasannya tidak boleh lepas dari sumber ilmu agama yaitu Al Quran dan As Sunnah dengan merujuk kepada penjelasan ahlinya, yaitu para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Tauhid dan Macam-Macamnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian Tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama Aqidah mendefinisikan tauhid sebagai berikut: Tauhid adalah keyakinan tentang keesaan Allah subhanahu wa ta’ala dalam rububiyah-Nya, mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya serta menetapkan nama-nama dan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya. Dengan demikian maka biasa dikatakan bahwa tauhid terbagi menjadi tiga macam yaitu: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma dan Sifat. Kesimpulan ini diambil oleh para ulama setelah mereka meneliti dalil-dalil Al Quran dan hadits yang terkait dengan keesaan Allah subhanahu wa ta’ala. Untuk lebih jelasnya akan dijabarkan dibawah ini masing-masing tauhid tersebut. (Lihat Aqidatu Tauhid Syaikh Sholih Al Fauzan Hal. 15-16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Macam-Macam Tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tauhid Rububiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid Rububiyah adalah keyakinan tentang keesaan Allah taala di dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Yaitu meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pencipta seluruh makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah menciptakan segala sesuatu dan Allah memelihara segala sesuatu." (QS. Az Zumar: 62)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pemberi rizki kepada seluruh manusia dan makhluk lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya…" (QS. Hud: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penguasa dan pengatur segala urusan alam, yang meninggikan lagi menghinakan, menghidupkan lagi mematikan, memperjalankan malam dan siang dan yang maha kuasa atas segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan,engkau berikan kerajaan kepada orang yang engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang engkau kehendaki dan engkau hinakan orang yang engkau kehendaki. Di tangan engkaulah segala kebijakan. Sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukan malam kedalam siang dan engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." (QS. Ali Imron: 26 -27). (Lihat Aqidatu Tauhid hal 16-17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian Tauhid Rububiyah mencakup keimanan kepada tiga hal yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Beriman kepada perbuatan–perbuatan Allah secara umum seperti mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan dan lain-lain.&lt;br /&gt;2. Beriman kepada qodho dan qodar Allah.&lt;br /&gt;3. Beriman kepada keesaan Zat-Nya. (Lihat Al Madkhol li dirosatil Aqidah Islamiyah, Ibrahim bin Muhammad Al Buraikan hal 87).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tauhid Asma dan Sifat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid Asma dan Sifat adalah keyakinan tentang keesaan Allah subhanahu wa ta’ala dalam nama dan sifat-Nya yang terdapat dalam Al Quran dan Al Hadits dilengkapi dengan mengimani makna-maknanya dan hukum-hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu." (QS. Al A'rof: 180)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيّاً مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Ar Rahman. Dengan Nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai Al Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al Isro: 110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِلَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi." (QS. An Nahl: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan bagi-Nya lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi." (QS. Ar Rum: 27). (Lihat Mu'taqod Ahlu Sunnah Wal Jama'ah fi Tauhidil Asma wa Sifat, DR. Muhammad bin Kholifah At Tamimi hal 31-34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang harus diperhatikan dalam tauhid Asma dan Sifat adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menetapkan semua nama dan sifat tidak menafikan dan menolaknya.&lt;br /&gt;2. Tidak melampaui batas dengan menamai atau mensifati Allah di luar yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;3. Tidak menyerupakan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk-Nya.&lt;br /&gt;4. Tidak mencari tahu tentang hakikat bentuk sifat-sifat Allah.&lt;br /&gt;5. Beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntutan asma dan sifat-Nya. (Lihat Mu'taqod hal 40-41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua macam tauhid di atas termasuk dalam satu pembahasan yaitu tentang keyakinan atau pengenalan tentang Allah. Oleh karena itu kedua macam tauhid tersebut biasa disatukan pembahasannya dengan nama tauhid ma’rifah dan itsbat (pengenalan dan penetapan). (Lihat Al Madkhol hal 93).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya fitrah manusia beriman dan bertauhid ma’rifah dan itsbat. Oleh karena itu orang-orang musyrik dan kafir yang dihadapi oleh para Rasul tidak mengingkari hal ini. Dalilnya adalah firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kamu tidak bertaqwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” (QS. Al Mu'minun: 86-89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berkata rasul-rasul mereka: ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, pencipta langit dan bumi?’” (QS. Ibrahim: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah ada manusia yang mengingkari Rububiyah dan kesempurnaan nama dan sifat Allah, itu hanyalah kesombongan lisannya yang pada hakikatnya hatinya mengingkari apa yang diucapkan oleh lisannya. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Firaun dan pembelanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُوراً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Musa menjawab: Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu'jizat-mu'jizat itu kecuali Tuhan yang Maha memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata, dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Firaun seorang yang akan binasa." (QS. Al Isra: 102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْماً وَعُلُوّاً فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ َ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan mereka mengingkarinya karena kedholiman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya." (QS. An Naml: 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga pengingkaran orang-orang komunis dewasa ini, hanyalah kesombongan dhohir walaupun batinnya pasti mengakui bahwa tiada sesuatu yang ada kecuali ada yang mengadakan dan tidak ada satu kejadianpun kecuali ada yang berbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لا يُوقِنُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah merekalah yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)." (QS. At Thur: 35-36). (Lihat Aqidatu Tauhid hal 17-18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tauhid Uluhiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam tujuan perbuatan-perbuatan hamba yang dilakukan dalam rangka taqorub dan ibadah seperti berdoa, bernadzar, menyembelih kurban, bertawakal, bertaubat, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (QS. Al Baqoroh: 163)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَالَ اللَّهُ لا تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah berfirman: Janganlah kamu menyembah dua tuhan. Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut." (QS. An Nahl: 51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada sesuatu dalilpun baginya tentang itu maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhan-Nya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir tiada beruntung." (QS. Al Mu’minun: 117). (Lihat Aqidatu tauhid hal 36, Fathul Majid hal 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid inilah yang dituntut harus ditunaikan oleh setiap hamba sesuai dengan kehendak Allah sebagai konsekuensi dari pengakuan mereka tentang Rububiyah dan kesempurnaan nama dan sifat Allah. Kemurnian Tauhid Uluhiyah akan didapatkan dengan mewujudkan dua hal mendasar yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Seluruh ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah bukan kepada yang lainnya.&lt;br /&gt;2. Dalam pelaksanaan ibadah tersebut harus sesuai dengan perintah dan larangan Allah. (Lihat Al Madkhol hal 94).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga macam tauhid di atas memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan, dimana keimanan seseorang kepada Allah tidak akan utuh sehingga terkumpul pada dirinya ketiga macam tauhid tersebut. Tauhid Rububiyah seseorang tak berguna sehingga dia bertauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah, serta Tauhid Uluhiyah seseorang tak lurus sehingga dia bertauhid asma dan sifat. Singkatnya, mengenal Allah tak berguna sampai seorang hamba beribadah hanya kepada-Nya. Dan beribadah kepada Allah tidak akan terwujud tanpa mengenal Allah. (Lihat Mu'taqod hal 47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan Tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pada dasarnya manusia telah mengenal Allah meski secara global, maka para Rasul utusan Allah diutus bukan untuk memperkenalkan tentang Allah semata. Namun hakikat dakwah para Rasul adalah untuk menuntut mereka agar beribadah hanya kepada-Nya. Dengan demikian materi dakwah para rasul adalah Tauhid Uluhiyah. Oleh karena itu istilah tauhid tatkala disebutkan secara bebas (tanpa diberi keterangan lain) maka ia lebih mengacu kepada Tauhid Uluhiyah. Dalam kehidupan manusia tauhid memiliki kedudukan yang sangat tinggi di antaranya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hakikat tujuan penciptaan jin dan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka (hanyalah) menyembah–Ku." (QS. Adz Dzariyat: 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas menyatakan bahwa perintah menyembah/ibadah dalam firman Allah adalah perintah untuk bertauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hakikat tujuan pengutusan para rasul dan materi dakwah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Toghut (sesembahan selain Allah) itu." (QS. An Nahl: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (QS. Al Anbiya: 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kewajiban pertama bagi manusia dewasa lagi berakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu." (QS. An Nisa: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat tersebut Allah memerintahkan untuk bertauhid terlebih dulu sebelum memerintahkan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan." (QS. Muhammad: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat tersebut Allah memerintahkan untuk bertauhid dahulu sebelum beramal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pelanggaran tauhid yaitu syirik adalah keharaman yang terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah: Marilah kubacakan apakah yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan dia, berbuat baiklah terhadap dua orang ibu bapak……" (QS. Al Anam: 151)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mendahulukan penyebutan keharaman syirik sebelum yang lainya karena keharaman syirik adalah yang terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Materi dakwah yang pertama kali harus diserukan Ketika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengutus Muadz ke Yaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّكَ تَأْتِيْ قَوْماً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ـ وَفِيْ رِوَايَةٍ: إِلىَ أَنْ يُوَحِّدُوْا اللهَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sungguh kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab maka hendaklah dakwah yang pertama kali kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat Lailaha Illallah-dalam riwayat lain disebutkan: ‘Supaya mereka mentauhidkan Allah’." (HR. Bukhori dan Muslim). (Lihat Kitabu Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi bab I, Aqidatu Tauhid hal 36-37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sekilas tentang tauhid dan kedudukanya semoga tatkala kita mengetahui demikian agungnya kedudukan tauhid dalam kehidupan manusia maka hal itu menjadi pemacu bagi kita supaya mengetahui lebih jauh dan rinci tentang tauhid. Hal ini agar tauhid tidak hanya sebagai pengakuan belaka namun betul-betul terpatri dalam diri kita baik secara dhohir maupun bathin. Semoga Allah memudahkan bagi kita semua untuk menempuh jalan ini. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat pembahasan: Dasar&lt;br /&gt;Penulis: Ust. Abu Isa Abdullah bin Salam&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-486822534881486638?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/486822534881486638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/11/hakikat-dan-kedudukan-tauhid.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/486822534881486638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/486822534881486638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/11/hakikat-dan-kedudukan-tauhid.html' title='HAKIKAT DAN KEDUDUKAN TAUHID'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-4447054326410570520</id><published>2009-11-10T14:46:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T15:12:28.891-08:00</updated><title type='text'>Musim Hujan T'lah Tiba. Berikut Adab-adab Ketika Turun Hujan...................</title><content type='html'>وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الأرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat [41]: 39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turunnya Hujan, Salah Satu Waktu Terkabulnya Do’a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, 4/342 mengatakan, “Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan: [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.” (Dikeluarkan oleh Imam Syafi’i dalam Al Umm dan Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah dari Makhul secara mursal. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat hadits no. 1026 pada Shohihul Jami’)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثِنْتَانِ لا تُرَدَّانِ، أَوْ قَالَ: مَا تُرَدَّانِ، الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ، وَعِنْدَ الْبَأْسِ، حِينَ يَلْتَحِمَ بَعْضُهُ بَعْضًا وَفِي رِوَايَة : ” وَتَحْتَ المَطَر ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua orang yang tidak ditolak do’anya adalah: [1] ketika adzan dan [2] ketika rapatnya barisan pada saat perang.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Dan ketika hujan turun.” (HR. Abu Daud dan Ad Darimi, namun Ad Darimi tidak menyebut, “Dan ketika hujan turun.” Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mensyukuri Nikmat Turunnya Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Allah memberi nikmat dengan diturunkannya hujan, dianjurkan bagi seorang muslim untuk membaca do’a,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan ketika melihat hujan turun. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala melihat hujan turun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan ‘Allahumma shoyyiban nafi’an’. (HR. Bukhari, Ahmad, dan An Nasai). Yang dimaksud shoyyiban adalah hujan. (Lihat Al Jami’ Liahkamish Sholah, 3/113, Maktabah Syamilah dan Zaadul Ma’ad, I/439, Maktabah Syamilah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Terjadi Hujan Lebat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian tatkala hujan turun begitu lebatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR. Bukhari no. 1013 dan 1014). Oleh karena itu, saat turun hujan lebat sehingga ditakutkan membahayakan manusia, dianjurkan untuk membaca do’a di atas. (Lihat Al Jami’ Liahkamish Sholah, 3/114, Maktabah Syamilah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil Berkah dari Air Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kehujanan. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, ‘Ya Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena dia baru saja Allah ciptakan.” (HR. Muslim no. 2120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi dalam Syarh Muslim, 6/195, makna hadits ini adalah bahwasanya hujan itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah ta’ala, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut. Kemudian An Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dalil bagi ulama syafi’iyyah tentang dianjurkannya menyingkap sebagian badan (selain aurat) pada awal turunnya hujan, agar terguyur air hujan tersebut. Dan mereka juga berdalil bahwa seseorang yang tidak memiliki keutamaan, apabila melihat orang yang lebih mulia melakukan sesuatu yang dia tidak ketahui, hendaknya dia menanyakan untuk diajari lalu dia mengamalkannya dan mengajarkannya pada yang lain.” (Lihat Syarh Nawawi ‘ala Muslim, 6/195, Maktabah Syamilah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dianjurkan Berwudhu dari Air Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dianjurkan untuk berwudhu dari air hujan apabila airnya mengalir deras (Lihat Al Mughni, 4/343, Maktabah Syamilah). Dari Yazid bin Al Hadi, apabila air yang deras mengalir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اُخْرُجُوا بِنَا إلَى هَذَا الَّذِي جَعَلَهُ اللَّهُ طَهُورًا ، فَنَتَطَهَّرَمِنْهُ وَنَحْمَدَ اللّهَ عَلَيْهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci.” Kemudian kami bersuci dengan air tersebut dan memuji Allah atas nikmat ini.” (Lihat Zaadul Ma’ad, I/439, Maktabah Syamilah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hadits di atas munqothi’ (terputus sanadnya) sebagaimana dikatakan oleh Al Baihaqi (Lihat Irwa’ul Gholil). Hadits yang serupa adalah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ يَقُوْلُ إِذَا سَالَ الوَادِي ” أُخْرُجُوْا بِنَا إِلَى هَذَا الَّذِي جَعَلَهُ اللهُ طَهُوْرًا فَنَتَطَهَّرُ بِهِ ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila air mengalir di lembah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,’Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci’, kemudian kami bersuci dengannya.” (HR. Muslim, Abu Daud, Al Baihaqi, dan Ahmad. Lihat Irwa’ul Gholil)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a Setelah Turunnya Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Zaid bin Kholid Al Juhani, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jama’ah shalat, lalu mengatakan, “Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?” Kemudian mereka mengatakan, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ‘Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” (HR. Muslim no. 240)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits ini terdapat dalil untuk mengucapkan ‘Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ setelah turun hujan sebagai tanda syukur atas nikmat hujan yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Tidak boleh bagi seseorang menyandarkan turunnya hujan karena sebab bintang-bintang. Hal ini bisa termasuk kufur akbar yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam, jika meyakini bahwa bintang tersebut adalah yang menciptakan hujan. Namun kalau menganggap bintang tersebut hanya sebagai sebab, maka seperti ini termasuk kufur ashgor (kufur yang tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam). Ingatlah bahwa bintang tidak memberikan pengaruh terjadinya hujan. Bintang hanya sekedar waktu semata.” (Kutub wa Rosa’il Lil ‘Utsaimin, 170/20, Maktabah Syamilah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah Mencela Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sangat disayangkan sekali, setiap orang sudah mengetahui bahwa hujan merupakan kenikmatan dari Allah ta’ala. Namun, ketika hujan dirasa mengganggu aktivitasnya, timbullah kata-kata celaan dari seorang muslim seperti ‘Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’. Sungguh, kata-kata seperti ini tidak ada manfaatnya sama sekali, dan tentu saja akan masuk dalam catatan amal yang jelek karena Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50]: 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kata-kata seperti ini bisa termasuk kesyirikan sebagaimana seseorang mencela makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa seperti masa (waktu). Hal ini dapat dilihat pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.’ “ (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan makhluk lain yang tidak dapat berbuat apa-apa, termasuk juga hujan adalah terlarang. Larangan ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari sesuatu yang jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini hukumnya haram, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan, ‘Hari ini hujan deras, sehingga kita tidak bisa berangkat ke masjid untuk shalat’-, tanpa ada tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa. (Lihat Mutiara Faedah Kitab Tauhid, 227-231)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah hal ini! Semoga Allah selalu menjaga kita, agar lisan ini banyak bersyukur kepada-Nya atas karunia hujan ini, dan semoga Allah melindungi kita dari banyak mencela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGENAI GUNTUR/PETIR DAN KILAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ar Ra’du (petir) adalah suara yang didengar dari awan. Sedangkan Ash Showa’iq (kilat) adalah api (cahaya) yang muncul dari langit bersamaan dengan suara petir yang keras. (Rosysyul Barod, 381, Darud Da’i Linnashri wat Tawzii’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dalam hadits marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) pada riwayat At Tirmidzi dan selainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang petir, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ مَعَهُ مخاريق مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Petir adalah malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya pengoyak dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika Ali ditanya, sebagaimana dikatakan Al Khoroithi dalam Makarimil Akhlaq. Beliau radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Petir adalah malaikat, dan suaranya itu adalah pengoyak di tangannya.” Dan dalam riwayat lain dari Ali juga, “Suaranya itu adalah pengoyak dari besi di tangannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan lagi, “Ar ro’du adalah mashdar (kata kerja yang dibendakan) berasal dari kata ro’ada, yar’udu, ro’dan (yang berarti gemuruh, pen). … Namanya gerakan pasti menimbulkan suara. Malaikat adalah yang menggerakkan (menggetarkan) awan, lalu memindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan setiap gerakan di alam ini baik yang di atas (langit, pen) maupun di bawah (bumi, pen) adalah dari malaikat. Suara manusia dihasilkan dari gerakan bibir, lisan, gigi, lidah, dan dan tenggorokan. Dari situ, manusia bisa bertasbih kepada Rabbnya, bisa mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Oleh karena itu, guntur adalah suara yang membentak awan. Dan kilat adalah kilauan air atau kilauan cahaya… “ (Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, 24/263-264)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menafsirkan surat al Baqarah ayat 19, As Suyuthi mengatakan bahwa petir (Ar Ra’du) adalah malaikat yang ditugasi mengatur awan. Ada juga yang berpendapat bahwa petir adalah suara malaikat. Sedangkan kilat (barq) adalah kilatan cahaya dari cambuk malaikat tersebut untuk menggiring mendung (Tafsir Jalalain dengan Hasyiyah ash Showi 1/31, ed).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a Ketika Mendengar Petir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Ikrimah mengatakan bahwasanya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tatkala mendengar suara petir, beliau mengucapkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سُبْحَانَ الَّذِي سَبَّحَتْ لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Subhanalladzi sabbahat lahu’ (Maha suci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya). Lalu beliau mengatakan, “Sesungguhnya petir adalah malaikat yang meneriaki (membentak) untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya.” (Lihat Adabul Mufrod no. 722, dihasankan oleh Syaikh Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Abdullah bin Az Zubair mendengar petir, dia menghentikan pembicaraan, kemudian mengucapkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Subhanalladzi yusabbihur ro’du bihamdihi wal malaikatu min khiifatih’ (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ هَذَا لَوَعِيْدٌ شَدِيْدٌ لِأَهْلِ الأَرْضِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah ancaman yang sangat keras untuk penduduk suatu negeri.” (Lihat Adabul Mufrod no. 723, dishohihkan oleh Syaikh Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip dari : Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusun: Abu Isma’il Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-4447054326410570520?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/4447054326410570520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/11/musim-hujan-tlah-tiba-berikut-adab-adab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/4447054326410570520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/4447054326410570520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/11/musim-hujan-tlah-tiba-berikut-adab-adab.html' title='Musim Hujan T&apos;lah Tiba. Berikut Adab-adab Ketika Turun Hujan...................'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-1244873099515885882</id><published>2009-11-09T23:36:00.000-08:00</published><updated>2009-11-09T23:45:02.529-08:00</updated><title type='text'>DZULHIJJAH, tamu kita setelah ramadhan</title><content type='html'>Ramadhan, beberapa saat yang lalu telah meninggalkan kita. Dengan berpisahnya kita dengan bulan Ramadhan, kita berharap semoga amal-amal kita pada bulan-bulan lain diterima di sisi Allah Ta’ala, sebagaimana yang sangat kita harapkan di bulan mulia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya kita tidak ingin kehilangan begitu saja sesuatu yang nilainya sangat utama dan mulia di sisi Allah Ta’ala bukan ? Ketahuilah, kita tidak boleh berkecil hati dengan berlalunya bulan mulia tersebut. Sebagai hamba Allah Ta’ala yang taat, kita tidak henti-hentinya berupaya untuk tetap beriman akan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita harus selalu berharap akan kebaikan-kebaikan Allah Ta’ala yang dilimpahkan atas kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Allah Ta’ala melalui utusanNya Shalallahu ‘alaihi wassalam, telah menjanjikan bulan lain yang tidak kalah utamanya dibanding dengan keutamaan bulan Ramadhan. Mengapa demikian ?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lain, karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda (yang artinya): “Dua bulan untuk berhari raya tidak berkurang keduanya, Ramadhan dan Dzulhijjah.” (HR Muslim 1089).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun keutamaan bulan Dzulhijjah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, teladan kita yang mulia telah bersabda (yang artinya): “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari (dari bulan Dzulhijjah). Mereka bertanya : “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatupun.” (HR Jama’ah kecuali Muslim dan an Nasa’i).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan adanya keutamaan yang besar dari beberapa hari diantara bulan Dzulhijjah tersebut, maka sangat utama pula kita mengisinya dengan amal sholih sebagai kelanjutan tabungan pahala amal ibadah kita di bulan Ramadhan yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara amal-amal yang perlu kita lakukan, cukuplah sekiranya hal itu membuat kita dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, antara lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Banyak berdzikir pada hari-hari tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya): “Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang ditentukan.” (Al Hajj 28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah, demikian pula para mufassir lainnya diantaranya Ibnu Katsir rahimahullah. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya): “Tidak ada hari yang amal sholih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah dari hari-hari yang sepuluh ini.” (HR Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ishaq dari kalangan Tabi’ut Tabi’in, meriwayatkan dari salah seorang gurunya bahwa pada hari-hari tersebut dituntunkan mengucapkan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallahu wallahu akbaru, Allahu akbar walillahil hamdu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang benar selain Allah, Allahu Maha Besar, Allah Maha Besar dan untuk Allah-lah segala pujian. (HR Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Mas’ud 2/168, Shohih, Al Albani dalam Tamamul Minnah cet. Darur Rayyah hal 356).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para shahabat radliyallahu ‘anhum pun diantaranya Ibnu Umar dan Abu Hurairah biasa keluar menuju pasar pada sepuluh hari tersebut sambil membaca takbir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’id Ibn Zubair radliyallahu ‘anhu kalau sudah tiba sepuluh hari tersebut, ia benar-benar giat beramal sehingga hampir-hampir ia tidak kuasa untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berpuasa pada hari tersebut, khususnya pada hari Arafah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dituntunkan oleh teladan kita yang mulia, Rasullah Shalallahu ‘alaihi wassalam agar kita berpuasa pada hari Arafah, karena Allah Ta’ala melalui beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam telah menjanjikan (yang artinya): “Berpuasa pada hari Arafah (karena mengharap pahala dari Allah) melebur dosa-dosa selama dua tahun, tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya.” (HR Muslim, Ahmad dan Abu Dawud dari Qatadah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mengetahui pula bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, karena hal ini khusus dipilih Allah Ta’ala untuk diriNya sendiri, sebagimana firman-Nya dalam hadits qudsi (yang artinya): “Semua amalan manusia untuk dirinya kecuali puasa, maka dia adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.” (HR Muslim, Ahmad dan An Nasa’i).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain (yang artinya): “Sungguh dia telah meninggalkan makanan dan minumannya, serta nafsu syahwatnya demi untuk-Ku. Puasa itu adalah untuk-Ku. Akulah yang akan membalasnya, sedang kebajikan akan mendapatkan balasan sepuluh kali lipat.” (HR Bukhari dan Abu Dawud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan simaklah janji Allah Ta’ala yang lain melalui RasulNya Shalallahu ‘alaihi wassalam dari Abi Sa’id Al Khudri radiyallahu ‘anhu (yang artinya): “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun.” (HR Jama’ah kecuali Abu Dawud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Banyak bertaubat dan menjauhi maksiat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang gembira atas taubat seorang hambaNya, melebihi dari sesuatu apapun, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam (yang artinya): “Dari Barra’ bin ‘Adzib radiyallahu ‘anhu ia berkata, bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : “Bagaimana pendapatmu dengan gembiranya seorang laki-laki yang tunggangannya lepas kendali darinya menuju tanah gersang dan tandus, padahal tidak ada padanya makanan dan minuman, sedang makanan dan minumannya di atas tunggangannya, maka dia mencarinya sampai melelahkannya, lalu tunggangannya lewat di sekitar pohon, maka dia mengikat tali kekangnya dan dia mendapatkan kembali tunggangannya telah terikat.” Kami berkata : “Sungguh (sangat gembira) wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda : “Adapun demi Allah, Allah sungguh sangat gembira dengan taubat seorang hambaNya daripada laki-laki tersebut dengan tunggangannya.” (HR Muslim dalam kitab At Taubah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula Allah sangat cemburu manakala hambaNya berbuat maksiat. Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya Allah itu cemburu. Dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba mendatangi apa yang diharamkan Allah terhadapnya.” (Muttafaqun ‘alahi – Hadits shahih Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mengisi dan memperbanyak amalan sunnah setelah apa-apa yang diwajibkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, cobalah simak janji Allah yang disabdakan melalui RasulNya Shalallahu ‘alaihi wassalam dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu (yang artinya): “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman : Barangsiapa yang memusuhi waliku (orang yang Allah cintai) maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hambaKu mendekatkan dirinya kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang Aku wajibkan/fardhukan atasnya. Dan senantiasa hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, jadilah Aku sebagai pendengaranNya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk bekerja keras, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta kepadaKu, pasti Aku memberinya dan jika ia meminta perlindungan kepadaKu, pasti Aku melindunginya.” (HR Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah beberapa janji Allah dan RasulNya Shalallahu ‘alaihi wassalam. Karena itu, mari kita isi hari-hari dari bulan Dzulhijjah ini dengan amalan ibadah yang membuat kita dicintai Allah Ta’ala. Wallahu Ta’ala A’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintu Hasyim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.salafy.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-1244873099515885882?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/1244873099515885882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/11/dzulhijjah-tamu-kita-setelah-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/1244873099515885882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/1244873099515885882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/11/dzulhijjah-tamu-kita-setelah-ramadhan.html' title='DZULHIJJAH, tamu kita setelah ramadhan'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-5440688743070714346</id><published>2009-11-09T15:59:00.000-08:00</published><updated>2009-11-09T16:02:39.187-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>UNTUKMU YANG BERJIWA HANIF</title><content type='html'>Sungguh hidayah menuju Islam yang hakiki itu merupakan kenikmatan yang terbesar dalam kehidupan manusia, karena ia adalah kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat. Orang-orang terdahulu telah mengorbankan semua yang ada pada diri mereka untuk meraihnya. Jalan itu pula kiranya yang ditempuh oleh para nabi dan rasul dalam mendakwahkan kalimat tauhid untuk mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. HAKIKAT KEHIDUPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia sepakat dengan tujuan hidup, yaitu mencari dan menggapai kebahagian. Semua manusia ingin hidup bahagia, hanya saja kebanyakan manusia salah dalam mencari jalan kebahagiaan, banyak yang memilih sebuah jalan hidup yang ia sangka disana ada pantai kebahagian, padahal ia adalah jurang kebinasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang menyangka kebahagian itu ada pada harta, karenanya ia berletih-letih dan berpeluh mencari sumber-sumber harta. Setelah ia memperoleh harta tersebut, hatinya tetap gundah dan perasaan selalu gelisah, dalam harta yang banyak itu terdapat jiwa yang rapuh. Banyak pula yang menyangka bahwa pangkat dan kekuasaan itu adalah kebahagian, tetapi setelah pangkat dan kekuasaan diperoleh kebahagiaan semakin jauh darinya, yang terdengar hanya keluh kesahnya. Jadi apa kebahagiaan yang sesungguhnya? Apa kebahagian sejati yang harus dicari oleh manusia? Siapa sebenarnya orang yang bahagia? Apa sarana untuk mencapainya?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tentu yang paling mengenal tentang seluk-beluk manusia, termasuk tentang sebab bahagia atau sengsara adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala bukan manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui". (QS. Al-Muluk: 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Al-Quran ditadaburi dan syariat Islam dikaji, maka kebahagiaan yang hakiki adalah mengaplikasikan penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Orang yang bahagia adalah orang yang telah berhasil menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sarana kebahagiaan adalah semua sarana yang telah disediakan oleh-Nya dalam meniti jalan penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala . Karena penghambaan diri inilah sebab diciptakannya manusia dan jin. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada Ku". (QS. Adz-Dzaaryiat: 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berpaling dari penghambaan diri, dialah orang yang sengsara, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta'. (QS. Thaha: 124)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menentukan taqdir semua makhluk dan tidak ada yang dapat merubah taqdir selain-Nya. Manusia yang berakal tentu akan bernaung kepada Dzat yang mampu mentaqdirkan segala sesuatu, ia akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam menyandarkan diri dan kepasrahan kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beban Amanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan manusia untuk sebuah tujuan yang mulia, yang akan memikul amanah yang sangat berat. Pantas saja tidak ada yang mau memikul amanah tersebut dari langit yang tinggi, gunung yang menjulang atau bumi yang terbentang, semuanya menyatakan enggan kecuali manusia. Allah menceritakan tentang perihal tersebut,&lt;br /&gt;"Sesungguhnya telah kami sampaikan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zholim dan amat bodoh". (QS. Al-Ahzab: 72)&lt;br /&gt;Apa gerangan amanah yang telah diikrarkan itu? Amanah itu adalah Islam dan peraturannya, yaitu janji kepatuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahsanu ‘Amala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran menyebutkan bahwa penciptaan alam, hidup dan mati untuk menguji manusia, siapa yang lebih baik amalnya. Itulah yang disebut dengan "Ahsanu ‘amala". Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya kami menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah yang terbaik perbuatannya". (QS. Al-Kahfi: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fudhail bin ‘Iyadh radhiyallahu ‘anhu berkata "Ahsanu ‘amala, adalah amalan yang paling ikhlas dan yang paling benar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi penghambaan diri yang paling sempurna dengan 2 syarat, yaitu hendaklah ‘ubudiyah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dan sesuai dengan syari'at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. GERBANG HIDAYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitrah Bekal Kebenaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap jiwa manusia diberi fitrah sebagai bekal untuk mencari kebenaran. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala tahu manusia itu lemah dan membutuhkan Khaliq-nya. Fitrah itu adalah Islam, yaitu penyerahan diri kepada Dzat Yang Maha Kuasa, perasaan kerinduan terhadap kebenaran dan keinginan yang mendalam untuk menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menjauhi larangannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(Berpegang teguhlah dengan) fitrah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah dirakit manusia dengannya, tidak ada perubahan pada penciptaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Itulah agama yang lurus". (QS. Ar-Rum: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muara Kebenaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua aktivitas badan yang lahir, perbuatan baik dan buruk, dikuasai oleh satu komando, yaitu hati. Ia bagaikan raja yang berkuasa mutlak terhadap bala tentaranya, semua tindakan harus dibawah perintah dan larangannya, ia pergunakan sekehendaknya dan ia suruh semaunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;"Ketahuilah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh tubuh, jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah dia adalah hati. (HR Bukhari 1/126 no.52, Muslim 11/57 no. 1599 dari Nu'man bin Basyir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang bisa meraih hidayah Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah hati yang masih dalam kategori hidup dan hati yang masih memiliki cahaya sekalipun redup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunjuki Aku Jalan yang Lurus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihdinashshirotholmustaqim,Shirotholladzina an'amta'alaihim.... tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat..., Begitu pentingnya hidayah, sehingga seorang hamba memohon minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam. Ketika hidayah jauh dari seorang, berarti kebinasaan dan kesengsaraanlah yang akan segera menimpanya. Hajat seorang hamba kepada hidayah seperti hajat badan terhadap udara, ia sangat membutuhkan sejumlah hidayah-nafas yang keluar masuk tubuhnya. Sebagaimana tubuh membutuhkan makan dan minum, hati juga membutuhkan hidayah sebagai makanan dan minumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad rahimahullah berkata, "Kebutuhan seorang hamba pada hidayah, melebihi kebutuhannya dari makan dan minum, kalau makan dan minum hanya dibutuhkan satu dua kali saja, sedangkan hidayah dibutuhkan sejumlah nafas". (Miftah Darus sa'adah, 1/61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah Lentera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang merasakan manisnya hidayah dan lezatnya iman dialah orang yang punya motivasi dalam hidup dan bertabiat tidak pernah puas pada sesuatu, ia tidak puas kalau dirinya saja yang merengkuh kenikmatan dan merasakan kebahagiaan. Ia bagaikan lentera yang memberi penerangan buat dirinya sebagaimana ia menerangi yang lainnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;"Dan apakah orang yang telah mati (hatinya) kemudian Kami hidupkan kembali dan Kami anugerahkan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya dalam gelap gulita yang sekali-kali ia tidak dapat keluar darinya...". (QS. Al-An'am: 122)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menuju Cara Beragama yang Benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah seseorang dihantarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ke gerbang hidayah, yaitu "Islam" yakni keinginan untuk mencari kebenaran melalui ilmu dan iman serta usaha dan amal, berarti ia telah mendapatkan setengah kebahagiaan. Akan tetapi, tidak cukup sampai disana, ia menghendaki hidayah kedua dari Allah Subhanahu wa Ta'ala . yaitu, taufiq Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kebenaran pada semua tindakannya. Itulah yang disebut Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Quran;&lt;br /&gt;"Dan orang yang berjuang di jalan kami, akan kami beri kepada mereka hidayah jalan-jalan kami...". (QS. Al-Ankabut : 69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berkata, "kami beri mereka taufiq untuk mendapatkan sarana yang benar menuju jalan yang lurus, jalan itu yang mengantarkan mereka kepada ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala". (Tafsir Baghawi, 404)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggapai hidayah yang kedua ini seorang muslim harus memiliki sifat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjiwa Hanif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berjiwa hanif yaitu orang yang condong kepada kebenaran, berkepribadian yang lurus dan istiqomah. Agama hanif yaitu agama yang jauh dari kesyirikan dan penyembahan berhala, dengan berkhitan dan melakukan manasik haji. (Qamus Muhith, 2/370)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidaklah Ibrahim itu seorang Yahudi atau Nasrani, akan tetapi ia adalah seorang yang hanif lagi muslim, dan dia bukan dari orang musyrik. (QS. Ali ‘Imran : 67 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah berkata: jauh dari syirik dan condong kepada iman". (Tafsir Ibnu Katsir, 2/58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berserah Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyerahan diri dalam syari'at adalah "Islam", atau " taslim", yaitu tunduk, patuh dan menyerahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta tidak ada perlawanan, penolakan dan keraguan dalam melaksanakan perintah-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki Motivasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang memperoleh hidayah mempunyai kemauan yang kuat dan motivasi yang tinggi, karena yang dicarinya adalah surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Jika orang yang mencari dunia memerlukan semangat dan motivasi, maka selayaknya orang yang mencari akhirat akan memiliki semangat dan motivasi yang lebih besar untuk meraihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar dan Yakin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar dan yakin sebagai syarat kebahagiaan hamba di dunia dan di akhirat, ketika dua hal ini telah diperoleh hamba, berarti ia telah menjadi insan kamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata; "Dengan sabar dan yakin akan diperoleh kepemimpinan dalam din"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahyudin Ibnu Rusli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji'&lt;br /&gt;* "Untukmu yang Berjiwa Hanif". Karya Ustadz Armen Halim Naro, Lc. Pustaka Darul Ilmi. Bogor.&lt;br /&gt;* MP3 Bedah Buku "Untukmu yang Berjiwa Hanif" pada Acara Daurah Ilmiyah Islam III di Mesjid Jabal Rahmah Semen Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diringkas dari : http://dareliman.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-5440688743070714346?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/5440688743070714346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/11/untukmu-yang-berjiwa-hanif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/5440688743070714346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/5440688743070714346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/11/untukmu-yang-berjiwa-hanif.html' title='UNTUKMU YANG BERJIWA HANIF'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-7182149488879211187</id><published>2009-11-02T15:15:00.000-08:00</published><updated>2009-11-02T15:39:05.466-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>MENGINGAT MATI</title><content type='html'>Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya. Karena Ar-Rahman telah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yang shalih atau durhaka, seorang yang turun ke medan perang ataupun duduk diam di rumahnya, seorang yang menginginkan negeri akhirat yang kekal ataupun ingin dunia yang fana, seorang yang bersemangat meraih kebaikan ataupun yang lalai dan malas-malasan. Semuanya akan menemui kematian bila telah sampai ajalnya, karena memang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seluruh yang ada di atas bumi ini fana (tidak kekal).” (Ar-Rahman: 26)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat mati akan melembutkan hati dan menghancurkan ketamakan terhadap dunia. Karenanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan hasungan untuk banyak mengingatnya. Beliau bersabda dalam hadits yang disampaikan lewat shahabatnya yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata tentang hadits ini, “Hasan shahih.”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits di atas ada beberapa faedah:&lt;br /&gt;- Disunnahkannya setiap muslim yang sehat ataupun yang sedang sakit untuk mengingat mati dengan hati dan lisannya, serta memperbanyak mengingatnya hingga seakan-akan kematian di depan matanya. Karena dengannya akan menghalangi dan menghentikan seseorang dari berbuat maksiat serta dapat mendorong untuk beramal ketaatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mengingat mati di kala dalam kesempitan akan melapangkan hati seorang hamba. Sebaliknya, ketika dalam kesenangan hidup, ia tidak akan lupa diri dan mabuk kepayang. Dengan begitu ia selalu dalam keadaan bersiap untuk “pergi.” (Bahjatun Nazhirin, 1/634)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah ucapan yang singkat dan ringkas, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (kematian).” Namun padanya terkumpul peringatan dan sangat mengena sebagai nasihat, karena orang yang benar-benar mengingat mati akan merasa tiada berartinya kelezatan dunia yang sedang dihadapinya, sehingga menghalanginya untuk berangan-angan meraih dunia di masa mendatang. Sebaliknya, ia akan bersikap zuhud terhadap dunia. Namun bagi jiwa-jiwa yang keruh dan hati-hati yang lalai, perlu mendapatkan nasihat panjang lebar dan kata-kata yang panjang, walaupun sebenarnya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disertai firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati,” sudah mencukupi bagi orang yang mendengar dan melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah bagusnya ucapan orang yang berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اذْكُرِ الْمَوْتَ تَجِدُ رَاحَةً، فِي إِذْكَارِ الْمَوْتِ تَقْصِيْرُ اْلأَمَلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingatlah mati niscaya kau kan peroleh kelegaan, dengan mengingat mati akan pendeklah angan-angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Yazid Ar-Raqasyi rahimahullahu berkata kepada dirinya sendiri, &lt;br /&gt;“Celaka engkau wahai Yazid! Siapa gerangan yang akan menunaikan shalat untukmu setelah kematianmu? Siapakah yang mempuasakanmu setelah mati? Siapakah yang akan memintakan keridhaan Rabbmu untukmu setelah engkau mati?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia berkata, “Wahai sekalian manusia, tidakkah kalian menangis dan meratapi diri-diri kalian dalam hidup kalian yang masih tersisa? Duhai orang yang kematian mencarinya, yang kuburan akan menjadi rumahnya, yang tanah akan menjadi permadaninya dan yang ulat-ulat akan menjadi temannya… dalam keadaan ia menanti dibangkitkan pada hari kengerian yang besar. Bagaimanakah keadaan orang ini?” Kemudian Yazid menangis hingga jatuh pingsan. (At-Tadzkirah, hal. 8-9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, hanya orang-orang cerdas cendikialah yang banyak mengingat mati dan menyiapkan bekal untuk mati. Shahabat yang mulia, putra dari shahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, &lt;br /&gt;“Ad-Daqqaq berkata, ‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan giat/semangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara: menunda taubat, tidak ridha dengan perasaan cukup dan malas dalam beribadah. Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu, yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak akan merasa sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya. Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan menuntaskan angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan datangnya hari kematianmu dan perpindahanmu dari tempat hidupmu yang sekarang?” (At-Tadzkirah, hal. 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkanlah saat-saat sakaratul maut mendatangimu. Ayah yang penuh cinta berdiri di sisimu. Ibu yang penuh kasih juga hadir. Demikian pula anak-anakmu yang besar maupun yang kecil. Semua ada di sekitarmu. Mereka memandangimu dengan pandangan kasih sayang dan penuh kasihan. Air mata mereka tak henti mengalir membasahi wajah-wajah mereka. Hati mereka pun berselimut duka. Mereka semua berharap dan berangan-angan, andai engkau bisa tetap tinggal bersama mereka. Namun alangkah jauh dan mustahil ada seorang makhluk yang dapat menambah umurmu atau mengembalikan ruhmu. Sesungguhnya Dzat yang memberi kehidupan kepadamu, Dia jugalah yang mencabut kehidupan tersebut. Milik-Nya lah apa yang Dia ambil dan apa yang Dia berikan. Dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata, &lt;br /&gt;“Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat mati melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Dan semua yang ada di atas dunia ini hina baginya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu bila mengingat mati ia gemetar seperti gemetarnya seekor burung. Ia mengumpulkan para ulama, maka mereka saling mengingatkan akan kematian, hari kiamat dan akhirat. Kemudian mereka menangis hingga seakan-akan di hadapan mereka ada jenazah. (At-Tadzkirah, hal. 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya tangis mereka diikuti oleh amal shalih setelahnya, berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersegera kepada kebaikan. Beda halnya dengan keadaan kebanyakan manusia pada hari ini. Mereka yakin adanya surga tapi tidak mau beramal untuk meraihnya. Mereka juga yakin adanya neraka tapi mereka tidak takut. Mereka tahu bahwa mereka akan mati, tapi mereka tidak mempersiapkan bekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat ungkapan penyair:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu aku kan mati namun aku tak takut&lt;br /&gt;Hatiku keras bak sebongkah batu&lt;br /&gt;Aku mencari dunia seakan-akan hidupku kekal&lt;br /&gt;Seakan lupa kematian mengintai di belakang&lt;br /&gt;Padahal, ketika kematian telah datang, tak ada seorangpun yang dapat mengelak dan menundanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya.” (An-Nahl: 61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang ajal/waktunya.” (Al-Munafiqun: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai betapa meruginya seseorang yang berjalan menuju alam keabadian tanpa membawa bekal. Janganlah engkau, wahai jiwa, termasuk yang tak beruntung tersebut. Perhatikanlah peringatan Rabbmu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah setiap jiwa memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan ayat di atas dengan menyatakan, &lt;br /&gt;“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan lihatlah amal shalih apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sebagai bekal di hari kebangkitan dan hari diperhadapkannya kalian kepada Rabb kalian.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1388)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah engkau menjadi orang yang menyesal kala kematian telah datang karena tiada berbekal, lalu engkau berharap penangguhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلاَ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, ‘Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat hingga aku mendapat kesempatan untuk bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’.” (Al-Munafiqun: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, berbekallah! Persiapkan amal shalih dan jauhi kedurhakaan kepada-Nya! Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER http://www.asysyariah.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-7182149488879211187?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/7182149488879211187/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/11/mengingat-mati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/7182149488879211187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/7182149488879211187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/11/mengingat-mati.html' title='MENGINGAT MATI'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-3842970980426330235</id><published>2009-11-01T16:52:00.000-08:00</published><updated>2009-11-01T17:05:41.289-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>TANPA TAUHID, AMAL IBADAH TIDAKLAH BERNILAI</title><content type='html'>Para pembaca yang semoga selalu mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala. Allah menciptakan kita, tidaklah untuk dibiarkan begitu saja. Tidaklah kita diciptakan hanya untuk makan dan minum atau hidup bebas dan gembira semata. Akan tetapi, ada tujuan yang mulia dan penuh hikmah di balik itu semua yaitu melakukan ibadah kepada Sang Maha Pencipta. Ibadah ini bisa diterima hanya dengan adanya tauhid di dalamnya. Jika terdapat noda-noda syirik, maka batallah amal ibadah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid adalah Syarat Diterimanya Ibadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu pembaca sekalian ketahui bahwa ibadah tidak akan diterima kecuali apabila memenuhi 2 syarat : Pertama, memurnikan ibadah kepada Allah semata (tauhid) dan tidak  melakukan kesyirikan. Kedua, mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibadah apapun yang tidak memenuhi salah satu dari kedua syarat ini, maka ibadah tersebut tidak diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan,”Sesungguhnya apabila suatu amalan sudah dilakukan dengan ikhlas, namun tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah maka amalan tersebut tidak diterima. Dan apabila amalan tersebut sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah, namun tidak ikhlas, maka amalan tersebut juga tidak diterima, sampai amalan tersebut ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Jaami’ul Ulum wal Hikam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada permisalan yang sangat bagus mengenai syarat ibadah yang pertama yaitu tauhid. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam risalahnya yang berjudul Al Qawa’idul Arba’. Beliau rahimahullah berkata,”Ketahuilah, sesungguhnya ibadah tidaklah disebut ibadah kecuali dengan tauhid (yaitu memurnikan ibadah kepada Allah semata, pen). Sebagaimana shalat tidaklah disebut shalat kecuali dalam keadaan thaharah (baca: bersuci). Apabila syirik masuk dalam ibadah tadi, maka ibadah itu batal. Sebagaimana hadats masuk dalam thaharah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setiap ibadah yang di dalamnya tidak terdapat tauhid sehingga jatuh kepada syirik, maka amalan seperti itu tidak bernilai selamanya. Oleh karena itu, tidaklah dinamakan ibadah kecuali bersama tauhid. Adapun jika tanpa tauhid sebagaimana seseorang bersedekah, memberi pinjaman utang, berbuat baik kepada manusia atau semacamnya,  namun tidak disertai dengan tauhid (ikhlas mengharap ridha Allah) maka dia telah jatuh dalam firman Allah yang artinya,”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.” (Al Furqon : 23). (Abrazul Fawa’id)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa Tauhid, Amal Ibadah Tidaklah Bernilai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh rahimahullah membuat permisalan yang sangat mudah dipahami dengan permisalan shalat. Tidaklah dinamakan shalat kecuali adanya thaharah yaitu berwudhu. Apabila seseorang tidak dalam keadaan berwudhu lalu melakukan shalat yang banyak, memanjangkan berdiri, ruku’, dan sujudnya, serta memperbagus shalatnya, maka seluruh kaum muslimin sepakat shalatnya tidak sah. Bahkan dia dihukumi telah meninggalkan shalat karena agungnya syarat shalat ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Allah tidak akan menerima shalat seseorang di antara kalian apabila dia berhadats sampai dia berwudhu.”(Muttafaqun ‘alaihi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana shalat dapat batal karena tidak adanya thaharah, maka ibadah juga bisa batal karena tidak adanya tauhid di dalamnya. Namun syarat ikhlas dan tauhid agar ibadah diterima tentu saja jauh berbeda jika dibanding dengan syarat thaharah agar shalat diterima. Apabila seseorang shalat dalam keadaan hadats dengan sengaja, maka terdapat perselisihan pendapat di antara ulama tentang kafirnya orang ini. Akan tetapi, para ulama tidak pernah berselisih pendapat tentang kafirnya orang  yang beribadah pada Allah dengan berbuat syirik kepada-Nya (yaitu syirik akbar) yang dengan ini akan menjadikan tidak ada satu amalnya pun diterima. (Lihat Syarhul Qawa’idil Arba’, Syaikh Sholeh Alu Syaikh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syirik Akbar Akan Menghapus Seluruh Amal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah saudaraku, seseorang bisa dinyatakan terhapus seluruh amalnya (kafir) bukan hanya semata-mata dengan berpindah agama (alias: murtad). Akan tetapi, seseorang bisa saja kafir dengan berbuat syirik yaitu syirik akbar, walaupun dalam kehidupannya dia adalah orang yang rajin melakukan shalat malam. Apabila dia melakukan satu syirik akbar saja, maka dia bisa keluar dari agama ini dan amal-amal kebaikan yang dilakukannya akan terhapus. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al An’am: 88). Apabila dia tidak bertaubat darinya maka diharamkan baginya surga, sebagaimana firman-Nya yang artinya,”Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al Maidah: 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh syirik akbar adalah melakukan tumbal berupa sembelihan kepala kerbau, kemudian di-larung (dilabuhkan) di laut selatan agar laut tersebut tidak ngamuk (yang kata pelaku syirik: tumbal tersebut dipersembahkan kepada penguasa laut selatan yaitu jin Nyi Roro Kidul).  Padahal menyembelih merupakan salah satu aktivitas ibadah karena di dalamnya terkandung unsur ibadah yaitu merendahkan diri dan tunduk patuh. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (Al An’am: 162). Barangsiapa yang memalingkan perkara ibadah yang satu ini kepada selain Allah maka dia telah jatuh dalam perbuatan syirik akbar dan pelakunya keluar dari Islam. (Lihat At Tanbihaat Al Mukhtashot Syarh Al Wajibat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syirik Ashgar Dapat Menghapus Amal Ibadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis syirik yang berada di bawah syirik akbar dan tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam adalah syirik ashgar (syirik kecil). Walaupun dinamakan syirik kecil, akan tetapi tetap saja dosanya lebih besar dari dosa besar seperti berzina dan mencuri. Salah satu contohnya adalah riya’ yaitu memamerkan amal ibadah untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Dosa ini yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat khawatirkan akan menimpa para sahabat dan umatnya. Pada kenyataannya banyak manusia yang terjerumus di dalam dosa syirik yang satu ini. Banyak orang yang mengerjakan shalat dan membaca Al Qur’an ingin dipuji dengan memperlihatkan ibadah yang mulia ini kepada orang lain. Tatkala orang lain melihatnya, dia memperpanjang ruku’ dan sujudnya dan dia memperbagus bacaannya dan menangis dengan dibuat-buat. Semua ini dilakukan agar mendapat pujian dari orang lain, agar dianggap sebagai ahli ibadah dan Qori’ (mahir membaca Al Qur’an).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, waspadalah terhadap jerat setan yang dapat membatalkan amal ibadahmu ini!! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Allah berfirman: Aku itu paling tidak butuh sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan lantas dia mencampurinya dengan berbuat syirik di dalamnya dengan selain-Ku, maka Aku akan tinggalkan dia bersama amal syiriknya itu.” (HR. Muslim). Apabila ibadah yang dilakukan murni karena riya’, maka amal tersebut batal. Namun apabila riya’ tiba-tiba muncul di pertengahan ibadah lalu pelakunya berusaha keras untuk menghilangkannya, maka hal ini tidaklah membatalkan ibadahnya. Namun apabila riya’ tersebut tidak dihilangkan, malah dinikmati, maka hal ini dapat membatalkan amal ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, bersikaplah sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam -kekasih Allah yang bersih tauhidnya dari perbuatan syirik-. Beliau masih berdo’a kepada Allah :”Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim: 35). Jika beliau yang sempurna tauhidnya saja masih takut terhadap syirik, tentu kita semua yang miskin ilmu dan iman tidak boleh merasa aman darinya.  Ibrahim At Taimi berkata: ”Dan siapakah yang lebih merasa aman tertimpa bala’ (yaitu syirik) setelah Nabi Ibrahim.” Tidaklah seseorang merasa aman dari syirik kecuali dia adalah orang yang paling bodoh tentang syirik. (Fathul Majid)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedang kami mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu atas sesuatu yang kami tidak mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-3842970980426330235?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/3842970980426330235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/11/tanpa-tauhid-amal-ibadah-tidaklah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/3842970980426330235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/3842970980426330235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/11/tanpa-tauhid-amal-ibadah-tidaklah.html' title='TANPA TAUHID, AMAL IBADAH TIDAKLAH BERNILAI'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-894754681664638167</id><published>2009-11-01T15:25:00.000-08:00</published><updated>2009-11-01T16:28:10.340-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>PERJALANAN MENUJU AKHERAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/Su4nkozbiFI/AAAAAAAAAVM/irM80ERpgA0/s1600-h/12765_1100359883874_1672999080_192434_2121465_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 295px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/Su4nkozbiFI/AAAAAAAAAVM/irM80ERpgA0/s400/12765_1100359883874_1672999080_192434_2121465_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399296513645709394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Ust. Abdullah Taslim, MA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari akhirat, hari setelah kematian yang wajib diyakini kebenarannya oleh setiap orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan kebenaran agama-Nya. Hari itulah hari pembalasan semua amal perbuatan manusia, hari perhitungan yang sempurna, hari ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi sewaktu di dunia, hari yang pada waktu itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata dengan penuh penyesalan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini" (QS Al Fajr:24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka seharusnya setiap muslim yang mementingkan keselamatan dirinya benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari yang kekal abadi ini. Karena pada hakikatnya, hari inilah masa depan dan hari esok manusia yang sesungguhnya, yang kedatangan hari tersebut sangat cepat seiring dengan cepat berlalunya usia manusia. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS Al Hasyr:18).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menafsirkan ayat di atas Imam Qotadah([1]) berkata: "Senantiasa tuhanmu (Allah) mendekatkan (waktu terjadinya) hari kiamat, sampai-sampai Dia menjadikannya seperti besok"([2]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah Ta’ala meridhai sahabat yang mulia Umar bin Khattab t yang mengingatkan hal ini dalam ucapannya yang terkenal: "Hisablah (introspeksilah) dirimu (saat ini) sebelum kamu dihisab (diperiksa/dihitung amal perbuatanmu pada hari kiamat), dan timbanglah dirimu (saat ini) sebelum (amal perbuatan)mu ditimbang (pada hari kiamat), karena sesungguhnya akan mudah bagimu (menghadapi) hisab besok (hari kiamat) jika kamu (selalu) mengintrospeksi dirimu saat ini, dan hiasilah dirimu (dengan amal shaleh) untuk menghadapi (hari) yang besar (ketika manusia) dihadapkan (kepada Allah Ta’ala):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Allah), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya)" (QS Al Haaqqah:18)([3]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Senada dengan ucapan di atas sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib t berkata: "Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan (kita) sedangkan akhirat telah datang di hadapan (kita), dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini (waktunya) beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok (di akhirat) adalah (saat) perhitungan dan tidak ada (waktu lagi untuk) beramal"([4]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadilah kamu di dunia seperti orang asing…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia tempat persinggahan sementara dan sebagai ladang akhirat tempat kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri yang kekal abadi itu. Barangsiapa yang mengumpulkan bekal yang cukup maka dengan izin Allah dia akan sampai ke tujuan dengan selamat, dan barang siapa yang bekalnya kurang maka dikhawatirkan dia tidak akan sampai ke tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam mengajarkan kepada kita sikap yang benar dalam kehidupan di dunia dalam sabda beliau r: "Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan"([5]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini merupakan bimbingan bagi orang yang beriman tentang bagaimana seharusnya dia menempatkan dirinya dalam kehidupan di dunia. Karena orang asing (perantau) atau orang yang sedang melakukan perjalanan adalah orang yang hanya tinggal sementara dan tidak terikat hatinya kepada tempat persinggahannya, serta terus merindukan untuk kembali ke kampung halamannya. Demikianlah keadaan seorang mukmin di dunia yang hatinya selalu terikat dan rindu untu kembali ke kampung halamannya yang sebenarnya, yaitu surga tempat tinggal pertama kedua orang tua kita, Adam u dan istrinya Hawa, sebelum mereka berdua diturunkan ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah nasehat tertulis yang disampaikan Imam Hasan Al Bashri kepada Imam Umar bin Abdul Azizi, beliau berkata: "…Sesungguhnya dunia adalah negeri perantauan dan bukan tempat tinggal (yang sebenarnya), dan hanyalah Adam diturunkan ke dunia ini untuk menerima hukuman (akibat perbuatan dosanya)…"([6]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengungkapkan makna ini Ibnul Qayyim berkata dalam bait syairnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah (kita menuju) surga 'adn (tempat menetap) karena sesungguhnya itulah&lt;br /&gt;Tempat tinggal kita yang pertama, yang di dalamnya terdapat kemah (yang indah)&lt;br /&gt;Akan tetapi kita (sekarang dalam) tawanan musuh (setan), maka apakah kamu melihat&lt;br /&gt;Kita akan (bisa) kembali ke kampung halaman kita dengan selamat?([7])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sikap hidup ini menjadikan seorang mukmin tidak panjang angan-angan dan terlalu muluk dalam menjalani kehidupan dunia, karena "barangsiapa yang hidup di dunia seperti orang asing, maka dia tidak punya keinginan kecuali mempersiapkan bekal yang bermanfaat baginya ketika kembali ke kampung halamannya (akhirat), sehingga dia tidak berambisi dan berlomba bersama orang-orang yang mengejar dunia dalam kemewahan (dunia yang mereka cari), karena keadaanya seperti seorang perantau, sebagaimana dia tidak merasa risau dengan kemiskinan dan rendahnya kedudukannya di kalangan mereka"([8]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Makna inilah yang diisyaratkan oleh sahabat yang meriwayatkan hadits di atas, Abdullah bin Umar t ketika beliau berkata: "Jika kamu (berada) di waktu sore maka janganlah tunggu datangnya waktu pagi, dan jika kamu (berada) di waktu pagi maka janganlah tunggu datangnya waktu sore, serta gunakanlah masa sehatmu (dengan memperbanyak amal shaleh sebelum datang) masa sakitmu, dan masa hidupmu (sebelum) kematian (menjemputmu)" ([9]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Bahkan inilah makna zuhud di dunia yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya: Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)? Beliau berkata: "(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata: Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi"([10]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berbekallah, dan sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaik-baik bekal untuk perjalanan ke akhirat adalah takwa, yang berarti "menjadikan pelindung antara diri seorang hamba dengan siksaan dan kemurkaan Allah yang dikhawatirkan akan menimpanya, yaitu (dengan) melakukan ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat kepada-Nya"([11]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Maka sesuai dengan keadaan seorang hamba di dunia dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan perbuatan maksiat, begitu pula keadaannya di akhirat kelak. Semakin banyak dia berbuat baik di dunia semakin banyak pula kebaikan yang akan di raihnya di akhirat nanti, yang berarti semakin besar pula peluangnya untuk meraih keselamatan dalam perjalanannya menuju surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Inilah diantara makna yang diisyaratkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam dalam sabda beliau: "Setiap orang akan dibangkitkan (pada hari kiamat) sesuai dengan (keadaannya) sewaktu dia meninggal dunia"([12]). Artinya: dia akan mendapatkan balasan pada hari kebangkitan kelak sesuai dengan amal baik atau buruk yang dilakukannya sewaktu di dunia([13]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Landasan utama takwa adalah dua kalimat syahadat: Laa ilaaha illallah dan Muhammadur Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam. Oleh karena itu, sebaik-baik bekal yang perlu dipersiapkan untuk selamat dalam perjalanan besar ini adalah memurnikan tauhid (mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah dan menjauhi perbuatan syirik) yang merupakan inti makna syahadat Laa ilaaha illallah dan menyempurnakan al ittibaa' (mengikuti sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam dan menjauhi perbuatan bid'ah) yang merupakan inti makna syahadat Muhammadur Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Maka dari itu, semua peristiwa besar yang akan dialami manusia pada hari kiamat nanti, Allah akan mudahkan bagi mereka dalam menghadapinya sesuai dengan pemahaman dan pengamalan mereka terhadap dua landasan utama Islam ini sewaktu di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Fitnah (ujian keimanan) dalam kubur yang merupakan peristiwa besar pertama yang akan dialami manusia setelah kematiannya, mereka akan ditanya oleh dua malaikat: Munkar dan Nakir([14]) dengan tiga pertanyaan: Siapa Tuhanmu?, apa agamamu? dan siapa nabimu?([15]). Allah hanya menjanjikan kemudahan dan keteguhan iman ketika mengahadapi ujian besar ini bagi orang-orang yang memahami dan mengamalkan dua landasan Islam ini dengan benar, sehingga mereka akan menjawab: Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam dan Nabiku adalah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam ([16]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki” (QS. Ibrahim:27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Makna ‘ucapan yang teguh’ dalam ayat di atas ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Al Bara’ bin ‘Aazib t, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Seorang muslim ketika ditanya di dalam kubur (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah (Laa Ilaaha Illallah) dan bahwa Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam adalah utusan Allah (Muhammadur Rasulullah), itulah (makna) firman-Nya: {Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat}([17])”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Termasuk peristiwa besar pada hari kiamat, mendatangi telaga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam yang penuh kemuliaan, warna airnya lebih putih daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu, dan baunya lebih harum daripada minyak wangi misk (kesturi), barangsiapa yang meminum darinya sekali saja maka dia tidak akan kehausan selamanya([18]). Dalam hadits yang shahih([19]) juga disebutkan bahwa ada orang-orang yang dihalangi dan diusir dari telaga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam ini. Karena mereka sewaktu di dunia berpaling dari petunjuk dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam kepada pemahaman dan perbuatan bid'ah, sehingga di akhirat mereka dihalangi dari kemuliaan meminum air telaga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam, sebagai balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Imam Ibnu Abdil Barr([20]) berkata: "Semua orang yang melakukan perbuatan bid'ah yang tidak diridhai Allah dalam agama ini akan diusir dari telaga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam (pada hari kiamat nanti), dan yang paling parah di antara mereka adalah orang-orang (ahlul bid'ah) yang menyelisihi (pemahaman) jama'ah kaum muslimin, seperti orang-orang khawarij, syi'ah rafidhah dan para pengikut hawa nafsu, demikian pula orang-orang yang berbuat zhalim yang melampaui batas dalam kezhaliman dan menentang kebenaran, serta orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan, semua mereka ini dikhawatirkan termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini (yang diusir dari telaga Rasulullah r)([21]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Demikian pula termasuk peristiwa besar pada hari kiamat, melintasi ash shiraath (jembatan) yang dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam, di antara surga dan neraka. Dalam hadits yang shahih([22]) disebutkan bahwa keadaan orang yang melintasi jembatan tersebut bermacam-macam sesuai dengan amal perbuatan mereka sewaktu di dunia. "Ada yang melintasinya secepat kerdipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda pacuan yang kencang, ada yang secepat menunggang onta, ada yang berlari, ada yang berjalan, ada yang merangkak, dan ada yang disambar dengan pengait besi kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam"([23]) – na'uudzu billahi min daalik – .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Syaikh Muhammad bin Shaleh Al 'Utsaimin ketika menjelaskan sebab perbedaan keadaan orang-orang yang melintasi jembatan tersebut, beliau berkata: "Ini semua (tentu saja) bukan dengan pilihan masing-masing orang, karena kalau dengan pilihan (sendiri) tentu semua orang ingin melintasinya dengan cepat, akan tetapi (keadaan manusia sewaktu) melintasi (jembatan tersebut) adalah sesuai dengan cepat (atau lambatnya mereka) dalam menerima (dan mengamalkan) syariat Islam di dunia ini; barangsiapa yang bersegera dalam menerima (petunjuk dan sunnah) yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam, maka diapun akan cepat melintasi jembatan tersebut, dan (sebaliknya) barangsiapa yang lambat dalam hal ini, maka diapun akan lambat melintasinya; sebagai balasan yang setimpal, dan balasan (perbuatan manusia) adalah sesuai dengan jenis perbuatannya"([24]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Balasan akhir yang baik (surga) bagi orang-orang yang bertakwa" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, perjalanan manusia akan sampai pada tahapan akhir; surga yang penuh kenikmatan, atau neraka yang penuh dengan siksaan yang pedih. Di sinilah Allah Ta’ala akan memberikan balasan yang sempurna bagi manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{فَأَمَّا مَنْ طَغَى وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى، وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)" (QS  An Naazi'aat:37-41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Maka balasan akhir yang baik hanyalah Allah peruntukkan bagi orang-orang yang bertakwa dan membekali dirinya dengan ketaatan kepada-Nya, serta menjauhi perbuatan yang menyimpang dari agama-Nya. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa" (QS Al Qashash:83).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Syaikh Abdurrahman As Sa'di berkata: "…Jika mereka (orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini) tidak mempunyai keinginan untuk menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, maka konsekwensinya (berarti) keinginan mereka (hanya) tertuju kepada Allah, tujuan mereka (hanya mempersiapkan bekal untuk) negeri akhirat, dan keadan mereka (sewaktu di dunia): selalu merendahkan diri kepada hamba-hamba Allah, serta selalu berpegang kepada kebenaran dan mengerjakan amal shaleh, mereka itulah orang-orang bertakwa yang akan mendapatkan balasan akhir yang baik (surga dari Allah Ta’ala)"([25]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Setelah kita merenungi tahapan-tahapan perjalanan besar ini, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: sudahkah kita mempersiapkan bekal yang cukup supaya selamat dalam perjalanan tersebut? Kalau jawabannya: belum, maka jangan putus asa, masih ada waktu untuk berbenah diri dan memperbaiki segala kekurangan kita – dengan izin Allah Ta’ala – . Caranya, bersegeralah untuk kembali dan bertobat kepada Allah, serta memperbanyak amal shaleh pada sisa umur kita yang masih ada. Dan semua itu akan mudah bagi orang yang Allah berikan taufik dan kemudahan baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Imam Fudhail bin 'Iyaadh([26]) pernah menasehati seseorang lelaki, beliau berkata: "Berapa tahun usiamu (sekarang)"? Lelaki itu menjawab: Enam puluh tahun. Fudhail berkata: "(Berarti) sejak enam puluh tahun (yang lalu) kamu menempuh perjalanan menuju Allah dan (mungkin saja) kamu hampir sampai". Lelaki itu menjawab: Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Maka Fudhail berkata: "Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu berkata: Aku (hamba) milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, barangsiapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya pada hari kiamat nanti), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya) maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya selama di dunia), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya) maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya". Maka lelaki itu bertanya: (Kalau demikian) bagaimana caranya (untuk menyelamatkan diri ketika itu)? Fudhail menjawab: "(Caranya) mudah". Leleki itu bertanya lagi: Apa itu? Fudhail berkata: "Engkau memperbaiki (diri) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (perbuatan dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (perbuatan dosamu) di masa lalu dan pada sisa umurmu"([27]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan doa dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam ([28]) untuk kebaikan agama, dunia dan akhirat kita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penentu (kebaikan) semua urusanku, dan perbaikilah (urusan) duniaku yang merupakan tempat hidupku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serta perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku (selamanya), jadikanlah (masa) hidupku sebagai penambah kebaikan bagiku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan (jadikanlah) kematianku sebagai penghalang bagiku dari semua keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([1]) Beliau adalah Qotadah bin Di'aamah As Saduusi Al Bashri (wafat setelah tahun 110 H), imam besar dari kalangan tabi'in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah r (lihat kitab "Taqriibut tahdziib", hal. 409).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([2]) Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau "Ighaatsatul lahfan" (hal. 152-Mawaaridul amaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([3]) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau "Az Zuhd" (hal. 120), dengan sanad yang hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([4]) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam "Az Zuhd" (hal. 130) dan dinukil oleh Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab beliau "Jaami'ul 'uluumi wal hikam" (hal. 461).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([5]) HSR Al Bukhari (no. 6053).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([6]) Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau "Ighaatsatul lahfaan" (hal. 84 - Mawaaridul amaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([7]) Miftaahu daaris sa'aadah (1/9-10), juga dinukil oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau "Jaami'ul 'uluumi wal hikam" (hal. 462).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([8]) Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab beliau "Jaami'ul 'uluumi wal hikam" (hal. 461), dengan sedikit penyesuaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([9]) Diriwayatkan oleh imam Al Bukhari dalam kitab "Shahihul Bukhari"  (no. 6053).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([10]) Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau "Jaami'ul 'uluumi wal hikam" (hal. 465).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([11]) Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab "Jaami'ul 'uluumi wal hikam" (hal. 196).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([12]) HSR Muslim (no. 2878).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([13]) Lihat penjelasan Al Munaawi dalam kitab beliau "Faidhul qadiir" (6/457).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([14]) Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat At Tirmidzi (no. 1083) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam "Ash Shahiihah" (no. 1391).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([15]) Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih riwayat Ahamad (4/287-288), Abu Dawud (no. 4753) dan Al Hakim (1/37-39), dinyatakan shahih oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([16]) Ibid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([17]) HSR Al Bukhari (no. 4422), hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2871).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([18]) Semua ini disebutkan dalam hadits yang shahih riwayat imam Al Bukhari (no. 6208) dan Muslim (no. 2292). Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang dimudahkan minum darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([19]) Riwayat Imam Al Bukhari (no. 6211) dan Muslim (no. 2304) dari Anas bin Malik t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([20]) Beliau adalah Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Barr An Namari Al Andalusi (wafat 463 H), syaikhul Islam dan imam besar ahlus Sunnah dari wilayah Magrib, penulis banyak kitab hadits dan fikih yang sangat bermanfaat. Biografi beliau dalam kitab "Tadzkiratul huffaazh" (3/1128).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([21]) Kitab "Syarh Az Zarqaani 'ala muwaththa-il imaami Maalik" (1/65).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([22]) Riwayat imam Al Bukhari (no. 7001) dan Muslim (no. 183) dari Abu Sa'id Al Khudri t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([23]) Ucapan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab beliau "Al Aqiidah al waasithiyyah" (hal. 20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([24]) Kitab "Syarhul aqiidatil waasithiyyah" (2/162).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([25]) Taisiirul kariimir Rahmaan fi tafsiiri kalaamil Mannaan (hal. 453).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([26]) Beliau adalah Fudhail bin 'Iyaadh bin Mas'uud At Tamimi (wafat 187 H), seorang imam besar dari dari kalangan atba'ut tabi'in yang sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah r dan seorang ahli ibadah (lihat kitab "Taqriibut tahdziib", hal. 403).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([27]) Dinukil oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab "Jaami'ul 'uluumi wal hikam" (hal. 464).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([28]) Dalam HSR Muslim (no. 2720) dari sahabat Abu Hurairah t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-894754681664638167?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/894754681664638167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/11/perjalanan-menuju-akherat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/894754681664638167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/894754681664638167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/11/perjalanan-menuju-akherat.html' title='PERJALANAN MENUJU AKHERAT'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/Su4nkozbiFI/AAAAAAAAAVM/irM80ERpgA0/s72-c/12765_1100359883874_1672999080_192434_2121465_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-7799016558292631476</id><published>2009-10-30T16:36:00.000-07:00</published><updated>2009-10-30T16:44:34.868-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>Awas Faktor Pemicu Kesyirikan!</title><content type='html'>Setan sebagai musuh utama anak Adam tidak akan henti-hentinya mendakwahkan kesesatan dan menjauhkan manusia dari jalan Alloh sejauh-jauhnya. Alloh berfirman yang artinya, “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6). Maka tidak selayaknya bagi makhluk yang berakal untuk lalai dari makar dan tipu daya mereka seperti bisikan, was-was, godaan, kerancuan dan menampakkan kebatilan dalam bentuk kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus Penyesatan Iblis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahwa Iblis telah memasang berbagai jenis perangkap untuk menggiring manusia menuju neraka. Perangkap setan yang paling berbahaya ialah perangkap kesyirikan. Dari jalan inilah manusia di muka bumi ini banyak disesatkan. Alloh berfirman, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (Al Maidah: 72)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa jalan yang akan menuntun seseorang ke dalam lembah kesyirikan. Wal ‘iyadzu billah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlebih-Lebihan Terhadap Orang-Orang Shalih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap ekstrim dengan mengagungkan orang shalih adalah fenomena yang amat lazim kita temui, baik dulu maupun sekarang. Awalnya manusia sejak terusirnya nabi Adam ke bumi adalah masih dalam keadaan Islam. Ibnu Abbas berkata, “Dalam rentang waktu di antara nabi adam dan Nuh itu ada sepuluh generasi. Semuanya masih dalam keadaan islam.” (HR. Hakim) Setelah itu menyebarlah kesyirikan di bumi untuk kali pertamanya dengan sebab sikap ekstrim tersebut. Maka Alloh mengutus Nuh ‘alaihis salam yang menyeru untuk beribadah hanya kepada-Nya dan melarang peribadahan kepada selain-Nya. Tetapi kaum nabi Nuh justru membantahnya. “Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr’.” (Nuh: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah nama-nama orang sholih yang ada pada kaum nabi Nuh ‘alaihis salam. Tatkala mereka meninggal, setan membisikkan kepada kaum ini untuk membuat gambar dan patung orang-orang shalih tersebut pada tempat ibadah mereka kemudian menamainya sesuai nama-nama mereka. Mereka beralasan dengan melihat dan mengenang patung serta gambar tersebut, mereka dapat meningkatkan semangat ibadah kepada Alloh. Dalam fase ini mereka belum menyembahnya, sampai kemudian generasi ini meninggal dan bergantilah generasi selanjutnya serta orang tidak lagi mengenal ilmu tauhid, akhirnya patung-patung tersebut disembah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya setan mengajak untuk bersikap ekstrim terhadap orang-orang shalih dan mengajak untuk beribadadah kepada kubur. Mereka membisikkan ke dalam hati manusia bahwa sesungguhnya membuat bangunan di atas kubur dan beri’tikaf di dekatnya adalah salah satu tanda cinta terhadap para nabi dan orang shalih. Begitupula berdoa di samping kubur itu mustajab (akan terkabul). Setelah itu setan memindah mereka dari tingkatan ini menuju berdoa dan bersumpah kepada Alloh dengan nama penghuni kubur tesebut. Tatkala hal ini tertanam dalam benak mereka, setan menggiring mereka untuk berdoa dan meminta kepada penghuni kubur serta meminta syafaat kepada selain Alloh, mengambil kuburan sebagai berhala atau tempat bergantung, thowaf (mengelilingi) di kuburan, menciuminya dan menyembelih hewan di sisinya. Setelah tahap ini, setan kemudian menggiring mereka menuju tingkat keempat, yaitu menyeru kepada manusia untuk beribadah kepada kubur dan menjadikannya sebagai tempat perayaan. Setelah itu membisikkan pada mereka bahwa siapa saja yang melarang hal-hal di atas, berarti mencela para nabi dan orang shalih yang merupakan orang-orang mulia (Lihat Nurut Tauhid wa Zhulumatus Syirk karya Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthany).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Masjid di Atas Kubur dan Membuat Gambar di Dalamnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mengingatkankan bahaya membangun masjid di atas kubur dan menjadikan kubur sebagai masjid (baca: tempat untuk beribadah), karena ibadah kepada Alloh di dekat kubur orang-orang shalih merupakan hal yang dapat menjerumuskan ke dalam peribadatan kepada mereka. Tatkala Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang gereja yang ada di Habasyah (Ethiopia) yang di dalamnya terdapat gambar-gambar, beliau berkata, “Sesungguhnya mereka itu ketika seorang shalih di kalangan mereka meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburnya, kemudian membuat gambar di dalamnya. Merekalah sejelek-jelek makhluk di sisi Alloh pada hari kiamat.” (HR. Bukhori, Muslim). Bahkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya tatkala di akhir hayatnya. Beliau berkata, “Alloh melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid”. Aisyah berkata, “Beliau memperingatkan dari perbuatan mereka.” (HR. Bukhori, Muslim). Beliau juga bersabda sebelum wafat, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kubur para nabi dan orang shalih sebagai masjid (baca: tempat beribadah), maka sesungguhnya aku melarang kalian dari hal tersebut.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadikan Kubur Sebagai Tempat Beribadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh mengingatkan umatnya agar tidak menjadikan kubur beliau sebagai berhala yang disembah selain Alloh, terlebih lagi apabila kubur itu kubur selain beliau. Beliau berkata, “Ya Alloh janganlah Kau jadikan kuburku sebagi berhala yang disembah. Sungguh besar kemurkaan Alloh terhadap orang yang menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Malik, Abu Nu’aim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan realita kaum muslimin sekarang ini. Mereka lebih senang untuk membaca Al Quran di kuburan, akan tetapi di rumahnya sendiri kosong dari bacaan Al Quran. Bukankah Rosululloh bersabda, “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan…” (HR. Abu Daud, Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerangi Kubur (Memberinya Lentera, Lilin dll) dan Membangun Kubah di Atasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya bahaya menerangi kubur. Hal ini karena mendirikan bangunan dan memberi penerangan di atas kubur, mengapur, memberi tulisan dan menjadikannya sebagai masjid adalah termasuk perkara-perkara yang dapat menjerumuskan ke dalam kesyirikan. Ibnu Abbas radhiyallohu ‘anhuma berkata, “Rosululloh melaknat para wanita yang banyak berziarah ke kubur, orang-orang yang menjadikannya sebagai masjid dan orang yang memberi penerangan di atasnya.” (HR. An Nasai, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh membersihkan bumi ini dari perkara-perkara yang menjerumuskan ke dalam kesyirikan. Beliau pun telah mengutus beberapa sahabatnya untuk merobohkan kubah-kubah tinggi yang ada di atas kubur dan menghancurkan gambar-gambar ataupun. Abu Al Hayyaj Al Asady berkata, Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku, “Maukah engkau kuutus membawa tugas seperti Rosululloh telah mengutusku, yaitu janganlah engkau biarkan gambar atau patung kecuali engkau hancurkan, dan janganlah engkau biarkan kubur yang tinggi kecuali engkau ratakan.” (HR. Muslim). Wallohu A’lam bish Showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Yusuf Johan Lil Muttaqin&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;http://muslim.or.id/aqidah/awas-faktor-pemicu-kesyirikan.html&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-7799016558292631476?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/7799016558292631476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/awas-faktor-pemicu-kesyirikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/7799016558292631476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/7799016558292631476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/awas-faktor-pemicu-kesyirikan.html' title='Awas Faktor Pemicu Kesyirikan!'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-8594276856595514274</id><published>2009-10-30T16:22:00.000-07:00</published><updated>2009-10-30T16:29:00.526-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>Dzikir dan Syukur yang Sebenarnya</title><content type='html'>Agama Itu Dibangun Di Atas Dzikir dan Syukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa agama ini dibangun di atas 2 landasan yaitu dzikir dan syukur. Lantas beliau rahimahullah membawakan firman Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berdzikirlah pada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah pada-ku, janganlah kalian kufur.” (QS. Al Baqoroh : 152)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda pada Mu’adz, “Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk mengucapkan pada akhir shalat (sebelum salam):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALLAHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBADATIK [Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].” (HR. Abu Daud dan Ahmad, shahih)&lt;br /&gt;Itulah beberapa dalil yang menunjukkan bahwa agama ini dibangun dan bisa tegak dengan dzikir dan syukur.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa yang dimaksud dengan dzikir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah cukup dengan mulut yang komat-kamit? Beliau rahimahullah memberi penjelasan yang sangat bagus sekali. Beliau mengatakan bahwa dzikir bukanlah hanya dengan lisan yang komat-kamit. Namun, dzikir yang sebenarnya adalah dengan hadirnya hati disertai ucapan lisan. Dalam dzikir kita juga harus meresapi makna nama dan sifat Allah, mengingat perintah dan larangan-Nya, dan mengingat Allah dengan merenungkan kalamullah yaitu Al Qur’an. Ini semua bisa digapai jika seseorang mengimani nama dan sifat-Nya, serta mengagungkan-Nya, juga memuji-Nya dengan berbagai macam sanjungan. Semua ini bisa digapai jika seseorang bertauhid dengan benar. Dzikir yang hakiki harus terkandung ini semua. Juga dzikir ini haruslah digapai dengan senantiasa mengingat nikmat Allah dan mengingat kebaikan Allah pada makhluk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah dzikir yang sebenarnya dan yang semestinya dilakukan setiap muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang dimaksud dengan syukur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah, mendekatkan diri kepada-Nya dengan rasa cinta lahir maupun batin. Sehingga syukur bukanlah hanya di lisan semata, namun haruslah direalisasikan dalam ketaatan dan amal perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah dua perkara yang akan menegakkan agama seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dzikir kepada-Nya harus terdapat ma’rifah atau keimanan yang hakiki. Sedangkan dalam syukur harus terdapat ketaatan kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua perkara inilah tujuan diciptakannya jin dan manusia, juga langit dan bumi. Dengan dua hal ini baru akan ada pahala dan hukuman, juga sebab diturunkannya kitab suci dan para rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai ayat disebutkan bahwa tujuan penciptaan makhluk adalah agar kita senantiasa berdzikir (mengingat-Nya) dengan iman, dan juga bersyukur kepada-Nya dengan melakukan ketaatan. Tujuan penciptaan bukanlah untuk melupakan-Nya dan mengufuri-Nya. Ingatlah, Allah akan senantiasa mengingat hamba-Nya jika mereka selalu berdzikir pada-Nya, juga akan senantiasa mensyukuri hamba-Nya, jika mereka bersyukur pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzikir adalah sebab Allah mengingat hamba-Nya dan syukur adalah sebab Allah akan selalu menambah nikmat dan karunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzikir dilakukan dengan lisan dan hati. Sedangkan syukur dilakukan dengan rasa cinta dalam hati, pujian dalam lisan, dan melakukan ketaatan dengan anggota badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah membalas kebaikan Ibnul Qoyyim karena telah menyampaikan faedah yang berharga ini. Semoga kita termasuk orang-orang yg mengingat dan bersyukur pada-Nya. AMIN …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-8594276856595514274?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/8594276856595514274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/dzikir-dan-syukur-yang-sebenarnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/8594276856595514274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/8594276856595514274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/dzikir-dan-syukur-yang-sebenarnya.html' title='Dzikir dan Syukur yang Sebenarnya'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-3082985687981029412</id><published>2009-10-30T16:06:00.000-07:00</published><updated>2009-10-30T16:15:20.732-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>Topeng Emansipasi</title><content type='html'>Topeng Emansipasi &lt;br /&gt;Penyusun: Ummu Khadijah dan Ummul Hasan &lt;br /&gt;Muraja’ah: Ust. Aris Munandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku yang semoga dirahmati Allah, sudah tidak asing terdengar di telinga kita bahwa baiknya wanita akan menjadi kunci kebaikan umat. Peran dan partisipasi seorang wanita adalah suatu hal yang sangat penting. Wanita laksana pedang bermata dua, jika ia baik dan menunaikan tugas-tugas utamanya sesuai dengan yang Allah gariskan maka ia bagaikan batu-bata yang baik bagi bangunan masyarakat Islam. Namun jika ia telah menyimpang dari syari’at yang Allah tetapkan, maka ia ibarat pedang yang akan merusak dan menghancurkan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emansipasi Wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh-musuh Islam sangat paham bahwa peran wanita muslimah sangat penting dalam membangun masyarakat Islam. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha menyerang Islam melalui kaum wanitanya. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menghancurkan wanita muslimah melalui “emansipasi”. Mereka menamakan emansipasi sebagai gerakan yang membebaskan wanita dari kezhaliman dan untuk memenuhi hak-hak mereka secara adil (menurut mereka) –dengan slogan toleransi, kebebasan wanita, persamaan gender, dan sebagainya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketahuilah wahai Saudariku, emansipasi tumbuh dari sistem sekuler yang memisahkan antara kehidupan dan nilai agama. Mereka menginginkan wanita menjadi pesaing bagi laki-laki dan memperebutkan kedudukan dengan kaum laki-laki. Wanita dalam konsep mereka ibarat barang dagangan yang dipajang di etalase, yang siap dijadikan tontonan bagi para hamba syahwat dan menjadi budak nafsu mereka. Na`udzubillah, mereka juga berusaha menjauhkan wanita dari hijab dan rumah-rumah mereka, mengabaikan pengasuhan anak dengan mengatakan bahwa mengasuh anak tidak mendatangkan materi, membunuh kreatifitas dan menghambat potensi sumber daya manusia kaum wanita. Coba kita perhatikan, betapa menyedihkannya pemikiran mereka ini yang memandang baik buruknya kehidupan dari sudut pandang materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang mereka lontarkan. Mungkin secara sepintas, wacana emansipasi mampu menjawab problematika wanita dan mengangkat harkatnya tapi tidaklah mungkin itu diraih dengan mengorbankan kehormatan dan harga diri wanita. Sungguh, tak akan bisa disatukan antara yang haq dengan yang bathil. Mereka tidaklah ingin membebaskan wanita dari kezhaliman tetapi sesungguhnya merekalah yang ingin bebas menzhalimi wanita!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita Dalam Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam benar-benar memperhatikan peran wanita muslimah, karena di balik peran mereka inilah lahir pahlawan dan pemimpin agung yang mengisi dunia dengan hikmah dan keadilan. Wanita begitu dijunjung dan dihargai perannya baik ketika menjadi seorang anak, ibu, istri, kerabat, atau bahkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menjadi anak, kelahiran anak wanita merupakan sebuah kenikmatan agung, Islam memerintahkan untuk mendidiknya dan akan memberikan balasan yang besar sebagaimana dalam hadits riwayat `Uqbah bin ‘Amir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mempunyai tiga orang anak wanita lalu bersabar menghadapi mereka dan memberi mereka pakaian dari hasil usahanya maka mereka akan menjadi penolong baginya dari neraka.” (HR. Ibnu Majah: 3669, Bukhori dalam “Adabul Mufrod”: 76, dan Ahmad: 4/154 dengan sanad shahih, lihat “Ash-Shahihah: 294).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjadi seorang ibu, seorang anak diwajibkan untuk berbakti kepadanya, berbuat baik kepadanya, dan dilarang menyakitinya. Bahkan perintah berbuat baik kepada ibu disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak tiga kali baru kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan perintah untuk berbuat baik kepada ayah. Dari Abu Hurairah berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Datang seseorang kepada Rasulullah lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk menerima perbuatan baik dari saya?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu,’ dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu,’ dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah kembali menjawab, ‘Ibumu,’ lalu dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Bapakmu.’” (HR. Bukhori: 5971, Muslim: 2548)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun ketika menjadi seorang istri, Islam begitu memperhatikan hak-hak wanita sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat-19 yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang baik…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat wanita menjadi kerabat atau orang lain pun Islam tetap memerintahkan untuk mengagungkan dan menghormatinya. Banyaknya pembahasan tentang wanita di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan kemuliaan mereka. Karena sesuatu yang banyak dibahas dan mendapat banyak perhatian tentunya adalah sesuatu yang penting dan mulia. Lalu masih adakah yang berani mengatakan bahwa Islam menzhalimi wanita?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku, demikianlah syari’at Islam menempatkan wanita di singgasana kemuliaan. Adapun di zaman sekarang, kenyataan yang terjadi di masyarakat sungguh jauh dari itu semua. Penyebabnya tidak lain adalah karena jauhnya umat Islam dari pemahaman yang benar terhadap agama mereka. Seringkali ada orang yang menjadikan kesalahan orang lain sebagai hujjah (argumentasi) baginya untuk turut berbuat kesalahan yang sama. Terkadang pula orang-orang menilai syari’at Islam dari perilaku orang-orang yang menyatakan bahwa mereka beragama Islam, namun pada hakekatnya perilaku mereka belumlah menggambarkan yang demikian. Oleh karena itu wahai Saudariku, janganlah menjadikan perilaku manusia sebagai dalil. Jadikanlah Al-Qur`an dan Sunnah dengan pemahaman para shahabat sebagai petunjuk bagi kita. Sungguh kita berlindung kepada Allah dari butanya hati dan akal dari kebenaran. Wallahul musta’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinukil dari: &lt;br /&gt;Artikel “Keagungan Wanita Dalam Naungan Islam” (sumber: Majalah Al-Furqon Tahun 6 Edisi 9 Rabi’uts Tsani 1428 H) &lt;br /&gt;Buku “Emansipasi Wanita” karya Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid &lt;br /&gt;Buku “Wanita-wanita Teladan Di Masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi dengan perubahan seperlunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber Artikel muslimah.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-3082985687981029412?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/3082985687981029412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/topeng-emansipasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/3082985687981029412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/3082985687981029412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/topeng-emansipasi.html' title='Topeng Emansipasi'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-3848930152570129200</id><published>2009-10-28T20:09:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T20:23:04.098-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>Jalan Golongan Yang Selamat</title><content type='html'>Golongan Yang Selamat ialah golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam hidupnya, serta manhaj para sahabat sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu Al-Qur’anul Karim yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, yang beliau jelaskan kepada para sahabatnya dalam hadits-hadits shahih. Beliau memerintahkan umat Islam agar berpegang teguh kepada keduanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga (Surga).” (Di-shahih-kan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan Yang Selamat akan kembali (merujuk) kepada Kalamullah dan RasulNya tatkala terjadi perselisihan dan pertentangan di antara mereka, sebagai realisasi dari firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibat-nya.” (An-Nisaa’: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisaa’: 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan Yang Selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas Kalamullah dan RasulNya, realisasi dari firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguh-nya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengira mereka akan binasa. Aku mengatakan, ‘Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, sedang mereka mengatakan, ‘Abu Bakar dan Umar berkata’.” (HR. Ahmad dan Ibnu ‘Abdil Barr)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan Yang Selamat senantiasa menjaga kemurnian tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengesakan Allah dengan beribadah, berdo’a dan memohon pertolongan baik dalam masa sulit maupun lapang, menyembelih kurban, bernadzar, tawakkal, berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah dan berbagai bentuk ibadah lain yang semuanya menjadi dasar bagi tegaknya Daulah Islamiyah yang benar. Menjauhi dan membasmi berbagai bentuk syirik dengan segala simbol-simbolnya yang banyak ditemui di negara-negara Islam, sebab hal itu merupakan konsekuensi tauhid. Dan sungguh, suatu golongan tidak mungkin mencapai kemenangan jika ia meremehkan masalah tauhid, tidak membendung dan memerangi syirik dengan segala bentuknya. Hal-hal di atas merupakan teladan dari para rasul dan Rasul kita Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan Yang Selamat senang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, baik dalam ibadah, perilaku dan dalam segenap hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu mereka menjadi orang-orang asing di tengah kaumnya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan keuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang yang (tetap) berbuat baik ketika manusia sudah rusak.” (Al-Albani berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Amr Ad-Dani dengan sanad shahih”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan Yang Selamat tidak berpegang kecuali kepada Kalamullah dan Kalam RasulNya yang maksum, yang berbicara dengan tidak mengikuti hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun manusia selainnya, betapapun tinggi derajatnya, terkadang ia melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap bani Adam (pernah) melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik berkata, “Tak seorang pun sesudah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melainkan ucapannya diambil atau ditinggalkan (ditolak) kecuali Nabi Shallallahu’alaihi wasallam (yang ucapannya selalu diambil dan diterima).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan Yang Selamat adalah para ahli hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang mereka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senantiasa ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyair berkata, “Ahli hadits itu, mereka ahli (keluarga) Nabi, sekalipun mereka tidak bergaul dengan Nabi, tetapi jiwa mereka bergaul dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan Yang Selamat menghormati para imam mujtahidin, tidak fanatik terhadap salah seorang di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan Yang Selamat mengambil fiqih (pemahaman hukum-hukum Islam) dari Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih, dan pendapat-pendapat imam mujtahidin yang sejalan dengan hadits shahih. Hal ini sesuai dengan wasiat mereka, yang menganjurkan agar para pengikutnya mengambil hadits shahih, dan meninggalkan setiap pendapat yang bertentangan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan Yang Selamat menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka melarang segala jalan bid’ah dan sekte-sekte yang menghancurkan serta memecah belah umat. Baik bid’ah dalam hal agama maupun dalam hal sunnah Rasul dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan Yang Selamat mengajak seluruh umat Islam agar berpegang teguh kepada sunnah Rasul dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga mereka mendapatkan pertolongan dan masuk Surga atas anugerah Allah dan syafa’at Rasulullah dengan izin Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan Yang Selamat mengingkari peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia apabila undang-undang tersebut bertentangan dengan ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan Yang Selamat mengajak manusia berhukum kepada Kitabullah yang diturunkan Allah untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Allah Maha Mengetahui sesuatu yang lebih baik bagi mereka. Hukum-hukumNya abadi sepanjang masa, cocok dan relevan bagi penghuni bumi sepanjang zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, sebab kesengsaraan dunia, kemerosotan, dan mundurnya khususnya dunia Islam, adalah karena mereka meninggalkan hukum-hukum Kitabullah dan sunnah Rasulullah. Umat Islam tidak akan jaya dan mulia kecuali dengan kembali kepada ajaran-ajaran Islam, baik secara pribadi, kelompok maupun secara pemerintahan. Kembali kepada hukum-hukum Kitabullah, sebagai realisasi dari firmanNya:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’ad: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan Yang Selamat mengajak seluruh umat Islam berjihad di jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad adalah wajib bagi setiap Muslim sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya. Jihad dapat dilakukan dengan:&lt;br /&gt;Pertama, jihad dengan lisan dan tulisan: Mengajak umat Islam dan umat lainnya agar berpegang teguh dengan ajaran Islam yang shahih, tauhid yang murni dan bersih dari syirik yang ternyata banyak terdapat di negara-negara Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah memberitakan tentang hal yang akan menimpa umat Islam ini. Beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari Kiamat belum akan tiba, sehingga kelompok-kelompok dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sehingga kelompok-kelompok dari umatku menyembah berhala-berhala.” (Ha-dits shahih , riwayat Abu Daud, hadits yang semakna ada dalam riwayat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, jihad dengan harta: Menginfakkan harta buat penyebaran dan peluasan ajaran Islam, mencetak buku-buku dakwah ke jalan yang benar, memberikan santunan kepada umat Islam yang masih lemah iman agar tetap memeluk agama Islam, memproduksi dan membeli senjata-senjata dan peralatan perang, memberikan bekal kepada para mujahidin, baik berupa ma-kanan, pakaian atau keperluan lain yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga , jihad dengan jiwa:Bertempur dan ikut berpartisipasi di medan peperangan untuk kemenangan Islam. Agar kalimat Allah ( Laa ilaaha illallah) tetap jaya sedang kalimat orang-orang kafir (syirik) menjadi hina. Dalam hu-bungannya dengan ketiga perincian jihad di atas, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengisyaratkan dalam sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perangilah orang-orang musyrik itu dengan harta, jiwa dan lisanmu.” (HR. Abu Daud, hadits shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hukum jihad di jalan Allah adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama , fardhu ‘ain : Berupa perlawanan terhadap musuh-musuh yang melakukan agresi ke beberapa negara Islam wajib dihalau. Agresor-Agresor Yahudi misalnya, yang merampas tanah umat Islam di Palestina. Umat Islam yang memiliki kemampuan dan kekuatan jika berpangku tangan ikut berdosa, sampai orang-orang Yahudi terkutuk itu enyah dari wilayah Palestina. Mereka harus berupaya mengembalikan Masjidil Aqsha ke pangkuan umat Islam dengan kemampuan yang ada, baik dengan harta maupun jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, fardhu kifayah: Jika sebagian umat Islam telah ada yang melakukannya maka sebagian yang lain kewajibannya menjadi gugur. Seperti dakwah mengembangkan misi Islam ke negara-negara lain, sehingga berlaku hukum-hukum Islam di segenap penjuru dunia. Barangsiapa menghalangi jalan dakwah ini, ia harus diperangi, sehingga dakwah Islam dapat berjalan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER http://elilmu.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-3848930152570129200?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/3848930152570129200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/jalan-golongan-yang-selamat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/3848930152570129200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/3848930152570129200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/jalan-golongan-yang-selamat.html' title='Jalan Golongan Yang Selamat'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-1167230634003732708</id><published>2009-10-28T18:12:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T18:31:05.817-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>BAGAIMANA HUKUM NYANYIAN &amp; ALAT MUSIK DALAM ISLAM?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/SujwUPQ-URI/AAAAAAAAAVE/5wA3fUxDz4U/s1600-h/15847_1181565014343_1084713685_30464498_5419691_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 258px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/SujwUPQ-URI/AAAAAAAAAVE/5wA3fUxDz4U/s400/15847_1181565014343_1084713685_30464498_5419691_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5397828383889314066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (Luqman: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada beberapa kelompok orang dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, khamer, dan alat-alat musik.” (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “Yang dimaksud dengan “lahwal hadits” (perkataan yang tidak berguna) itu adalah nyanyian, demi Allah yang tidak ada sesembahan kecuali Dia (3x).” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Jarir, dan lainnya dengan sanad shahih. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Tahrim Alat Ath-Tharb, hal 143).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “Ayat ini turun tentang nyanyian dan semacamnya.” (HR. Bukhari). Beliau juga berkata, “Rebana haram, al-ma’azif (alat-musik apapun) haram, al-kuubah (beduk, gendang, drum, dan sejenisnya) haram, dan seruling haram.” (Muntaqan Nafis Min Talbis Iblis, hal. 306).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikrimah radhiyallahu 'anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “Itu adalah nyanyian.” (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu ketika melewati sekelompok orang berihram, di antara mereka ada seorang laki-laki yang bernyanyi, maka beliau berkata, “Ingatlah, semoga Allah tidak mendengarkan kamu.” (Muntaqan Nafis Min Talbis Iblis, hal. 306).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Abdul Aziz rahimahullah menulis surat kepada guru anaknya, “Hendaklah pertama kali yang diyakini anak-anakku dari tata-kramamu adalah membenci nyanyian, yang awalnya dari setan dan akhirnya adalah kemurkaan Ar-Rahman Jalla Wa ‘Alla. Karena sesungguhnya telah sampai kepadaku dari para ulama yang terpercaya bahwa menghadiri alat-alat musik dan mendengarkan nyanyian serta menyukainya akan menumbuhkan kemunafikan di dalam hati, sebagaimana air akan menumbuhkan rerumputan. Demi Allah, sesungguhnya menjaga hal itu dengan tidak mendatangi tempat-tempat tersebut, lebih mudah bagi orang yang berakal, daripada bercokolnya kemunafikan di dalam hati.” (Muntaqan Nafis Min Talbis Iblis, hal. 306).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Nyanyian adalah mantra setan.” Ad-Dhahhak berkata, “Nyanyian akan merusak hati dan menjadikan Allah murka.” (Ibid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abuth Thayyib Ath-Thabari berkata, “Imam Abu Hanifah membenci nyanyian, walaupun beliau membolehkan minum nabidz (sari buah yang diperas). Beliau menganggap mendengarkan nyanyian termasuk perbuatan dosa. Demikian juga pendapat seluruh ulama Kufah: Ibrahim, Asy-Sya’bi, Hammad, Sufyan Ats-Tsauri, dan lainnya. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan mereka tentang hal itu. (Muntaqan Nafis Min Talbis Iblis, 300-301).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang nyanyian menjawab, “Sesungguhnya yang melakukan di kalangan kita, hanyalah orang-orang fasik.” (Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Nyanyian merupakan perkara melalaikan yang dibenci, menyerupai kebatilan. Barangsiapa memperbanyaknya, maka dia seorang yang bodoh, persaksiannya ditolak.” (Muntaqan Nafis Min Talbis Iblis, 301).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata kepada putranya Abdullah bin Ahmad, “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.” Ketika ditanya tentang qasidah, maka beliau menjawab, “Aku membencinya, itu bid’ah, janganlah bergaul dengan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya imam empat sepakat tentang keharaman al-ma’azif, yaitu alat-alat hiburan, seperti ‘ud (banjo: nama alat musik seperti rebab) dan semacamnya. Seandainya seseorang merusaknya, maka menurut mereka (imam empat) orang tersebut tidak diharuskan menggantinya. Bahkan menurut mereka haram memilikinya.” (Minhajus Sunnah, 3, 439. Lihat Tahrim Alat Ath-Tharb, 99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Sisi penunjukan dalil (keharaman alat-alat musik) bahwa al-ma’azif adalah alat-alat hiburan semuanya, tidak ada perselisihan di antara ahli bahasa dalam hal ini. Seandainya hal itu halal, niscaya Nabi tidak mencela mereka terhadap penghalalannya. Beliau telah mengancam orang-orang yang menghalalkan al-ma’azif dengan dibenamkan oleh Allah ke dalam bumi, dan merobah mereka menjadi kera dan babi.” (Ighasatul Lahfan, 1, 260-261).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi (penasehat dan pengajar tafsir di Masjid Nabawi Madinah) berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaum muslimin selama berabad-abad hidup dengan keyakinan, bahwa siapa yang menghalalkan hal-hal haram, ia telah kafir, demikian pula halnya dengan mereka yang mengingkari persoalan absolut dalam agama. Tidak pernah terlintas dalam khayalan kaum muslimin saat itu, jika suatu saat nanti akan ada di antara kaum muslimin yang menghalalkan perkara yang diharamkan oleh Allah (dan Rasul-Nya). Hanya saja Rasulullah telah mengabarkan, bahwa yang demikian itu pasti akan terjadi dan termasuk tanda-tanda kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari telah meriwayatkan kepada kita sabda Nabi, “Akan ada di antara umatku yang menghalalkan zina, sutera, khamer dan musik.” Imam Thabari turut meriwayatkan pula sabda beliau yang dinukil dari Sahl bin Sa’ad Al-Anshari, “Akan ada di akhir zaman nanti gerhana, tuduhan zina dan hilangnya jati diri.” Para sahabat bertanya, “Kapan hal itu terjadi wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Apabila telah muncul musik dan biduanita serta dihalalkan khamer.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita melayangkan pandangan sekilas ke wilayah Islam, mulai dari ujung timur Indonesia hingga bagian barat kerajaan Maroko, kita akan dapati seakan-akan apa yang disebutkan dalam hadits-hadits tersebut telah menjadi kenyataan. Khamer diproduksi dan diekspor ke kebanyakan negeri Islam, lalu diimpor dan diperjualbelikan serta diminum di kebanyakan negeri Islam yang lain. Bukankah yang demikian ini termasuk menghalalkannya? Pembukaan panti-panti untuk menampung anak-anak hasil zina, memungut anak-anak hasil “kecelakaan” serta merasa bangga dengan hal itu sambil menggelari anak-anak tersebut sebagai anak-anak bangsa, lalu mendidik mereka dalam lingkungan yang jauh dari agama serta moral mulia. Bukankah hal ini juga adalah sikap menghalalkan zina? Semaraknya nyanyian yang mengumbar napsu dengan suara para banci (penyanyi pria) dan pezina siang dan malam di rumah-rumah, di toko-toko, di jalan-jalan serta di atas angkutan hingga pesawat terbang. Bukankah ini menghalalkan musik dan nyanyian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira tidak ada jawaban dari seorang pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya terhadap setiap pertanyaan tersebut, melainkan akan mengatakan benar…benarlah demikian. Sungguh benar apa yang diberitakan oleh Rasulullah, kini semuanya telah menjadi kenyataan sebagaimana yang beliau beritakan. Maka, kenabian dan risalah beliau kembali terbukti dan hari kiamat pun semakin dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah yang mau kembali kepada Allah wahai hamba Allah? Adakah yang mau bertaubat dengan meninggalkan zina, nyanyian, minum khamer serta makan riba?” (Pesan Dari Masjidil Haram, 202-203).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan singkat di atas, jelaslah sudah bahwa alat musik adalah haram, kecuali yang diperbolehkan oleh syari’at, yaitu duff (rebana tanpa lonceng di lingkarannya. Jika ada loncengnya maka namanya adalah muzhir, demikian disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari). Adapun nyanyian yang diiringi duff yang dibolehkan (sebagai keringanan) adalah yang dimainkan oleh wanita di waktu walimah pernikahan dan oleh gadis-gadis kecil saat hari raya sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun apa yang sekarang ini disebut sebagai Nasyid "Islami", maka para ulama telah mengeluarkan fatwanya bahwa itu adalah bid'ah &amp; haram (sebab apa yang disebut sebagai nasyid "Islami" sekarang ini tidaklah sama dengan nasyid yang ada di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam). Di antara ulama yang telah mengeluarkan fatwanya adalah:&lt;br /&gt;1. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, lihat Al-Qaulul Mufiid fii Hukmiil Anaasyiid (hal. 31-32)&lt;br /&gt;2. Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, lihat Al-Khuthab Al-Mimbariyyah (III/184-185).&lt;br /&gt;3. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah, lihat Fataawaa Al-'Aqidah (hal. 651, no. 369)&lt;br /&gt;4. Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi hafizhahullah, lihat Al-Mauridul 'Adzbuz Zulaal fiima intaqada 'alaa Ba'dhi Manaahiji ad-Daa'iyah minal 'Aqaa-idi wal A'maal (hal. 223).&lt;br /&gt;5. Syaikh Bakr ABu Zaid hafizhahullah (mantan Imam Masjid Nabawi Madinah),, lihat Al-Qaulul Mufiid fii Hukmil Anaasyiid (hal. 46).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya, silakan baca buku Hukum Lagu, Musik, dan Nasyid (Yazid bin Abdul Qadir Jawas), Adakah Musik Islami (Muslim Atsari), Pesan Dari Masjidil Haram (Syaikh Al-Jazairi), Noktah-Noktah Hitam Senandung Setan (Ibnul Qayyim), Polemik Seputar Musik dan Lagu (Syaikh Al-Albani), Menyelamatkan Hati Dari Tipu Daya Setan (Ibnul Qayyim), dan Fatwa-fatwa para mufti dari tanah suci. Allahu Ta'ala a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER Abu Muhammad Herman ( facebook )&lt;br /&gt;http://www.almanhaj.or.id/content/1429/slash/0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-1167230634003732708?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/1167230634003732708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/bagaimana-hukum-nyanyian-alat-musik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/1167230634003732708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/1167230634003732708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/bagaimana-hukum-nyanyian-alat-musik.html' title='BAGAIMANA HUKUM NYANYIAN &amp; ALAT MUSIK DALAM ISLAM?'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/SujwUPQ-URI/AAAAAAAAAVE/5wA3fUxDz4U/s72-c/15847_1181565014343_1084713685_30464498_5419691_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-9113730285883690285</id><published>2009-10-28T16:51:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T17:44:57.030-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>DALIL YANG MENGHARAMKAN NYANYIAN, HIBURAN DAN MUSIK</title><content type='html'>(Dari kitab Ighatsatul Lahfan min Mashayidisy Syaithan, karya Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, edisi Indonesia “Menyelamatkan Hati dari Tipu Daya Setan, Juz 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini akan kami tampilkan hadits-hadits Nabi yang menunjukkan pengharaman secara jelas (sharih) terhadap berbagai macam alat hiburan dan musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Ghanam berkata : Abu Amir atau Abu Malik Al Asy’ari ra telah menceritakan kepadaku bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Dikalangan umatku nanti akan ada suatu kaum yang menghalalkan perzinaan, sutera, khamr dan alat-alat musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya, meskipun diriwayatkan secara mu’allaq, namun tetap dijadikan hujjah yang beliau masukkan dalam bab tersendiri, yaitu Bab tentang Orang yang menghalalkan Khamr dan Menamainya dengan Nama Lain. “Hisyam bin Ammar berkata : telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khalid dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Athiyah bin Qais Al Kilabi, dari Abdurrahman bin Ghanm Al Asy’ari bahwa ia berkata : Amir atau Abu Malik Al Asy’ari, - Demi Allah dia tidak membohongiku - menceritakan kepada bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda : ” Sungguh akan ada suatu kaum dari umatku yang menghalalkan perzinaan, sutera, khamr dan alat-alat musik.”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang mencacatkan keshahihan hadits ini tidak dapat beralasan apa-apa, seperti Ibnu Hizam, kecuali hanya untuk membela madzhabnya yang batil dalam hal membolehkan hiburan atau musik dengan menganggap hadits Al Bukhari di atas adalah munqathi’ (terputus -red), karena Al Bukhari tidak menyambungkan sanad hadits tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban mengenai kerancuan ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Sesungguhnya Al Bukhari telah bertemu Hisyam bin Ammar dan telah mendengarkan hadits dirinya. Maka jika Al Bukhari mengatakan, “Hisyam telah berkata. ” itu berarti sama artinya dengan mengatakan, :Dari Hisyam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Seandainya Al Bukhari belum pernah mendengar hadits itu darinya, maka sudah tentu dia tidak akan membolehkan untuk meyakini hadits itu darinya, kecuali memang shahih bahwa ia (Hisyam) benar-benar pernah mengatakannya. Hal semacam ini banyak digunakan saking banyaknya rawi yang meriwayatkannya hadits dari syaikh tersebut dan karena kemasyhurannya. Lagi pula yang namanya Al Bukhari itu adalah rawi yang paling jauh dari perbuatan tadlis (pemalsuan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Al Bukhari sendiri memasukkan hadits tersebut dalam kitabnya yang diberi nama Shahih, yang dijadikan hujah oleh beliau. Seandainya hadits ini tidak dianggap shahih oleh beliau, tentu beliau tidak akan memasukkannya dalam kitab Shahih beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Al Bukhari menta’liqnya dengan shighar jazm, bukan shighat tamridh. Ia juga mengambil sikap tawaquf mengenai suatu hadits atau jika hadits yang ada itu tidak memenuhi persyaratannya, maka Al Bukhari biasanya mengatakan, “Wa yurwa’an Rasulullah wa yudzkaru’anhu.” (Diriwayatkan dari Rasulullah dan disebutkan darinya), atau ungkapan yang sejenisnya. Namun jika Al Bukhari sudah mengatakan, “Qola Rasulullah ” (Rasulullah telah bersabda), maka berarti ia telah menetapkan dan memastikan bahwa hal itu benar-benar dari Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kalau saja kita buang alasan di atas, maka hadits ini tetap dianggap shahih dan muttasil oleh hadits lainnya. Abu Dawud dalam kitab Al Libas mengatakan : telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin Najdah, katanya : Bisyr bin Bakar telah menceritakan kepada kami Athiyah bin Qais yang mengatakan : Aku telah mendengar Abdurrahman bin Ghanm Al Asy’ari berkata : Abu Amir atau Abu Malik telah menceritakan kepada kami, lalu disebutkan hadits seperti di atas secara ringkas. &lt;br /&gt;Abu Bakar Al Ismaili juga meriwayatkan dalam kitabnya As Shahih, secara musnad. Ia mengatakan : Abu Amir tidak dapat diragukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalarnya, bahwa segala alat musik merupakan alat hiburan atau permainan, dan hal ini tidak diperselisihkan di antara para ahli bahasa. Seandainya hal itu halal (dibolehkan), tentu Rasul tidak akan mencela tindakan menghalalkan hal tersebut, dan tidak mensandingkan dengan khamr dan perzinaan.&lt;br /&gt;Ibnu Majah di dalam kitab Sunannya mengatakan : Abdullah bin Said telah menceritakan riwayat hadits kepada kami dan Muawiyah bin Shalih, dari Hatim bin Huraits dari Abi Maryam, dari Abdurrahman bin Ghanm Al Asy’ari, dari Abu Malik Al Asy’ari ra bahwa ia berkata : Rasulullah telah bersabda :&lt;br /&gt;” Sungguh akan ada manusia-manusia dari umatku yang meminum khamr yang mereka namakan dengan nama lain, kepalanya dipenuhi dengan musik dan penyanyi- penyanyi wanita. Maka Allah akan menenggelamkan mereka ke dalam bumi dan menjadikan di antara mereka kera dan babi.’ (sanad hadits ini shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang menghalalkan musik - dalam hadits tersebut- diancam bahwa Allah akan menenggelamkan mereka ke dalam bumi dan merubah bentuk mereka menjadi kera dan babi. Meskipun ancaman ini untuk seluruh perbuatan yang tersebut dalam hadits itu, namun masing-masingnya mendapatkan bagian dari celaan dan ancaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini terdapat berbagai riwayat hadits, yaitu hadits dari Sahl nin Sa’ad As Saidi, Imron bin Hushain, Abdullah bin Amru, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Abu Umamah Al Bahli, ‘Aisyah, Ali bin Abi Thalib, Anas bin Malik, Abdurrahman bin Sabith dan hadits Al Ghazi bin Rabi’ah. Kami sengaja mengungkapkannya agar para Ahlul Qur’an mendapat kepuasan, di samping agar orang-orang yang suka mendengarkan suara setan itu dapat tersentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hadits Sahal bin Sa’id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Dunya berkata : Al Haitsam bin Kharijah telah menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’ad As Saidi bahwa ia telah berkata : Rasulullah bersabda : “Di dalam umatku ini akan ada (siksaan yang berupa) pembenaman, pelemparan dan pengubahan bentuk. “Ditanyakan, ” Kapan hal itu terjadi ya Rasulullah?” Beliau Menjawab, “Jika telah tampak berbagai alat musik, qainah (budak wanita yang menjadi penyanyi) serta dihalalkannya khamr.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hadits Imran bin Hushain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh At Tarmidzi dari hadits Al A’masy, dari Hilal bin Yisaf, dari Imran bin Hushain yang berkata : Rasulullah telah bersabda : “Pada umatku nanti akan ada (siksaan atau bencana yang berupa) pembenaman, pelemparan dan pengrubahan bentuk.” Lalu salah seorang di antara kaum muslimin ada yang bertanya. “Kapan hal itu terjadi, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika telah tampak berbagai qainah, alat-alat musik dan diminumnya khamr.” At Tarmidzi mengatakan bahwa hadits ini gharib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hadits Abdullah bin Amru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad di dalam Musnadnya dan juga Abu Dawud sama-sama meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Amru bahwa Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanawuta'alla telah mengharamkan atas umatku : khamr, judi, kubah (kartu atau dadu; dapat pula diartikan at thibl (genderang; juga termasuk jenis alat musik lainnya) -pent.) dan ghubaira’ (minuman keras yang diperas dari jagung yang biasa dibuat oleh orang-orang Habasyah); dan setiap yang memabukkan itu haram. ” Dalam lafal Ahmad yang lain disebutkan : “Sesungguhnya Allah swt telah mengharamkan atas umatku khamr, judi, mizr (sejenis ghubaira’, namun ada yang mengatakan terbuat dari gandum), kubah dan qinnin (jenis permainan judi yang dipraktekkan bangsa Romawi; namun ada pula yang mengartikan genderang yang biasa ditabuh oleh orang-orang Habasyah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hadits Ibnu Abbas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Musnad Ahmad juga disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah telah bersabda : “Sesungguhnya Allah subhanawata'ala telah mengharamkan khamr, judi dan kubah. Setiap yang memabukkan itu haram.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Hadits Abu Hurairah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahuanha bahwa Rasulullah telah bersabda : “Jika harta hanya diedarkan pada kalangan terbatas, amanat jadi barang rampasan, zakat sebagai utang, ilmu dipelajari untuk selain agama, seorang lelaki (suami) mentaati istrinya dan mendurhakai ibunya, mendekatkan temannya dan menjauhkan ayahnya, tampak suara-suara di dalam masjid, orang yang fasik tampil memimpin kabilah, orang yang paling hina menjadi pimpinan suatu kaum, seorang dimuliakan karena ditakui kejahatannya, muncul penyanyi-penyanyi dari budak-budak wanita dan berbagai alat musik, diteguknya khamr dan orang-orang akhir dari umat ini telah melaknat (mengutuk) umat terdahulu; maka ketika itu tunggulah angin merah, gempa, amblesnya bumi, perubahan bentuk, penjerumusan serta tanda-tanda lain yang beruntun seperti sebuah jaring tua (usang) yang jika kawatnya terputus maka akan terus merembet.” At Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan gharib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Dunya berkata : Abdullah bin Umar Al Jusyami menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Salim yaitu Abu Dawud, katanya : Hasan bin Abi Sinan telah menceritakan kepada kami dari seorang laki-laki, dan Abu Hurairah radiyallahuanha yang berkata bahwa Rasulullah telah bersabda : “Suatu kaum dari umat ini pada akhir zaman akan diubah menjadi kera dan babi. “Para sahabat bertanya. “Ya Rasulullah, bukankah mereka itu bersaksi bahwa tiada illah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Beliau menjawab. “Ya, bahkan mereka juga menunaikan shalat, puasa dan haji. “Ditanya lagi. “Apa pasalnya mereka itu?” Beliau menjawab, “Mereka hanyut oleh musik, rebana dan qainah (budak yang menjadi biduanita) dan mereka begadang dengan suguhan minuman dan hiburan, lalu pada esok harinya mereka diubah bentuknya menjadi kera dan babi.” (hadits dha’if - ed.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Hadits Abu Umamah Al Bahili&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini dikemukakan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan juga oleh At Tirmidzi bahwa Rasulullah telah bersabda. “Ada sekelompok dari umatku yang begadang dengan suguhan makanan dan minuman serta hiburan dan permainan, kemudian esok harinya mereka menjadi kera dan babi, lalu dikirimkan angin terhadap orang-orang yang hidup di antara mereka, kemudian angin itu menghamburkan mereka sebagaimana telah menghamburkan orang-orang sebelum kalian lantaran mereka telah menghalalkan khamr, menabuh rebana, dan mengambil budak-budak wanita untuk menyanyi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sanad hadits ini terdapat Farqad As Sabakhi yang termasuk pembesar kaum Shalih, namun demikian ia tidaklah kuat dalam hal hadits. At Tirmidzi mengatakan : “Yahya bin Asa’id melemahkannya naumn ada juga rawi-rawi yang mengambil riwayat darinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Dunya berkata : Abdullah bin Umar Al Jusyami menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman, katanya ” Farqad As Sabakhi menceritakan kepada kami : telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Sa’id bin Al Musayyab, katanya : telah menceritakan kepadaku Ashum bin Amru Al Bajali dari Abu Umamah dari Rasulullah bahwa beliau bersabda : “Akan ada suatu kaum dari umat ini yang menghabiskan malamnya di atas makanan, minuman dan hiburan. Lalu pada pagi harinya mereka telah diubah bentuknya menjadi kera dan babi. Dan pasti mereka itu akan ambles ditelan bumi, sehingga pada esok harinya orang-orang pun bercerita, “Kampung si fulan ambles tadi malam, Bani Fulan ambles ditelan bumi tadi malam!” Dan pasti akan dikirimkan (dijatuhkan) bebatuan dari langit terhadap mereka sebagaimana pernah dijatuhkan terhadap kaum Nuh, atas kabilah-kabilah yang ada di dalamnya dan atas kampung-kampung (rumah) yang ada di dalamnya. Pasti akan dikirimkan pula kepada mereka angin pemusnah yang pernah membinasakan bangsa ‘Ad, karena mereka meminum khamr, memakan riba, menjadikan budak-budak wanita untuk menyanyi, dan memutuskan tali kekeluargaan.” (Hadits dha’if - ed.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan riwayat hadits dari Ubaidillah bin Zahr, dari Ali bin Yazid, dari Al Qasim, dari Abu Umamah, dari Rasulullah bahwa beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah mengutusku sebagai rahmat dan petunjuk bagi seluruh alam, dan memerintahku untuk membinasakan seruling, genderang, alat-alat musik senar dan patung-patung (berhala) yang disembah di masa jahiliyah.” (Hadits dha’if - ed.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Bukhari mengatakan : “Ubaidillah bin Zahr itu tsiqat (sekian banyak ulama menyatakan dha’if. Lihat At Tahdzib, VII/13 - ed.). Ali bin Yazid adalah dha’if dan Al Qasim bin Abdurrahman Abu Abdurrahman adalah tsiqat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At Tirmidzi dan Imam Ahmad dalam Musnadnya juga meriwayatkan dengan sanad yang persis seperti ini bahwa Nabi telah bersabda, “Janganlah engkau jual qainah (budak wanita menjadi biduanita), jangan membelinya dan jangan mengajarinya. Tiada kebaikannya dalam memperdagangkannya dan harganya itu haram. Berhubungan dengan hal ini maka turunlah ayat : “Di antara manusia ada orang yang membeli lahwul hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.” (Luqman : 6). (Hadits ini dha’if karena kedha’ifan perawinya, yaitu Abdullah bin Zahr dan Ali bin Yazid. Al Albani mendha’ifkannya dalam Dha’iful Jami’ (6189) hal. 893 -894.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Dunya berkata : Al Hasan bin Mahbub menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhar yaitu Hasyim bin Al Qasim, katanya : telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar dari Muhammad bin Al Munkadir dari “Aisyah radhiallahu’anha bahwa ia berkata : Rasulullah telah bersabda : “Pada umatku nanti akan terjadi pengamblesan, pengubahan bentuk dan pelemparan,”Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, sedangkan kaum itu masih mengatakan Laa ilaaha ilallah?” Beliau menjawab, “Jika telah tampak biduanita-biduanita, telah muncul perzinaan, diteguknya khamr dan dipakainya kain sutera,maka di sinilah hal itu terjadi.” (Ibnu Abi Dunya meriwayatkan hadits ini dalam Dzammul Malalhi, hadits no. 3. Pensanadan hadits ini dha’if, namun banyak syawahid (bukti atau penguat dari hadits lain) yang mengangkat derajat hadits ini ke tingkat hasan lighairihi - ed.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Dunya juga meriwayatkan : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Nashih, katanya : Baqiyyah bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abdullah Al Juhani, katanya : telah menceritakan kepadaku Abul A’la dari Anas bin Malik bahwa ia pernah mengunjungi ‘Aisyah radhiallahu’anha beserta seorang teman. Orang itu berkata, “Ya Ummul Mukminin, ceritakanlah kami tentang gempa!” ‘Aisyah radhiallu’anha menjawab, “Itu merupakan nasehat (pelajaran),rahmat dan berkah bagi orang-orang mukmin serta merupakan hukuman, adzab serta kemurkaan terhadap orang-orang kafir,” Anas berkata, “Aku tiada mendengar satu hadits pun setelah Rasulullah (wafat) yang membuatku sangat bergembira daripada hadits ini.” (Sanad hadits ini dha’if).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Hadits Ali radhiyallahu 'anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Dunya berkata : telah menceritakan kepada kami Ar Rabi’ bin Tsaqlab, katanya : Farj bin Fadhalah menceritakan kepada kami riwayat dari yahya bin Sa’id, dari Muhammad bin Ali, dari Ali radiyallahuanha, katanya Rasulullah telah bersabda : “Jika umatku telah melakukan lima belas perilaku, maka ia layak mendapatkan bala’ (bencana),” Ditanyakan, “Apa saja kelima belas perilaku itu ya Rasulullah” Beliau menjawab, “Jika kekayaan hanya berputar pada kalangan tertentu, amanat menjadi barang rampasan, zakat menjadi utang; seorang lelaki (suami) menurut pada istrinya dan mendurhakai ibunya; berbuat baik kepada teman namun kasar terhadap ayahnya sendiri; ditinggikannya suara-suara di masjid; yang menjadi pemimpin suatu kaum adalah orang yang paling hina di antara mereka; seseorang dimuliakan karena ditakuti kejahatannya; diminumnya khamr; dipakainya kain sutera, mengambil para biduanita; dan orang-orang akhir dari umat ini telah melaknat orang-orang terdahulu. Maka kalau sudah demikian, tunggulah datangnya angin merah, pengamblesan bumi dan pengubahan bentuk.” (Di dalam sanad hadits ini terdapat Al Farj bin Fadhalah yang oleh sebagian ahli hadits dinyatakan dha’if mengenai hafalannya, namun Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Takhrijul Misykat (5451) - ed.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Hadits Anas radhiyallahu 'anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Dunya berkata : Abu Amru harun bin Umar Al Qursyi menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Al Khasib bin Katsir dari Abu Bakar Al Hudzali, dari Qatadah, dari Anas bin Malik ra yang berkata : Rasulullah Sallallahualaihi wassalam telah bersabda : “Pada umatku ini akan terjadi pembenaman, pelemparan dan pengubahan bentuk. Itu terjadi jika umat tersebut telah meneguk khamr, mengambil biduanita-biduanita dan bermain musik.” (Sanad hadits ini rusak karena ada Abu Bakar Al Hudzali. Disebutkan bahwa namanya adalah Sulami bin Abdullah dan ada yang mengatakannya namanya Rauh. Ia adalah seorang yang haditsnya ditinggalkan (matrukul hadits) sebagaimana disebutkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Taqrib (8002) hal. 625 - ed.).&lt;br /&gt;Abdul Jabbar bin Ashim menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Ismail bin Asysy dari Abdurrahman At Tamimi, dari Abbad bin Abu Ali,dari Ali bin Abi Thalib ra dari Nabi bahwa beliau telah bersabda : “Segolongan dari umatmu nanti akan ada yang diubah menjadi kera, ada yang dihantam oleh angin yang membinasakan. Itu semua disebabkan karena mereka meneguk khamr, memakai kain sutera, mengambil biduanita-biduanita, dan bermain musik.” (Di dalam sanad hadits ini terdapat Abbad bin Abi Ali yang sebagaimana dikomentari oleh Ibnu Al Qatthan disangsikan adalahnya (Al Mizan, 2 : 370), Ibnu Hajar dalam At Taqrib (7137) hal. 290 menyatakan maqbul (dapat diterima) jika ada penguatnya, dan jika tidak maka ia lemah haditsnya. Juga terdapat Ismail bin Asyasy di mana riwayatnya selain dari ulama Syam adalah dha’if (An Nizab, 1:240), sedangkan dalam riwayat ini bukan dari ulama Syam. Dengan demikian dha’if, - ed.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Dunya juga mengatakan : Abu Ishaq Al Azdi telah memberitahukan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Ismail bin Uwais, katanya : telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari salah satu putera Anas bin Malik radiyallahuanha dan juga dari yang lainnya, dari Anas bin Malik radiyallahuanha bahwa ia berkata : Rasulullah sallallahualaihi wassalam telah bersabda : “Pada umat ini kelak ada orang-orang yang menghabiskan malamnya dengan makanan, minuman dan musik. Lalu esok harinya mereka diubah bentuk menjadi kera dan babi.” (Di dalam sanad hadits ini terdapat Abdurrahman bin Zaid bin Aslam yang dha’if seperti disebutkan dalam Taqribut Tahdzib (3867) hal. 340. Juga terdapat rawi yang tidak jelas, karena tidak ada namanya. Dengan demikian sanad hadits ini dha’if. Namun dengan syawahid yang ada, ia dapat naik derajat menjadi hasan lighairihi - ed.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Hadits Abdurrahman bin Sabith&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Dunya berkata : Ishaq bin Ismail telah menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Jarir : dari Aban bin Taghlab, dari Amru bin Murrah, dari Abdurrahman bin Sabith, bahwa ia berkata : Rasulullah telah bersabda : “Pada umatku nanti akan terjadi pembenaman (pengamblesan bumi), penglemparan dan pengubahan bentuk.”Para sahabat bertanya : “Kapan hal itu terjadi, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika mereka telah merajalelakan musik dan menghalalkan khamr.” (Hadits ini mursal, karena yang membawakan hadits ini adalah seorang dari kalangan Tabi’in (yang tidak pernah bertemu Nbi), yaitu Abdurrahman bin Sabith, meskipun ia sebenarnya tsiqat. Ia banyak meriwayatkan hadits secara mursal, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Taqrib (3867) hal. 340 - ed.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Hadits Al Ghazi bin Rabi’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Dunya berkata : Abdul Jabbar bin Ashim telah menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ayasy, dari Ubaidullah bin Ubaid, dari Abul Abbas Al Hamdani, dari Umarah bin Rasyid, dari Al Ghazi bin Rabi’ah - yang mengangkat (menyambungkan) hadits ini kepada Nabi - bahwa ia mengatakan, “Suatu kaum nanti pasti akan berubah menjadi kera dan babi sedang mereka masih berada di atas dipan-dipan mereka. Itu disebabkan karena mereka meneguk khamr, bermain musik dan mengambil biduanita.” (Hadits mursal, karena Al Ghazi adalah seorang dari kalangan Tabi’in - ed.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Dunya berkata : Abul Jabbar bin Ashim telah menceritakan kepada kami,katanya : telah menceritakan kepada kami Al Mughirah bin Al Mughirah dari Shalih bin Khalid - yang mengangkat hadits tersebut kepada Nabi - bahwa ia berkata, “Akan ada manusia dari umatku ini yang menghalalkan sutera, khamr dan musik. Dan pasti Allah akan mendatangkan gunung yang besar sehingga gunung itu melalap mereka, dan sebagian dari mereka diubah bentuk menjadi kera dan babi.” (Hadits mursal - ed.).&lt;br /&gt;Ibnu Abi Dunya berkata : Harun bin Ubaid telah menceritakan kepada kami, katanya : Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Asyras Abu Syaiban Al Hudzali yang berkata : aku pernah berkata kepada Farqad As Sabakhi : Beritahukan kepadaku wahai Abu Ya’qub mengenai kejadian-kejadian aneh yang aku baca dalam Taurat, bahwa akan ada pengubahan bentuk, pembenaman dan penglemparan pada umat Muhammad ini yang termasuk ahlu kiblat! Wahai Abu Ya’qub, apa sebenarnya perbuatan mereka itu?” Ia menjawab,”Itu disebabkan karena mereka mengambil biduanita- biduanita untuk menyanyi, menabuh rebana (bermain musik) serta memakai pakaian sutera dan emas. Jika kamu hidup hingga dapat melihat tiga perbuatan, maka yakinlah, bersiap-siaplah dan berhati-hatilah!” Aku bertanya,”Apa itu?” Ia menjawab, “Jika kaum laki-laki sama kaum laki-laki dan kaum perempuan sama kaum perempuan dan bangsa Arab sudah suka terhadap bejanan orang A’jam, maka itulah saatnya!” Aku bertanya kepadanya, “Apakah khusus orang Arab?” Ia menjawab, “Tidak, namun seluruh ahlu kiblat.” selanjutnya ia berkata : “Demi Allah, orang-orang seperti itu pasti akan dilempari batu dari langit yang akan menghancurkan mereka dalam keadaan sedang di jalanan dan di tengah-tengah kabilah mereka seperti yang pernah menimpa kaum Luth; yang lain diubah bentuk mereka menjadi kera dan babi seperti yang pernah terjadi pada Bani Israil; dan sebagian lagi dari mereka dibenamkan ke dalam bumi seperti yang pernah menimpa Qarun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali khabar (hadits) yang menjelaskan tentang adanya al maskh (pengubahan bentuk) pada umat ini yang bersifat muqayyad, namun kebanyakan hadits menyebutkan akan menimpa orang-orang yang bergelimang dengan nyanyian dan para peminum khamr, dan sebagaimana bersifat muthlaq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salim bin Abu Al Ja’d mengatakan : Sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman di mana ketika itu orang-orang berkumpul di depan pintu rumah seorang laki-laki untuk menunggu keluarnya lelaki dari dalam rumahnya untuk menemui mereka lalu mereka meminta keperluan kepadanya, lalu laki-laki itupun keluar dalam keadaan sudah berubah bentuk menjadi kera atau babi. Dan seorang laki-laki akan lewat dan bertemu dengan laki-laki lain di kedainya yang sedang berjualan,lalu ia kembali sudah berubah menjadi kera atau babi.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malik bin Dinar berkata :”Telah sampai kepadaku bahwa pada akhir zaman nanti akan ada badai dan kegelapan, lalu orang-orang pun meminta tolong kepada ulama-ulama mereka, namun ternyata para ulama itu mendapati mereka telah berubah bentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama mengatakan,”Jika hati itu telah bersifat dengan makar, tipuan dan kefasikan serta telah tercelup dengan hal itu secara sempurna, maka orangnya telah berperilaku seperti perilaku hewan yang disifati dengan sifat tersebut, diantaranya adalah kera, babi dan sejenisnya. Selanjutnya pensifatan itu terus meningkat sehingga tampaklah di raut mukanya secara remang-remang. Selanjutnya semakin menguat dan bertambah terus sehingga tampak secara jelas di raut muka. Kemudian menguat lagi sehingga paras yang tampak itu terbalik (berubah bentuk) sebagaimana unsur batinnya pun sudah terlebih dahulu terbalik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang memiliki pandangan yang jeli, maka ia akan dapat melihat behwa sebenarnya paras manusia itu merupakan metamorfosis dari paras hewan di mana secara batin mereka berakhlak dan berperilaku seperti perilaku hewan tersebut. Maka jika engkau melihat seorang yang curang, suka mengelabuhi, penipu dan pengkhianat, tentu di wajahnya terlihat adanya hasil metamorfosis dari kera. Di raut muka orang-orang Rafidhah (Syi’ah) akan anda lihat wajahnya terlihat adanya hasil metamorfosis dari wajah anjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lahir (zhahir) itu selalu terkait dengan yang batin. Maka jika sifat-sifat tercela itu mendominasi jiwa,maka paras yang lahir pun akan kentara pula. Oleh karena itu Nabi menakut-nakuti makmum yang mendahului imam dalam shalat berjama’ah bahwa Allah akan menjadikan parasnya sebagai paras keledai, karena secara batin ia memang menyerupai keledai. Sebab, jika ia mendahului imam, maka shalatnya akan rusak dan pahalanya akan gugur. Maka makmum yang seperti itu, bodohnya seperti keledai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal ini sudah dapat dimengerti, maka sebenarnya manusia yang paling layak untuk dimetamorfosis adalah manusia-manusia yang disinyalir oleh hadits-hadits di atas. Merekalah manusia yang paling cepat dimetamorfosis menjadi kera dan babi karena adanya keserupaan batin antara mereka dengan binatang itu. Hukuman-hukuman Allah swat - na’udzu billah - berjalan sesuai dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Telah kami kupas masalah keserupaan orang-orang yang menyanyi serta yang terfitnah dengan mendengarkan lagu-lagu setan serta telah kami hantam habisan- habisan dalam kitab kami yang cukup besar yang mengupas masalah ini. Kami sebutkan pula perbedaan antara apa yang cukup besar bisa digerakkan dari mendengarkan bait-bait dan apa yang bisa digerakkan dari mendengarkan ayat-ayat. Barangsiapa yang ingin lebih jauh lagi memahami hal ini, maka silakan baca buku tersebut. Masalah ini memang sengaja kami kupas sedikit dalam buku ini, karena hal ini termasuk di antara perangkap setan. Wabillahit taufiq. (Buku yang dimaksud Ibnul Qayyim tersebut sekarang sudah diterbitkan dengan judul “Al Kalam ‘ala Masalitis Sama” yang ditahqiq oleh Syaikh Rasyid Abdul Haziz Al Hamd, - ed.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari kitab Ighatsatul Lahfan min Mashayidisy Syaithan, karya Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, edisi Indonesia “Menyelamatkan Hati dari Tipu Daya Setan,Juz 1, penerbit Al-Qowam).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-9113730285883690285?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/9113730285883690285/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/dalil-yang-mengharamkan-nyanyian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/9113730285883690285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/9113730285883690285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/dalil-yang-mengharamkan-nyanyian.html' title='DALIL YANG MENGHARAMKAN NYANYIAN, HIBURAN DAN MUSIK'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-4105850504668897924</id><published>2009-10-28T16:25:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T16:35:05.670-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>barangsiapa menyia nyiakan shalat lima waktu untuk amalan lainnya pasti lebih disia-siakan lagi</title><content type='html'>Sudah sepatutnya kita menjaga shalat lima waktu. Barangsiapa yang selalu menjaganya, berarti telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang sering menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agamanya. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktunya. Kenalilah dirimu, wahai Abdullah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jangan heran jika kita melihat seseorang yang sering bolong shalatnya, amalan yang lainnya juga lebih dia sia-siakan, lebih sering berdusta, dan lebih menyia-nyiakan amanat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan: Ash Sholah wa Hukmu Taarikiha, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://rumaysho.com/&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-4105850504668897924?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/4105850504668897924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/barangsiapa-menyia-nyiakan-shalat-lima.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/4105850504668897924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/4105850504668897924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/barangsiapa-menyia-nyiakan-shalat-lima.html' title='barangsiapa menyia nyiakan shalat lima waktu untuk amalan lainnya pasti lebih disia-siakan lagi'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-7586446102999825317</id><published>2009-10-26T23:10:00.000-07:00</published><updated>2009-10-26T23:19:08.912-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>KISAH SEGUCI EMAS</title><content type='html'>Sebuah kisah yang terjadi di masa lampau, sebelum Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيهَا ذَهَبٌ فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ: خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ. وَقَالَ الَّذِي لَهُ الْأَرْضُ: إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا. فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ الَّذِي تَحَاكَمَا إِلَيْهِ: أَلَكُمَا وَلَدٌ؟ قَالَ أَحَدُهُمَا: لِي غُلَامٌ. وَقَالَ الآخَرُ: لِي جَارِيَةٌ. قَالَ: أَنْكِحُوا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ وَتَصَدَّقَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”&lt;br /&gt;Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai hakim itu: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?”&lt;br /&gt;Salah satu dari mereka berkata: “Saya punya seorang anak laki-laki.”&lt;br /&gt;Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.”&lt;br /&gt;Kata sang hakim: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”&lt;br /&gt;Sungguh, betapa indah apa yang dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas kebendaan. Wallahul musta’an.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan berkaitan sebidang tanah. Si penjual merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka. Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad jual beli tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua lelaki ini tetap bertahan, lebih memilih sikap wara’, tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu, karena adanya kesamaran, apakah halal baginya ataukah haram?&lt;br /&gt;Mereka juga tidak saling berlomba mendapatkan harta itu, bahkan menghindarinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simaklah apa yang dikatakan si pembeli tanah: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”&lt;br /&gt;Barangkali kalau kita yang mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut. Tetapi bukan itu yang ingin kita sampaikan melalui kisah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menerangkan ketinggian sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka mengaku-aku sesuatu yang bukan haknya. Juga sikap jujur serta wara’ mereka terhadap dunia, tidak berambisi untuk mengangkangi hak yang belum jelas siapa pemiliknya. Kemudian muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya mereka melalui perkawinan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan keadaan sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal?” Subhanallah.&lt;br /&gt;Kemudian, mari perhatikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma:&lt;br /&gt;وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَام&lt;br /&gt;ِ&lt;br /&gt;“Siapa yang terjatuh ke dalam syubhat (perkara yang samar) berarti dia jatuh ke dalam perkara yang haram.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kebanyakan kita, menganggap ringan perkara syubhat ini. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, bahwa siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar itu, bisa jadi dia jatuh ke dalam perkara yang haram. Orang yang jatuh dalam hal-hal yang meragukan, berani dan tidak memedulikannya, hampir-hampir dia mendekati dan berani pula terhadap perkara yang diharamkan lalu jatuh ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan pula dalam sabdanya yang lain:&lt;br /&gt;دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُك&lt;br /&gt;َ&lt;br /&gt;“Tinggalkan apa yang meragukanmu, kepada apa yang tidak meragukanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni tinggalkanlah apa yang engkau ragu tentangnya, kepada sesuatu yang meyakinkanmu dan kamu tahu bahwa itu tidak mengandung kesamaran.&lt;br /&gt;Sedangkan harta yang haram hanya akan menghilangkan berkah, mengundang kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menghalangi terkabulnya doa dan membawa seseorang menuju neraka jahannam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, ini bukan dongeng pengantar tidur.&lt;br /&gt;Inilah kisah nyata yang diceritakan oleh Ash-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi dibenarkan) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua lelaki itu menjauh dari harta tersebut sampai akhirnya mereka datang kepada seseorang untuk menjadi hakim yang memutuskan perkara mereka berdua. Menurut sebagian ulama, zhahirnya lelaki itu bukanlah hakim, tapi mereka berdua memintanya memutuskan persoalan di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keshalihan kedua lelaki tersebut, keduanya lalu pergi menemui seorang yang berilmu di antara ulama mereka agar memutuskan perkara yang sedang mereka hadapi. Adapun argumentasi si penjual, bahwa dia menjual tanah dan apa yang ada di dalamnya, sehingga emas itu bukan miliknya. Sementara si pembeli beralasan, bahwa dia hanya membeli tanah, bukan emas.&lt;br /&gt;Akan tetapi, rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat mereka berdua merasa tidak butuh kepada harta yang meragukan tersebut.&lt;br /&gt;Kemudian, datanglah keputusan yang membuat lega semua pihak, yaitu pernikahan anak laki-laki salah seorang dari mereka dengan anak perempuan pihak lainnya, memberi belanja keluarga baru itu dengan harta temuan tersebut, sehingga menguatkan persaudaraan imaniah di antara dua keluarga yang shalih ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan pula kejujuran dan sikap wara’ sang hakim. Dia putuskan persoalan keduanya tanpa merugikan pihak yang lain dan tidak mengambil keuntungan apapun. Seandainya hakimnya tidak jujur atau tamak, tentu akan mengupayakan keputusan yang menyebabkan harta itu lepas dari tangan mereka dan jatuh ke tangannya.&lt;br /&gt;Pelajaran yang kita ambil dari kisah ini adalah sekelumit tentang sikap amanah dan kejujuran serta wara’ yang sudah langka di zaman kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarah Riyadhis Shalihin mengatakan:&lt;br /&gt;Adapun hukum masalah ini, maka para ulama berpendapat apabila seseorang menjual tanahnya kepada orang lain, lalu si pembeli menemukan sesuatu yang terpendam dalam tanah tersebut, baik emas atau yang lainnya, maka harta terpendam itu tidak menjadi milik pembeli dengan kepemilikannya terhadap tanah yang dibelinya, tapi milik si penjual. Kalau si penjual membelinya dari yang lain pula, maka harta itu milik orang pertama. Karena harta yang terpendam itu bukan bagian dari tanah tersebut.&lt;br /&gt;Berbeda dengan barang tambang atau galian. Misalnya dia membeli tanah, lalu di dalamnya terdapat barang tambang atau galian, seperti emas, perak, atau besi (tembaga, timah dan sebagainya). Maka benda-benda ini, mengikuti tanah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah lain, yang mirip dengan ini, terjadi di umat ini. Kisah ini sangat masyhur, wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?&lt;br /&gt;Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”&lt;br /&gt;Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”&lt;br /&gt;“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.&lt;br /&gt;“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.&lt;br /&gt;Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut.&lt;br /&gt;Akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata dalam keadaan gelisah dan ketakutan: “Wahai hamba Allah, tahukah anda mengapa saya datang ke sini?”&lt;br /&gt;“Tidak,” kata pemilik kebun.&lt;br /&gt;“Saya datang untuk minta kerelaan anda terhadap separuh apel milik anda yang saya temukan dan saya makan. Inilah yang setengah lagi.”&lt;br /&gt;“Saya tidak akan memaafkanmu, demi Allah. Kecuali kalau engkau menerima syaratku,” katanya.&lt;br /&gt;Tsabit bertanya: “Apa syaratnya, wahai hamba Allah?”&lt;br /&gt;Kata pemilik kebun itu: “Kamu harus menikahi putriku.”&lt;br /&gt;Si pemuda tercengang seraya berkata: “Apa betul ini termasuk syarat? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri anda? Ini anugerah yang besar.”&lt;br /&gt;Pemilik kebun itu melanjutkan: “Kalau kau terima, maka kamu saya maafkan.”&lt;br /&gt;Akhirnya pemuda itu berkata: “Baiklah, saya terima.”&lt;br /&gt;Si pemilik kebun berkata pula: “Supaya saya tidak dianggap menipumu, saya katakan bahwa putriku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh tidak mampu berdiri.”&lt;br /&gt;Pemuda itu sekali lagi terperanjat. Namun, apa boleh buat, separuh apel yang ditelannya, kemana akan dia cari gantinya kalau pemiliknya meminta ganti rugi atau menuntut di hadapan Hakim Yang Maha Adil?&lt;br /&gt;“Kalau kau mau, datanglah sesudah ‘Isya agar bisa kau temui istrimu,” kata pemilik kebun tersebut.&lt;br /&gt;Pemuda itu seolah-olah didorong ke tengah kancah pertempuran yang sengit. Dengan berat dia melangkah memasuki kamar istrinya dan memberi salam.&lt;br /&gt;Sekali lagi pemuda itu kaget luar biasa. Tiba-tiba dia mendengar suara merdu yang menjawab salamnya. Seorang wanita berdiri menjabat tangannya. Pemuda itu masih heran kebingungan, kata mertuanya, putrinya adalah gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tetapi gadis ini? Siapa gerangan dia?&lt;br /&gt;Akhirnya dia bertanya siapa gadis itu dan mengapa ayahnya mengatakan begitu rupa tentang putrinya.&lt;br /&gt;Istrinya itu balik bertanya: “Apa yang dikatakan ayahku?”&lt;br /&gt;Kata pemuda itu: “Ayahmu mengatakan kamu buta.”&lt;br /&gt;“Demi Allah, dia tidak dusta. Sungguh, saya tidak pernah melihat kepada sesuatu yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”&lt;br /&gt;“Ayahmu mengatakan kamu bisu,” kata pemuda itu.&lt;br /&gt;“Ayahku benar, demi Allah. Saya tidak pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka.”&lt;br /&gt;“Dia katakan kamu tuli.”&lt;br /&gt;“Ayah betul. Demi Allah, saya tidak pernah mendengar kecuali semua yang di dalamnya terdapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.”&lt;br /&gt;“Dia katakan kamu lumpuh.”&lt;br /&gt;“Ya. Karena saya tidak pernah melangkahkan kaki saya ini kecuali ke tempat yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”&lt;br /&gt;Pemuda itu memandangi wajah istrinya, yang bagaikan purnama. Tak lama dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang shalih, yang memenuhi dunia dengan ilmu dan ketakwaannya. Bayi tersebut diberi nama Nu’man; Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah rahimahullahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai, sekiranya pemuda muslimin saat ini meniru pemuda Tsabit, ayahanda Al-Imam Abu Hanifah. Duhai, sekiranya para pemudinya seperti sang ibu, dalam ‘kebutaannya, kebisuan, ketulian, dan kelumpuhannya’.&lt;br /&gt;Demikianlah cara pandang orang-orang shalih terhadap dunia ini. Adakah yang mengambil pelajaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahul Muwaffiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1512&lt;br /&gt;http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=777&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-7586446102999825317?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/7586446102999825317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/kisah-seguci-emas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/7586446102999825317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/7586446102999825317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/kisah-seguci-emas.html' title='KISAH SEGUCI EMAS'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-8841413957929844593</id><published>2009-10-26T22:42:00.000-07:00</published><updated>2009-10-26T22:48:55.768-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>KEUTAMAAN MEMELIHARA JENGGOT</title><content type='html'>Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sangat membenci orang yang mencukur janggutnya, sehingga pada suatu ketika dua orang utusan Raja Kisra datang menghadap Rasullullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sedangkan janggut mereka dicukur bersih dan kumis mereka panjang-panjang.&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tak memandang keduanya dan bersabda, "Celakalah kalian berdua, siapakah yang menyuruh kalian berbuat seperti ini?" Mereka menjawab "Tuhan kami Raja Kisra memerintahkan Kami" Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Tetapi Tuhanku memerintahkanku agar menumbuhkan janggut dan menggunting kumisku."&lt;br /&gt;(Bidayah wan-Nihayah jilid IV/269, Hayatus Shahabah jilid I/45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memotong janggut ketika panjangnya kurang dari satu kepal menyerupai orang barat dan banci. Oleh kerana itu, tidak dibenarkan bagi siapapun untuk berbuat demikian, kerana mencukur bersih janggut adalah amalan Hindu dan Majusi dari Persia."&lt;br /&gt;(Shami Tabigh hal. 418)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas r.a. berkata bahawa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Allah melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki."&lt;br /&gt;(HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah r.a. meriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Sepuluh perkara adalah fitrah, diantaranya mencukur kumis dan menumbuhkan janggut"&lt;br /&gt;(hadits shahih riwayat Muslim, jilid I hal. 129)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kitab Hukmul Lihya Fil Islam yang dikutip dari Ibnu Hibban , terdapat hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. yang menyebutkan: "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda bahawa diantara fitrah Islam adalah mencukur kumis dan memanjangkan janggut kerana sesungguhnya orang-orang Majusi memanjangkan kumis mereka dan mencukur janggutnya. Maka berbezalah kalian dari mereka dengan cara mencukur kumismu dan memanjangkan janggutmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Zaid bin Arqam r.a. meriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Barangsiapa tidak memotong kumisnya, maka dia bukanlah dari golongan kami."&lt;br /&gt;(HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa' - Misykat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari rah.a. menegaskan, apabila Ibnu Umar r.a. melakukan haji dan umrah, dia selalu memegang janggutnya dengan tangannya yang tergenggam, kemudian memotong janggut yang melebihinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Abu Dawud diberitakan:&lt;br /&gt;Dari Jabir r.a. berkata, "Kami pernah membiarkan janggut-janggut kami memanjang dan melebar, kecuali ketika musim haji atau umrah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar r.a. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Guntinglah kumismu dan panjangkanlah janggutmu." Dalam riwayat lain, sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan kami menggunting kumis dan memanjangkan janggut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar r.a. berkata bahawa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Tentanglah orang-orang musyrik dengan memanjangkan janggutmu dan menggunting kumismu."&lt;br /&gt;(muttafaq alaih - Misykat hal. 380)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Guntinglah kumismu dan tumbuhkanlah janggutmu, kerana dengan demikian kamu menentang kaum majusi (penyembah api)."&lt;br /&gt;(Shahih Muslim hal. 129)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalil-dalil tentang berjenggot itu sangat banyak sekali, dan berdasarkan nash yang shohihah, sebagai berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. "Abdullah bin Umar berkata : Bersabda Rasulullah Shalallahu ?alaihi wassalam : Janganlah kamu menyerupai orang-orang Musyrikin, peliharalah jenggot kamu dan tipiskanlah kumis kamu". HR al Bukhari, Muslim dan al Baihaqi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. "Dari Abi Imamah : Bersabda Rasulullah Shalallahu ?alaihi wassalam : Potonglah kumis kamu dan peliharalah jenggot kamu, tinggalkan (jangan meniru) Ahl al-Kitab". Hadits sahih, HR Ahmad dan at Tabrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. "Dari Aisyah berkata : Bersabda Rasulullah Shalallahu ?alaihi wassalam : Sepuluh perkara dari fitrah (dari sunnah nabi-nabi) diantaranya ialah mencukur kumis dan memelihara jenggot". HR Ahmad, Muslim, Abu Daud, at Tirmidzi, an Nasaii dan Ibn Majah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. "Dari Abi Hurairah Radiyallahu ‘anhu: Bersabda Rasulullah Shalallahu ?alaihi wassalam : Bahwasanya ahli syirik memelihara kumisnya dan memotong jenggotnya, maka janganlah meniru mereka, peliharalah jenggot kamu dan potonglah kumis kamu". HR al Bazzar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : Janganlah kamu meniru (menyerupai) orang-orang Majusi (penyembah berhala) karena mereka itu memotong (mencukur) jenggot mereka dan memanjangkan (memelihara) kumis mereka". HR Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. "Tipiskanlah kumis kamu dan peliharalah jenggot kamu. Di riwayat yang lain pula : Potonglah kumis kamu dan peliharalah jenggot kamu". HR al Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Dari Abi Hurairah berkata : Telah bersabda Rasulullah Shalallahu ?alaihi wassalam : Di antara fitrah dalam Islam ialah memotong kumis dan memelihara jenggot, bahwasanya orang-orang Majusi memelihara kumis mereka dan memotong jenggot mereka, maka janganlah kamu menyerupai mereka, hendaklah kamu potong kumis kamu dan peliharalah jenggot kamu". HR Ibn Hibban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. "Dari Abdullah bin Umar berkata : Pernah disebut kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam seorang Majusi maka beliau bersabda : Mereka (orang-orang Majusi) memelihara kumis mereka dan mencukur jenggot mereka, maka (janganlah menyerupai cara mereka) tinggalkan cara mereka". HR al Baihaqi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. "Dari Ibn Umar Radiyallahu ?anhu berkata : Kami diperintah supaya memelihara jenggot". HR Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Dari Abi Hurairah : Bersabda Rasulullah Shalallahu ?alaihi wassalam : Cukurlah kumis kamu dan peliharalah jenggot kamu". HR Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. "Dari Abi Hurairah berkata : Bersabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam : Peliharalah jenggot kamu dan cukurlah kumis kamu, janganlah kamu meniru (menyerupai) Yahudi dan Nasrani". HR Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. "Dari Ibn Abbas berkata : Bersabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam : Janganlah kamu meniru (menyerupai) Ajam (orang asing dan kafir), maka peliharalah jenggot kamu". HR al Bazzar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-8841413957929844593?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/8841413957929844593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/keutamaan-memelihara-jenggot.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/8841413957929844593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/8841413957929844593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/keutamaan-memelihara-jenggot.html' title='KEUTAMAAN MEMELIHARA JENGGOT'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-8640357395218724944</id><published>2009-10-26T19:39:00.000-07:00</published><updated>2009-10-26T19:47:47.423-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>AGAR IBADAH KITA DITERIMA ALLOH</title><content type='html'>Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah adalah perkara tauqifiyah, yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah (hadits).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Artinya): “Dan Kami turunkan kepadamu kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” [QS. An-Nahl: 89]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Artinya): “Dan Allah telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As Sunnah) kepadamu.” [QS. An-Nisaa': 113]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa-apa yang diluar dari syari’at tersebut tertolak, sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Artinya): “Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim 9No. 1718 (18)) dan Ahmad (VI/146, 180, 256) dari hadits 'Aisyah rhadliallahu anha]&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang di hatinya tertanam keimanan yang kuat pasti bertekad ingin beribadah dengan sebenar-benarnya. Ingin ibadahnya itu diterima oleh Allah dan tidak sia-sia. Takut dan cemas jika amalannya tertolak, tersia-siakan. Lalu bagaimana agar amalan / ibadah tersebut dapat diterima?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua syarat agar ibadah kita diterima oleh Allah Ta’ala, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan syirik kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Artinya): “Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” [QS. Az-Zumar: 2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Artinya): “Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” [QS. Al-Kahfi: 110]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah mengutus seorang Rasul dan sudah sepantasnyalah Rasul tersebut diikuti setiap ajarannya. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Artinya): “Dan apa yang diberikan Rasul padamu, maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” [QS. Al-Hasyr: 7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah tersebut harus sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Apa yang tidak diajarkannya tidak dapat disebut ibadah. Dan jika perbuatan tersebut dikatakan sebagai ibadah, maka hal tersebut adalah kebohongan. Ibadah-ibadah bohong ini disebut bid’ah. Tidak hanya itu, para pelaku bid’ah (mubtadi’) mendapat pembalasan yang sungguh mengerikan, yaitu masuk ke dalam neraka, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Artinya): “Jauhilah perkara-perkara baru karena setiap perkara baru itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu kesesatan dan setiap kesesatan itu masuk ke dalam neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan jika setiap orang boleh memilih ibadahnya sendiri yang sesuai dengan nalar dan keinginannya. Sesuai dengan kebutuhannya, baik secara perorangan maupun golongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tercipta ibadah-ibadah yang berbeda-beda. Islam akan terkotak-kotak. Dan yang berbahaya adalah jika setiap orang atau golongan tersebut merasa paling benar sehingga memaksakan pendapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehancuranlah yang terjadi. Dapat dibayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua syarat ini, yaitu ikhlas dan ittiba’ pada Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, merupakan perwujudan dari dua kalimat syahadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman.&lt;br /&gt;(Artinya): “Barangsiapa yang menta’ati Rasul sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” [QS. An-Nisaa': 80]‘&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita memulai mengkaji setiap ibadah kita. Apakah sudah termasuk perbuatan yang dapat meraih cintai dan ridha Allah Ta’ala? Apakah sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam? Jika belum. Marilah kita kembali belajar dan terus belajar menimba ilmu-ilmu yang bermanfaat. Hal ini adalah untuk kebaikan kita sendiri, yaitu untuk menghindari kita dari neraka jahannam dan menggapai ridha Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita termasuk ke dalam para penghuni syurga. Allahumma amiin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan:&lt;br /&gt;1. Prinsip Dasar Islam Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih; Yazid bin Abdul Qadir Jawas; Pustaka At-Taqwa.&lt;br /&gt;2. Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah; Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin; Dep. Agama, Wakaf, Dakwah, dan Bimibingan Kerajaan Saudi Arabia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-8640357395218724944?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/8640357395218724944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/agar-ibadah-kita-diterima-alloh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/8640357395218724944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/8640357395218724944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/agar-ibadah-kita-diterima-alloh.html' title='AGAR IBADAH KITA DITERIMA ALLOH'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-7271397616216916193</id><published>2009-10-26T16:31:00.000-07:00</published><updated>2009-10-26T16:47:28.591-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>Pesan Untuk Pendidik Anak</title><content type='html'>Sesungguhnya nikmat (yang diberikan) Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak terhitung dan diantara nikmat-nikmat yang sangat agung dan mulia adalah nikmat anak. Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia." (Al-Kahfi: 46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmat yang sangat agung ini adalah merupakan satu amanah dan tanggung jawab bagi kedua orang tua dan akan ditanya tentang nikmat tersebut pada hari Kiamat, &lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian (akan) ditanya tentang kepemimpinan-nya: Seorang imam adalah pemimpin dan dia (akan) ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia (akan) di tanya tentang kepemimpinannya." (Muttafaq 'Alaih).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman, yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim radhiyallah 'anhu berkata: "Barangsiapa menelantarkan pendidikan anaknya dan meninggalkan apa yang bermanfaat buat mereka, maka dia telah merusak masa depan anak; kebanyakan anak tidak bermoral hanya karena bapak mereka tidak peduli terhadap pendidikan mereka , sehingga para bapak tidak dapat mengambil manfaat dari anak, dan anak (pun) tidak akan memberikan manfaat kepada bapaknya ketika telah besar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada seluruh ayah, ibu dan pendidik (kami berikan) pesan dan nasehat yang singkat semoga Allah memberikan manfaat dengannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Landasan utama dalam pendidikan anak-anak adalah menanamkan nilai 'ubudiyah (peribadahan) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hati mereka, serta memelihara dan menjaganya dalam diri mereka. Diantara nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kita adalah bahwa seorang anak dilahirkan diatas agama islam, agama fithrah. Maka hal itu tidaklah membutuhkan kecuali menjaga dan memeliharanya serta senantiasa membantu mereka agar tidak menyimpang dan tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ayah dan ibu dianggap beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala ketika mendidik, berinfak, menjaga, mengawasi, dan mengajari (anak-anaknya) bahkan sampai ketika membahagiakan mereka dan bersenda gurau dengan mereka, apabila ayah dan ibu mengharapkan yang demikian itu, maka mereka akan mendapat pahala. &lt;br /&gt;Memberikan nafkah kepada anak-anak adalah merupakan ibadah sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu dinar yang engkau infaqkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infaqkan kepada hamba sahaya, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin dan satu dinar yang engkau infaqkan kepada keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah satu dinar yang engkau infaqkan kepada keluargamu." (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Harus mengikhlaskan (niat) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam mendidik anak, jika seorang pendidik menginginkan dunia maka keikhlasannya telah rusak. Tidak diragukan lagi bahwa tujuan mendidik anak adalah mencari pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Do'a adalah ibadah. Para nabi dan rasul telah berdo'a untuk anak-anak dan isteri-isteri mereka:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami." (Al-Furqan: 74) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika Ibrahim berkata: &lt;br /&gt;"Wahai Rabbku jadikanlah negeri ini negeri yang aman serta jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala-berhala." (Ibrahim: 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak do'a-do'a dapat meringkaskan lamanya perjalanan tarbiyah? Pilihlah waktu-waktu dikabul-kannya do'a dan jauhilah penghalang-penghalangnya, rendahkanlah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan memohonlah dihadapanNya agar Allah memberikan petunjuk kepada keturunanmu dan menjauhkan setan darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Wajib bagi Anda mencari harta yang halal dan menjauhi yang syubhat (samar) serta janganlah (sampai) engkau terjatuh dalam keharaman. Sesungguhnya telah shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap jasad yang tumbuh dari harta yang haram, maka neraka lebih pantas baginya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah dan ibu jangan mengira bahwa harta yang haram itu ada dalam riba, mencuri dan uang suap semata. Bahkan sampai ada dalam menyia-nyiakan waktu bekerja, dan mema-sukkan harta yang haram tanpa ada timbal baliknya. Maka kebanyakan para pegawai, pengajar dan pekerja meremehkan pekerjaan mereka dan terlambat dari waktu kerja beberapa detik. Demikian pula memakan harta manusia dengan bathil dan merampas hak-hak mereka. Pilihlah harta yang halal walaupun sedikit (jumlahnya) sesungguhnya di dalamnya ada berkah yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Teladan yang baik adalah merupakan (sarana) tarbiyah yang sangat penting. Maka bagaimana (mungkin) anakmu bersemangat melaksanakan shalat sedangkan dia melihatmu menyia-nyiakan shalat? Dan bagaimana (mungkin) anakmu men-jauhkan diri dari lagu-lagu dan lawakan sedangkan dia melihat kedua orang tuanya senantiasa mendengar-kannya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Sabar adalah hal yang telah dilupakan oleh sebagian orang tua. Sabar adalah merupakan sebab-sebab terpenting dalam keberhasilan tarbiyah. Maka Anda wajib bersabar, atas teriakan anak yang masih kecil dan jangan marah, bersabarlah ketika dia sakit dan berharap pahala dari Allah, saat menasehatinya dan jangan bosan, saat Anda menunggu anak agar dia keluar bersama Anda untuk shalat, dan saat engkau duduk di masjid setelah sholat ashar agar anak Anda menghafal (Al-Qur'an) bersama Anda. Dan bergembiralah sesungguhnya Anda ada dalam jalan jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Shalat, adalah kewajiban yang sangat agung dan inti yang kedua dari kewajiban agama didiklah anak Anda agar tahu tentang pentingnya dan agungnya kedudukan sholat. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda sebagaimana hal itu diriwayatkan oleh Imam Ahmad: &lt;br /&gt;"Perintahkanlah anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun dan pukullah mereka (jika meninggalkan) shalat pada usia 10 tahun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai ayah janganlah Anda menjadi bodoh, yang mampu menyayangi anaknya dari dinginnya (hawa) pada musim dingin tapi tidak mampu membangunkan anaknya untuk mengerjakan shalat. Bahkan jadilah Anda diantara orang-orang yang berakal dan sayangilah anakmu dari api neraka jahannam wal 'Iyadzu billah, maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa mengerjakan shalat Fajar ( Subuh ) secara berjamaah maka dia ada dalam perlindungan Allah." (HR. Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Haruslah menjaga hak milik yang khusus dan bagian-bagian pribadi di antara anak-anak, serta bersikaplah adil terhadap mereka dalam pergaulan dan pemberian serta perhatian dalam pendidikan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tumbuhkanlah dalam diri anak-anak Anda pengagungan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala , mencintaiNya dan mentauhid-kanNya, dan peringatkanlah mereka tentang kesalahan aqidah yang engkau lihat serta peringatkanlah mereka dari terjatuh kedalamnya. perintahkan yang ma'ruf dan cegahlah dari yang mungkar serta doronglah mereka untuk melakukan hal tersebut, sesungguhnya hal itu menjadi penyebab tetapnya mereka di atas agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kita berada dalam satu zaman yang didalamnya telah tersebar fitnah dari segala sisi. Maka jadilah Anda sebagai orang yang membela nasib anak-anakmu. Hendaklah engkau mempunyai nasehat yang baik dalam memilihkan teman-teman mereka karena sesungguhnya seorang ter-gantung sahabatnya dan Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seorang laki-laki diatas agama teman dekatnya maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat kepada siapa dia berteman dekat." (HR. At-Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waspadalah jangan sampai Anda mengajak mereka ke tempat-tempat yang hanya membuang-buang waktu saja atau tempat-tempat yang dida-lamnya ada kemungkaran-kemungkaran. Jadilah Anda sebagai ayah, sahabat dan teman bagi mereka. Tumbuhkanlah sifat kejantanan dalam diri anak laki-lakimu dan serta sifat malu dan kesucian dalam diri anak perempuan-mu, dan tauladan ( dalam hal) pakaian, nasehat dan persamaan serta janganlah Anda meremehkan keluar-nya anak-anak.&lt;br /&gt;Semoga Allah mengumpulkan kita, mereka dan orang tua kita di Surga 'Adn. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Nabi kita Muham-mad, keluaraganya, dan para saha-batnya semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buletin dakwah dengan judul: "Washaya Litarbiyatil Abna'" terbitan Daar-Al-Qasim, Riyadh. (alsofwah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber http://www.kajianislam.net/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-7271397616216916193?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/7271397616216916193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/pesan-untuk-pendidik-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/7271397616216916193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/7271397616216916193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/pesan-untuk-pendidik-anak.html' title='Pesan Untuk Pendidik Anak'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-7719664371045072754</id><published>2009-10-26T16:12:00.000-07:00</published><updated>2009-10-26T16:21:36.334-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>JADILAH KUNCI KEBAIKAN</title><content type='html'>عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” إن من الناس مفاتيح للخير مغاليق للشر و إن من الناس مفاتيح للشر مغاليق للخير ، فطوبى لمن جعل الله مفاتيح الخير على يديه ، و ويل لمن جعل الله مفاتيح الشر على يديه “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Sesungguhnya diantara manusia ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Dan diantara manusia ada pula yang menjadi kunci-kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan di tangannya dan celakalah bagi orang-orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan di tangannya”.[1]&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang ingin menjadi kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan , hendaklah ia memenuhi hal berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Ikhlas untuk Allah dalam perkataan dan perbuatan. Karena ikhlas adalah asas segala kebaikan dan mata air segala keutamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Senantiasa berdo’a kepada Allah memohon bimbingan untuk menjadi kunci kebaikan. Karena do’a adalah kunci segala kebaikan. Allah tidak akan menolak hamba-Nya yang berdo’a kepada-Nya serta tidak akan menyia-nyiakan seorang mukmin yang menyeru-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Bersemangat menuntut dan mendapatkan ilmu. Karena ilmu mengajak kepada keutamaan dan akhlak yang mulia, serta penghalang dari akhlak tercela dan perbuatan keji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Menjalakan ‘ibadatullah terutama yang fardhu, dan khususnya lagi sholat. Karena ia mencegah dari perbuatan keji dan munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, serta menjauh dari akhlak tercela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Berteman dengan orang-orang baik dan sholeh. Karena duduk bersama orang-orang yang sholeh dinaungi malaikat dan diliputi rahmat. Serta menjauhkan diri dari duduk di majelis orang-orang yang jahat dan tidak baik, sesungguhnya itu adalah tempat singgah setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Menasehati manusia ketika bergaul  dan berbaur dengan mereka, dengan cara menyibukkan mereka dengan kebaikan dan memalingkan mereka dari keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Mengingat hari berbangkit dan sa’at berdiri di hadapan Robbul ‘Alamiin. Ketika Ia membalas orang yang baik dengan kebaikan dan orang yang jahat dengan hukuman. (Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)Nya Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.[2])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Dan pilar penyanggah semua itu adalah keinginan seorang hamba kepada kebaikan serta memberi manfaat kepada orang lain.  Apabila keinginan seseorang  kuat, niat dan tekad sudah bulat serta memohon pertolongan kepada Allah dalam melakukan itu, lalu melakukannya sesuai jalurnya. Maka dengan izin Allah akan menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (237) dan dihasankan oleh Al-Albany di Shohih Sunan Ibnu Majah (194).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Al-Zalzalah : 7-8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Al-Fawaid Al-Mantsuroh (161-162) oleh Syaikh Dr. Abdurrozaq bin Abdu Muhsin Al-Badr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber http://abuzubair.net/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-7719664371045072754?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/7719664371045072754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/jadilah-kunci-kebaikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/7719664371045072754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/7719664371045072754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/jadilah-kunci-kebaikan.html' title='JADILAH KUNCI KEBAIKAN'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-2726815444553298373</id><published>2009-10-26T05:37:00.000-07:00</published><updated>2009-10-26T06:15:54.664-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>JADILAH SEPERTI MEREKA</title><content type='html'>MEMBALAS KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca kehidupan orang-orang sholeh sungguh menakjubkan. Terlebih lagi jika mereka adalah generasi terbaik umat ini. Kehidupan mereka bertabur mutiara hikmah dan pelajaran berharga bagi kehidupan generasi sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab-kitab sejarah dan sunnah telah menorehkan lembaran-lembaran emas kehidupan mereka. Beruntunglah orang-orang yang meneladani mereka dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ) (التوبة:100)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan kali ini, kita bersama sebuah kisah menakjubkan yang dinukilkan kepada kita oleh “kutubussunnah”. Kisah yang terjadi antara dua orang sahabat mulia; Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu. Manusia paling afdhol setelah para rasul dan nabi. Kholifah Ar-Rosyid yang pertama semoga Allah meridhoinya. Dan khodim Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Yang pernah memintanya untuk menemaninya di surga. Lantas Nabi berkata kepadanya, “Kalau begitu aku akan mendo’akanmu, tetapi bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud”. Dialah Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslamy rodhiyallahu ‘anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim di Mustadroknya, ia berkata, “Ini adalah hadits shohih menurut syarat Muslim dan keduanya tidak mengeluarkannya”. Dari Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslamy rodhiyallahu ‘anhu ia menuturkan, Rasulullah shollahu ‘alaihi wasallama memberiku sebidang tanah, dan ia juga memberi Abu Bakar sebidang tanah. Lalu kami berselisih pada sepokok kurma. Ia (Robi’ah) berkata, “Maka datanglah dunia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Abu Bakar berkata, “Ini termasuk dalam batas tanahku”. Aku pun menyanggah, “Tidak .. akan tetapi ini termasuk dalam batas tanahku”. Lantas Abu Bakar melontarkan kepadaku kata-kata yang tidak aku sukai. Dan dia menyesali kata-katanya itu. Maka ia berkata kepadaku, “Hai Robi’ah, ucapkanlah kepadaku seperti apa yang telah aku katakana kepadamu sehingga menjadi qishosh”. Aku menjawab, “Tidak, demi Allah aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali yang baik”. Abu Bakar kembali berkata, “Demi Allah, engkau harus mengucapkan kepadaku seperti ucapanku kepadamu sehingga menjadi qishosh atau aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata, “Tidak, aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali yang baik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Abu Bakar tidak menerima pembagian tanah tersebut, dan ia mendatangi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Sementara aku (Robi’ah) mengikuti di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelompok orang dari suku Aslam (suku Robi’ah) berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Dia yang telah melontarkan kata-kata itu kepadamu, kenapa dia yang mengadukanmu kepada Rasulullah?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata, “Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Abu Bakar .. teman Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama di dalam gua. Orang yang dituakan oleh kaum muslimin. Jangan sampai ia menoleh dan melihat kalian membelaku, sehingga dia marah lantas Rasulullah ikut marah karena kemarahanya, maka Allah akan marah pula karena kemarahan keduanya. Jika sampai itu terjadi celakalah Robi’ah. Pulanglah kalian!!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robi’ah bergegas menyusul Abu Bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai Abu Bakar di hadapan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, ia menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Robi’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah berkata kepada Robi’ah, “Hai Robi’ah, ada apa antara kamu dengan Ash-Shiddiq?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robi’ah menceritakan apa yang terjadi dan apa yang diucapkan oleh Abu Bakar kepadanya. Dan keengganannya membalas Abu Bakar dengan ucapan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata kepadanya, “Baiklah, jangan katakan kepadanya seperti yang dikatakannya kepadamu, akan tetapi katakanlah ‘Semoga Allah mengampunimu hai Abu Bakar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Abu Bakar pergi meninggalkan majelis tersebut sambil menangis …[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah menakjubkan yang dinukilkah oleh kutubussunah kepada kita. Di dalamnya terkandung butir-butir pelajaran berharga bagi setiap muslim yang ingin meneladani generasi emas umat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah dari mana kita mulai memetik pelajaran kisah ini. Apakah dari Rasulullah shollallahu yang adil dan bijaksana; bagaimana beliau mendengarkan masalah ini dari kedua belah pihak. Dan bagaimana beliau akhirnya membuat keduanya melewati polemik ini dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah kita mulai dari jiwa besar Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu. Ataukah kita akan membicarakan akhlak Robi’ah dan penghormatannya terhadap Ash-Shiddiq??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar kisah ini adalah apa yang terjadi di antara dua orang sahabat yang mulia ini, dan pandangan mereka yang berbeda tentang sebatang korma yang menjadi pemicu perselisihan kecil antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah ini, Robi’ah menuturkan penyebab terjadinya perselisihan ini, ia mengatakan (Dan datanglah dunia …) maksudnya sebab utama adalah karena perhatian kepada dunia dan perhiasannya. Seolah-olah Robi’ah rodhiyallahu ‘anhu mengatakan kepada kita bahwa dunia dan perhiasaannya adalah penyebab banyak perselisihan di antara sesama muslim. Seolah-olah ia mengatakan kepada kita, kenapa harus berselisih, bertengkar, dan saling memutus hubungan persaudaraan hanya karena harta, tanah atau warisan dan urusan dunia lainnya?? Sampai kapan dunia ini menyibukkan kita dari tujuan dan cita-cita yang mulia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkan firman Robb kita Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيماً تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِراً)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Al-Kahfi : 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian cobalah ulang lagi membaca dan merenungi penuturan Robi’ah (Lantas Abu Bakar melontarkan kepadaku kata-kata yang tidak aku sukai. Dan dia menyesali kata-katanya itu). Tidak diceritakan apa kalimat yang telah dilontarkan Abu Bakar kepada Robi’ah. Kita yakin tentu kalimat tersebut tak lebih dari sekedar ketidak sengajaan yang segara di sadari Abu Bakar dengan penyesalannya atas apa yang telah ia ucapkan. Ini merupakan ‘ibroh yang luar biasa. Seorang yang berjiwa besar sekalipun ia dihormati jika keliru segera kembali kepada yang benar. Kemudian tidak adanya nukilan ucapan Abu Bakar tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwasanya Robi’ah sama sekali tidak memendam dendam. Ia ingin ucapan Abu Bakar tersebut dilupakan dan tidak diingat …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu meminta Robi’ah rodhiyallahu ‘anhu membalas ucapannya sebagai qishosh atas perbuatannya. Kedudukannya di sisi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama tidak membuatnya menghinakan dan merendahkan seseorangpun dari kaum muslimin bahkan dia tidak ingin menyakiti seseorangpun sekalipun itu hanya dengan ucapan sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sikap yang mulia ini Ash-Shiddiq mengajarkan kepada kita sifat adil, tawadhu dan tidak sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain juga tergambar jiwa besar Robi’ah. Ia tidak ingin membalas kalimat yang tidak disukainya dengan kalimat yang semisal. Bahkan ia menegaskan (Tidak ..demi Allah aku tidak akan katakan kepadamu kecuali yang baik). Ini peringatan bagi kita agar kita tidak membalas keburukan dengan kebaikan. Jangan biarkan syetan mendapatkan celah untuk merusak mu’amalahmu bersama saudara-saudara dan sahabat-sahabatmu. Jangan ucapkan dengan lisanmu kecuali yang ucapan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan”. (Al-Mukminun : 96)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga menjadi ‘ibroh yang berharga bagi orang-orang yang menjadikan lisannya laksana pedang untuk mencaci-maki, mencela, mengolok-olok, memakan bangkai saudaranya (ghibah), atau berdusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan .. jangan lakukan itu saudaraku!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia memberikan kepada kita pelajaran lain yaitu ’sabar’. Ia tidak membalas ucapan Abu Bakar .. sama sekali tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah ini pelajaran bagi kita semua, agar kita mengendalikan nafsu dan emosi kita. Sangat disayangkan sebagian orang membalas satu kata dengan dua kali lipat atau bahkan berlebih-lebihan. Masalah sepele saja memantik emosinya, sehingga menggelegak lalu mencela, memaki dan melaknat. Lupakah ia wasiat Qudwah-nya shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika mewasiatkan salah seorang sahabatnya, “Jangan marah”.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Abu Bakar yang menyesali perkataannya, ketika Robi’ah tidak mau membalasnya ia pergi menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama untuk meminta petunjuk dalam masalahnya itu. Ini mengandung faedah yang agung yaitu meminta bantuan orang yang lain yang bisa dipercaya dan amanah untuk menjadi penengah dan membantu mendamaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Robi’ah mengikutinya. Di jalan beberapa orang kaum Robi’ah berusaha menghalanginya mengikuti Abu Bakar. Seolah-olah mereka mengatakan kepadanya (bukankah Abu Bakar yang salah kepadamu, dan engkau yang benar? Kenapa engkau mengikutinya?) dengarkan jawaban yang sangat dalam maknanya dari Robi’ah (Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Abu Bakar, ini adalah teman (Rasulullah) di dalam gua .. orang yang dituakan oleh kaum muslimin!! Jangan sampai ia melihat kalian membelaku, lalu dia marah, lantas Rasulullah marah karena kemarahannya maka Allah pun marah karena kemarahan keduanya sehingga binasalah Robi’ah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh akhlak yang tinggi baik perkataan maupun perbuatannya. Budi pekerti nan luhur dalam bermu’amalah, menghormati dan memuliakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua bagaimana memposisikan orang lain sesuai dengan kedudukannya. Semoga Allah meridhoimu hai Robi’ah ketika engkau mengetahui keutamaan orang yang memiliki kedudukan. Semoga Allah meridhoimu ketika engkau menghormati Abu Bakar dan memuliakannya. Semoga Allah meridoimu ketika engkau menimbang permasalahaan dengan timbangan syara’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah …Robi’ah mengetahui kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah, maka dia takut kemarahannya karena dia khawatir itu akan menyebabkan Rasulullah marah lalu menyebabkan Allah juga marah. Ini yang tidak terpikirkan oleh kaumnya yang menimbang masalah itu dengan emosi mereka semata. Dalam masalah ini pelajaran berharga bagi umat, bahwasanya emosi dan perasaan yang tidak dikontrol dengan batasan-batasan syara’ menyebabkan hasil-hasil yang tidak terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah wahai saudaraku ..apa yang terjadi ditengah umat islam. Munculnya pemikiran-pemikiran dan perbuatan-perbuatan yang digerakkan oleh emosi dan semangat yang tidak mengikuti rambu-rambu syara’ ..sehingga menimbulkan kerusakan di muka bumi ..meledakkan, menghancurkan dan mengkafirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku kaum muslimin … ilmu syar’I yang dibangun di atas pondasi yang shohih adalah satu-satunya jalan menggapai keselamatan umat dan kemenangannya. Kita adalah umat yang memiliki manhaj dan azas yang jelas. Pilar-pilarnya jelas ..takkan ada yang menggoyahkan baik hawa yang diikuti atau emosi yg tak terkendali atau semangat yg kosong dari ilmu syar’I, selama kita berpegang teguh dengan dasar-dasar yang shohih tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang terjadi di antara dua orang sahabat sebelum keduanya sampai kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Adapun yang terjadi dihadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Keduanya bertemu dihadapan Rasulullah. Dan beliau mendengarkan dari keduanya dengan seksama. Beginilah Rasulullah dengan para sahabatnya rodhiyallahu anhum; mendengarkan mereka, duduk bersama mereka. Mereka meminta pendapatnya lalu beliau memberikan petunjuk dan saran. Mereka bertanya beliau menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah ini, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama mendengarkan penuturan keduanya. Dia tidak hanya mendengarkan sepihak. Ini bentuk keadilan beliau. Setelah beliau mendengar keduanya dan setelah jelas semua permasalahan, ia menunjukkan kepada Robi’ah yang lebih baik dari membalas ucapan Abu Bakar, dan beliau mendukungnya untuk tidak membalas bahkan beliau berkata kepadanya, “Katakan kepadanya (semoga Allah mengampunimu hai Abu Bakar)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robi’ah pun mengucapkannya ..namun jiwa besar Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu yang takut kepada Allah tidak sanggup menerimanya sehingga air matanya mendahului kata-katanya. Dan ia pun pergi dengan menangis semoga Allah meridhoinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah .. Alangkah indah dan mengagumkannya kisah ini, penuh dengan akhlak yang mulia, budi pekerti nan tinggi, saling memaafkan dan berlapang dada. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ (الشورى: من الآية40(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberikan kekuatan dan keteguhan kepada kita untuk meneladani Salafush Sholeh .. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Kisah ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad (4/58-59) dan Ath-Thobroni di Al-Mu’jamul Kabir (5/52-530 dan Ibnu Asakir di At-Tarikh (9/583) dan isnadnya dihasankan oleh Syeikh Al-Albany di As-Silsilah Ash-Shohihah (no. 3145).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber http://abuzubair.net&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-2726815444553298373?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/2726815444553298373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/jadilah-seperti-mereka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/2726815444553298373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/2726815444553298373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/jadilah-seperti-mereka.html' title='JADILAH SEPERTI MEREKA'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-6398850140121355799</id><published>2009-10-25T20:04:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T20:06:43.759-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>janganlah kita menunda nunda taubat</title><content type='html'>Di antara manusia terdapat segolongan orang yang mengetahui kesalahannya dan mengetahui keharaman perbuatan yang dilakukannya, namun dia masih saja menunda-nunda taubat dan selalu mengucapkan: “Nanti dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara mereka ada yang menundanya sampai menikah, lulus sekolah, bahkan sampai menginjak usia senja dan karena berbagai alasan penundaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan kesalahan besar sebab bertaubat wajib dilakukan secara langsung. Pasalnya, semua perintah Allah dan Rasul-Nya menyatakan bahwa bertaubat itu wajib dilaksanakan secara langsung, selama tidak ada dalil yang menunjukkan kebolehan menunda pelaksanaannya. Bahkan, menunda taubat merupakan salah satu dosa yang wajib dimohonkan ampunan kepada Allah Azza wa Jalla.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Ghazali rahimahulla berkata: “Tidak ada keraguan mengenai kewajiban bertaubat secara langsung. Sebab mengenali berbagai kemaksiatan sebagai sesuatu yang membinasakan merupakan sebagian dari iman, maka itu wajib dilakukan dengan segera.” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Bertaubat dengan segera merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan dan tidak boleh ditunda. Setiap kali seorang hamba menunda taubat, berarti ia telah berbuat maksiat kepada Allah dan apabila ia sudah bertaubat dari dosa yang dilakukannya, maka tinggal kewajiban untuk bertaubat dari perbuatan menunda pelaksanaan taubat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarang sekali hal ini terlintas dalam pikiran orang yang bertaubat, bahkan menurutnya, apabila sudah bertaubat dari dosa ia lakukan, berarti tidak ada lagi kewajiban lain yang harus ia laksanakan, yaitu bertaubat dari perbuatan menunda-nundanya.” [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Qisharul Amal, Ibnu Abid Dunya rahimahulla menyebutkan, dari Ikrimah rahimahullah, dalam firman Allah Azza wa Jalla:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Dan mereka menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh.” [QS.Saba': 53]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berkata: “Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Bertaubatlah’, maka mereka menjawab: ‘Nanti dulu.” [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya seorang hamba segera bertaubat sebab ini memang kewajiban baginya. Tujuannya agar dosa-dosanya tidak menjadi pembungkus hatinya sehingga sulit dihapus atau ia tidak didahului oleh angan-angan yang selalu mengiringi dosanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, menunda taubat justru merupakan penyebab sulitnya bertaubat dan pendorong iuntuk melakukan dosa yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya jika seorang mukmin melakukan dosa, maka tertorehlah noda hitam dihatinya. Apabila ia bertaubat dan berhenti dari dosa itu dan memohon ampun kepada Allah, maka hatinya mejadi bersih dari noda tersebut. Apabila dosanya bertambah, maka bertambah pula noda tersebut sampai menutupi hatinya. Itulah noda yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya : ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup (menjadi noda) hati mereka.” [4] [QS.Al-Muthaffifiin:14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Jauzi rahimahullah berkata: “Wahai, orang-orang yang menyia-nyiakan usianya, sampai kapan engkau akan menunda taubat? Tidak ada alasan bagimu untuk menundanya! Sampai kapan orang akan berkata kepadamu: ‘Hai orang yang terfitnah dan tertipu?’ Kasihan sekali kamu ini! Bulan-bulan kebaikan telah berlalu, namun kamu masih menghitung bulan-bulan itu. Apakah kamu tahu amalan itu diterima atau ditolak? Apakah kamu tahu bahwa dirimu adalah orang yang menyambung tali silaturrahim atau yang memutuskannya? Apakah kamu tahu kelak akan meniti kebahagiaan atau pada mukamu tergambar penyesalan? Apakah kamu mengetahui bahwa dirimu adalah salah seorang penghuni Neraka atau Istana?” [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah juga berkata: “Kelalaian apakah ini, padahal kalian bias menyaksikan? Ketidaksadaran apakah ini, padahal kalian masih terjaga? Bagaimana bisa kalian melupakan perbekalan, sementara kalian sedang bepergian? Berapa banyak orang-orang terdahulu sebelum kalian telah meninggal, apakah kaian tidak berpikir? Tidakkah kalian menyaksikan bagaimana Allah menempatkan mereka pada posisi yang merugikan? Mereka tidak mampu memberikan satu wasiat pun dan tidak juga bisa kembali kepada keluarganya.” [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Ihyaa-u ‘Uluumiddiin [IV/7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Madaarijus Saalikiin [I/283]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Qisharul Amal karya Ibnu Abid Dunya hal.141&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Diriwayatkan oleh Ahmad (II/298), at Tirmidzi (no.3334) dan beliau menyatakan bahwa hadits tersebut derajatnya hasan shahih, Ibnu Majah (no.4244), an Nasa-i dalam kita al Kubra (no.11658), Ibnu Hibban (no.930), serta al Hakim (II/562) dan beliau menshahihkannya. Sementara itu, adz Dzahabi berkata: ‘Menurut syarat Muslim.’ Diriwayatkan juga oleh al Baihaqi dalam Sunan-nya (X/188). Semua periwayatan ini diambil dari jalan Muhammad bin ‘Ajlan, dari al Qa’qa’ bin Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Ibnu ‘Ajlan haditsnya Hasan, sebagaimana Muslim telah menyebutkannya dalam kitab al Mutaaba’aat. Adapun sanad-sanad hadits yang lain semuanya terpercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Bahrud Dumuu’ karya Ibnul Jauzi, tahqiq Ibrahim Bajis hal.57&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Ru’uusul Qawaariir karya Ibnul Jauzi hal.152&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diketik ulang dari buku “Cara Bertaubat Menurut al Qur’an dan as Sunnah” karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al Hamd (hal.71-74), Penerbit : Pustaka Imam asy Syafi’ie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber http://alqiyamah.wordpress.com/2009/10/18/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-6398850140121355799?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/6398850140121355799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/janganlah-kita-menunda-nunda-taubat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/6398850140121355799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/6398850140121355799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/janganlah-kita-menunda-nunda-taubat.html' title='janganlah kita menunda nunda taubat'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-3035349112255346181</id><published>2009-10-25T19:34:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T19:50:21.747-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>ADAB BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA</title><content type='html'>Oleh : Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as Sayyid Nada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang tua adalah manusia yang paling berjasa dan utama bagi diri seseorang. Allah ta’ala telah memerintahkan dalam berbagai tempat di dalam al Qur’an agar berbakti kepada kedua orang tua. Allah menyebutkan berbarengan dengan pentauhidan-Nya dan memerintahkan para hamba-Nya untuk melaksanakan sebagaimana akan disebutkan sebagai berikut. Hak kedua orang tua merupakan hak terbesar yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim. Disini akan dicantumkan beberapa adab yang berkaitan dengan masalah ini. Antara lain hak yang wajib dilakukan semasa kedua orang tua hidup dan setelah meninggal. Dengan pertolongan Allah saya sebutkan beberapa adab tersebut antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan pertolongan Allah saya sebutkan beberapa adab tersebut antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak-Hak Yang Wajib Dilaksanakan Semasa Orang Tua Masih Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hak orang tua ketika masih hidup adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mentaati mereka selama tidak mendurhakai Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentaati kedua orang tua hukumnya wajib atas setiap Muslim. Haram hukumnya mendurhakai keduanya. Tidak diperbolehkan sedikit pun mendurhakai mereka berdua kecuali apabila mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah atau mendurhakai-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” [QS.Lukman: 15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh mentaati makhluk untuk mendurhakai Allah, Penciptanya, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam melakukan kebaikan.” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jika bukan dalam perkara yang mendurhakai Allah, wajib mentaati kedua orang tua selamanya dan ini termasuk perkara yang paling diwajibkan. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh mendurhakai apa saja yang diperintahkan oleh kedua orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Berbakti dan merendahkan diri di hadapan kedua orang tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami perintahkan kepada manusia suapaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya..” [QS.Al Ahqaf: 15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak..” [QS.An Nisaa’:36]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah berbuat baik ini lebih ditegaskan jika usia kedua orang tua semakin tua dan lanjut hingga kondisi mereka melemah dan sangat membutuhkan bantuan dan perhatian dari anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat bik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih saying dan ucapkanlah: “Wahai, Rabbku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” [QS.Al Israa’: 23-24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi orang yang mendapatkan kedua orang tuanya yang sudah renta atau salah seorang dari mereka kemudian hal itu tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga.” [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bakti terhadap kedua orang tua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan yang dapat menyakiti kedua orang tua, walaupun dengan isyarat atau dengan ucapan ‘ah’. Termasuk berbakti kepada keduanya ialah senantiasa membuat mereka ridha dengan melakukan apa yang mereka inginkan, selama hal itu tidak mendurhakai Allah ta’ala, sebagaimana yang telah disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.   Merendahkan diri di hapadan mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh mengeraskan suara melebihi suara kedua orang tua atau di hadapan mereka berdua. Tidak boleh juga berjalan di depan mereka, masuk dan keluar mendahului mereka, atau mendahului urusan mereka berdua. Rendahkanlah diri di hadapan mereka berdua dengan cara mendahulukan segala urusan mereka, membentangkan dipan untuk mereka, mempersilahkan mereka duduk ditempat yang empuk, menyodorkan bantal, jangan mendahului makan dan minum, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.   Berbicara dengan lembut di hadapan mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara dengan lembut merupakan kesempurnaan bakti kepada kedua orang tua dan merendahkan diri di hadapan mereka, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS.Al Israa’: 23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, berbicaralah kepada mereka berdua dengan ucapan yang lemah lembut dan baik serta dengan lafazh yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.   Menyediakan makanan untuk mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyediakan makanan juga termasuk bakti kepada kedua orang tua, terutama jika ia memberi mereka makan dari hasil jerih payah sendiri. Jadi, sepantasnya disediakan untuk mereka makanan dan minuman terbaik dan lebih mendahulukan mereka berdua daripada dirinya, anaknya, dan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.   Meminta izin kepada mereka sebelum berjihad dan pergi untuk urusan lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izin kepada orang tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan. Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya: “Ya Rasulullah, apakah aku boleh ikut berjihad?” Beliau balik bertanya: “Apakah kamu masih mempunyai kedua orang tua?” Laki-laki itu menjawab: “Masih.” Beliau bersabda: “Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya.” [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Aku datang mebai’atmu untuk hijrah dan aku tinggalkan kedua orang tuaku menangisi (kepergianku).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pulanglah dan buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka menangis.” [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki hijrah dari negeri Yaman lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Apakah kamu masih mempunyai kerabat di Yaman?” Laki-laki itu menjawab: “Masih, yaitu kedua orang tuaku.” Beliau kembali bertanya: “Apakah mereka berdua mengizinkanmu?” laki-laki itu menjawab: “Tidak.” Lantas Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kembalilah kamu kepada mereka dan mintalah izin dari mereka. Jika mereka mengizinkan, maka kamu boleh ikut berjihad, namun jika tidak, maka berbaktilah kepada keduanya.” [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki berkata kepada beliau: “Aku membai’at Anda untuk berhijrah dan berjihad semata-mata hanya mengharapkan pahala dari Allah ta’ala. Beliau bersabda kepada laki-laki tersebut: “Apakah salah satu kedua orangtuamu masih hidup?” laki-laki itu menjawab: “Masih, bahkan keduanya masih hidup.” Beliau kembali bersabda: “Apakah kamu ingin mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala?” Lelaki itu menjawab: “Ya”. Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kembalilah kamu kepada kedua orang tuamu dan berbaktilah kepada keduanya.” [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.   Memberikan harta kepada orang tua menurut jumlah yang mereka inginkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketik ia berkata: “Ayahku ingin mengambil hartaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu dan hartamu milik ayahmu.” [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil dan lemah, serta telah berbuat baik kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.   Membuat keduanya ridha dengan berbuat baik kepada orang-orang yang dicintai mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya seseorang membuat kedua orang tua ridha dengan berbuat baik kepada para saudara, karib sahabat, teman-teman, dan selain mereka. Yakni, dengan memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, menunaikan janji-janji (orang tua) kepada mereka. Akan disebutkan nanti beberapa hadits yang berkaitan dengan masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.   Memenuhi sumpah kedua orang tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kedua orang tua bersumpah kepada anaknya untuk suatu perkara tertentu yang didalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk memenuhi sumpah keduanya karena itu termasuk hak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.   Tidak mencela orang tua atau tidak menyebabkan mereka dicela orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencela orang tua dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah satu dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela orang tuanya.” Para Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa ada orang yang mencela orang tuanya?” Beliau menjawab: “Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu membalas mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain lalu orang itu membalas mencela ibunya.” [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan ini merupakan perbuatan dosa yang paling buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang sering bergurau dan bercanda dengan melakukan yang sangat tercela ini. Biasanya perbuatan ini muncul dari orang-orang rendahan dan hina. Perbuatan seperti ini termasuk dosa besar sebagaimana yang telah disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.   Mendahulukan berbakti kepada Ibu daripada Ayah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Laki-laki itu bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Beliau kembali menjawab: “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya: “Kemudian siapa lagi? Beliau menjawab: “Ibumu.” “Lalu siapa lagi?” tanyanya. “Ayahmu.” Jawab beliau. [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits diatas tidak bermaksud lebih mentaati ibu daripada ayah. Sebab, mentaati ayah lebih di dahulukan jika keduanya menyuruh pada waktu yang sama dan dibolehkan dalam syariat. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan untuk taat kepada suaminya, yaitu ayah anaknya. Hanya saja, jika salah seorang mereka menyuruh berbuat taat dan yang lain menyuruh berbuat maksiat, maka wajib untuk mentaati yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibu yaitu lebih bersikap lemah lembut, lebih berprilaku baik dan memberikan sikap yang lebih halus daripada ayah. Hal ini apabila keduanya berada di atas kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian Salaf berkata: “Hak ayah lebih besar dan hak ibu patut untuk dipenuhi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah penjelasan umum hak-hak orang tua semasa mereka masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak-Hak Orang Tua Setelah Mereka Meninggal Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hak orang tua setelah mereka meninggal adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.   Menshalati keduanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud menshalati disini adalah mendoakan keduanya. Yakni, setelah mereka meninggal dunia, karena ini termasuk bakti kepada mereka. Oleh karena itu, seorang anak hendaknya lebih sering mendoakan kedua orang tuanya setelah mereka meninggal daripada ketika masih hidup. Apabila anak itu mendoakan keduanya, niscaya mereka berdua akan semakin bertambah, berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila manusia sudah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan dirinya.” [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Beristighfar untuk mereka berdua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua adalah yang paling utama bagi seorang Muslim untuk didoakan agar Allah mengampuni mereka karena kebaikan mereka yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam al Qur’an :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku…” [QS.Ibrahim: 41]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.   Menunaikan janji kedua orang tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya seseorang menunaikan wasiat orang tua dan melanjutkan secara berkesinambungan amalan-amalan kebaikan yang dahulu pernah dilakukan keduanya. Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amalan kebaikan yang dulu pernah dilakukan dilanjutkan oleh anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.   Memuliakan teman kedua orang tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memuliakan teman kedua orang tua juga termasuk berbuat baik kepada orang tua, sebagaimana yang telah disebutkan. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berpapasan dengan seorang Arab badui di jalan menuju Mekkah. Kemudian Ibnu ‘Umar mengucapkan salam kepadanya dan mempersilahkan naik ke atas keledai yang ia tunggangi. Selanjutnya, ia juga memberikan sorbannya yang ia pakai. Ibnu Dinar berkata: “Semoga Allah memuliakanmu. Mereka itu orang Arab badui dan mereka sudah  terbiasa berjalan.” Ibnu ‘Umar berkata: “Sungguh, dulu ayahnya teman ‘Umar bin al Khaththab dan aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya bakti anak yang terbaik adalah seorang anak yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya tersebut meninggal.” [11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.   Menyambung tali silaturrahim dengan kerabat ibu dan ayah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya seseorang menyambung tali silaturrahim dengan semua kerabat yang silsilah keturunannya bersambung dengan ayah dan ibu, seperti paman dari pihak ayah dan ibu, bibi dari pihak ayah dan ibu, kakek, nenek, dan anak mereka semua. Bagi yang melakukannya, berarti ia telah menyambung tali silturrahim kedua orang tuanya dan telah berbakti kepada mereka. Hal ini berdasarkan hadits yang telah disebutkan dan sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa ingin menyambung tali silaturrahim ayahnya yang ada dikuburannya, maka sambunglah tali silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal.” [12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah akhir dari adab berbakti kepada orang tua yang telah dimudahkan Allah kepadaku untuk menuliskannya, yang seluruhnya berjumlah enam belas adab. Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin [13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] HR.Bukhari (4340, 7145, 7257) dan Muslim (1840) dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] HR.Muslim (2551) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] HR.Al Bukhari (3004,5972) dan Muslim (2549) dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] HR.Abu Dawud (2528), an Nasa’I (VII/1430, Ibnu Majah (2782), dari Ibnu ‘Amr. Lihat kitab Shahiih Abi Dawud (2205)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR.Ahmad (III/76), Abu Dawud (2530), al Hakim (II/103, 103) dan ia menshahihkannya serta disetujui oleh adz Dzahabi dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu. Lihat kitab Shahiih Abi Dawud (2207).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] HR.Muslim (2549) dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] HR.Ahmad (II/204), Abu Dawud (3530), dan Ibnu Majah (2292) dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ (1486)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] HR.Al Bukhari (5973) dan Muslim (90) dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] HR.Al Bukhari (5971) dan Muslim (2548) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] HR. Muslim (1631) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] HR. Muslim (2552) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] HR.Ibnu Hibban (433) dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ (5990)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Referensi tambahan : Shahiih Muslim (IV/1974) dan halaman setelahnya, Fa-thul Baari (X/414) dan halaman setelahnya. Al Ihsaan bi Tartiibi Ibni Hibban (I/315) dan halaman setelahnya, al Aadaab karya al Baihaqi (hal.5) dan halaman setelahnya, al Aadaab asy Syar’iyyah karya Ibnu Muflih (I/433) dan halaman setelahnya, Ihya ‘Uluumuddin karya al Ghazali (II/216) dan halaman setelahnya, Birrul Waalidain karya ath Thurthusi,  dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber http://alqiyamah.wordpress.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-3035349112255346181?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/3035349112255346181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/adab-berbakti-kepada-kedua-orang-tua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/3035349112255346181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/3035349112255346181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/adab-berbakti-kepada-kedua-orang-tua.html' title='ADAB BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-1697915774450735157</id><published>2009-10-25T07:11:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T16:38:47.149-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>NGE-GOSIP AHH....!! SIAPA MAU IKUTAN..??</title><content type='html'>"Ehh.....loe semua, udah pada tau belon sih, klo si Jabrig itu orangnya ember banget? Loe orang musti pada ati-ati lho sama dia. Dia itu kan stress...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pembicaraan yang sering terdengar di antara orang-orang yang senang membicarakan orang lain. Mereka begitu mudahnya mengeluarkan perkataan dan pernyataan yang tanpa dipikir panjang lagi apa akibatnya, baik untuk orang yang sedang dibicarakan, maupun untuk diri mereka sendiri. Mereka mungkin belum tahu, atau mungkin lupa bahwa Islam melarang umatnya untuk "nge-gosip" atau menggunjing atau melakukan ghibah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa tabayyun yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh antara timur dan barat." (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah memberikan nasihat kepada Mu'adz radhiyallahu 'anhu:&lt;br /&gt;"Pelihara ini olehmu!" Muadz bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kita akan disiksa karena apa-apa yang kita katakan?" Lalu beliau menjawab, "Ibumu akan kehilanganmu! Tidaklah manusia DIPANGGANG WAJAH MEREKA di neraka, kecuali karena penyelewengan lidah-lidah mereka." (HR. Tirmidzi, dan dia berkata hadits ini hasan shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaaf: 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Infithaar: 10-12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ikhwan dan akhwat yang saya cintai karena Allah, di antara penyelewengan lidah yang sangat berbahaya adalah ghibah (menggunjing/gosip). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menerangkan ta'rif ghibah melalui sabdanya:&lt;br /&gt;"Tahukah kalian apakah ghibah itu?" Para Sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu!" Lalu beliau melanjutkan, "Yaitu kamu menceritakan saudaramu tentang hal-hal yang (apabila diketahuinya) tidak disukainya." Lalu seseorang bertanya, "Bagaimana kalau yang diceritakan itu memang sesuai dengan kenyataannya?" Beliau menjawab, "Bila apa yang kamu ceritakan itu ada pada saudaramu, maka kamu telah melakukan ghibah terhadapnya. Dan bila apa yang kamu ceritakan itu tidak ada pada diri saudaramu, berarti kamu telah mengada-ada tentangnya (memfitnahnya)." (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits tersebut, jelaslah bahwa ghibah adalah menceritakan orang lain tanpa sepengetahuannya tentang sifat dan keadaan yang ada pada dirinya, yang seandainya dia mengetahuinya pastilah dia tidak menyukainya, meskipun sesuai dengan kenyataannya Tapi apabila apa yang diceritakan itu tidak terdapat dalam dirinya, maka disebut mengada-ada, dan ini jauh lebih besar dosanya daripada ghibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ghibah merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya, untuk itu maka Islam melarang umatnya melakukannya, terlebih bagi mereka yang menjadi panutan umat di lingkungan tempat tinggal atau lingkungan pergaulan seperti di Facebook ini. Sebab bisa mengakibatkan putusnya tali ukhuwah, rusaknya kasih sayang, timbulnya permusuhan, tersebarnya aib, dan timbulnya gairah untuk terus melakukannya. Padahal Allah Ta'ala telah memperingatkan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (Al-Hujuraat: 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Jabir bin ABdullah radhiyallahu 'anhu, dia berkata bahwa pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertiup ANGIN YANG BUSUK BAUNYA, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya segolongan orang MUNAFIK telah melakukan ghibah terhadap orang-orang MUSLIM, sehingga bertiuplah angin busuk ini." (HR. Ahmad, dan berkata al-Hafizh al-Mundziri bahwa para perawinya tsiqoh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada seorang manusia pun selain para rasul yang tidak mempunyai aib. Terkadang aib kita lebih besar dan lebih parah daripada aib orang lain. Semestinya setiap hamba yang beriman senantiasa menyibukkan dirinya sendiri dalam upaya membina pribadi dan perbaikan aib dirinya sendiri. Maka berbahagialah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Al-Baro bin 'Azib radhiyallahu 'anhu dengan sanad yang baik, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;"Wahai, orang-orang yang beriman dengan lidahnya, janganlah kalian melakukan ghibah terhadap sesama kaum muslimin dan jangan pula membongkar "aurat" mereka, karena barang siapa yang membuka aib saudaranya, maka Allah akan membuka auratnya hingga terbongkar di tengah-tengah rumahnya." (HR. Abu Dawud dan Abu Ya'la)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah bin Jaarullah berkata dalam kitabnya Al Bayan fi Aafaati al-Lisan:&lt;br /&gt;"Orang yang melakukan ghibah akan mengalami kerugian, karena pahala amal kebaikannya kelak akan diberikan kepada orang yang menjadi sasaran ghibahnya. Di lain pihak, ada orang lain yang akan mendapatkan keuntungan karena memperoleh pahala amal kebaikan yang datang tanpa diketahuinya.&lt;br /&gt;Dari Abu Umamah al-Bahily radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Sesungguhnya seorang hamba akan diberi catatan amalnya pada hari kiamat, maka dia melihat pahala kebaikan yang tidak pernah dilakukannya waktu di dunia, lalu dia berkata, "Ya Allah, dari manakah semua ini?" Lalu Allah menjawab, "Ini dari orang-orang yang melakukan ghibah terhadapmu tanpa kamu sadari."&lt;br /&gt;Maka ketika Hasan al-Bashri mendengar ada seseorang yang melakukan ghibah terhadapnya, maka dia lalu mengirim sekantung kurma kepadanya dan berkata, "Telah sampai kepadaku kabar bahwa engkau telah menghadiahkan kebaikanmu kepadaku, maka aku ingin membalas kebaikanmu padaku. Celalah aku, aku tidak mampu membalasmu dengan sempurna."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjauhi Orang-orang yang Suka Ghibah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditanyakan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah:&lt;br /&gt;"Saya mempunyai seorang teman yang sering berbicara mencemarkan nama baik orang lain. Saya sering menasihatinya tapi dia tetap tidak mau berubah. Perbuatannya itu sudah menjadi kebiasaannya. Dan kadang-kadang dia melakukannya DENGAN ALASAN NIAT BAIK. Apakah orang seperti dia boleh kita kucilkan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan dan mencemarkan nama baik kaum muslimin yang tidak mereka sukai adalah merupakan kemungkaran yang besar dan termasuk ghibah yang diharamkan bahkan termasuk DOSA BESAR, berdasarkan firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (Al-Hujuraat: 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga berdasarkan sebuah hadits riwayat Imam Muslim (sebagaimana telah disebutkan di atas tentang ta'rif ghibah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam sebuah hadits shahih:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika beliau di Mi'rajkan, beliau melewati sekelompok orang yang mempunyai kuku-kuku dari tembaga. Mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka sendiri dengan kuku tembaga tersebut. Lalu beliau bertanya kepada Jibril, "Wahai Jibril, siapa mereka itu?" Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang sering makan daging manusia, dan mereka yang suka membicarakan kejelekan orang lain." (HR. Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad jayid dari Anas radhiyallahu 'anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-'Allamah Ibnu Muflih berkata, "Sanad hadits tersebut shahih." Beliau berkata, "Dan Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad hasan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu secara marfu':&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya termasuk DOSA BESAR adalah mencemarkan kehormatan seorang muslim tanpa alasan yang hak." (HR. Abu Dawud no. 4234)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya termasuk DOSA BESAR adalah mencemarkan kehormatan seorang muslim tanpa alasan yang hak." (HR. Abu Dawud no. 4234)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu wajib bagi anda dan selain anda dari kaum muslimin untuk TIDAK DUDUK-DUDUK DAN BERBINCANG-BINCANG dengan orang yang sedang menggunjing kaum muslimin. Sebaiknya kita harus menasihati dan mengingkari perbuatan tersebut, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barang siapa di antara kalian melihat kemunkaran, rubahlah dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, rubahlah dengan lidahnya. Jika dia tidak mampu, rubahlah dengan hatinya (dengan mengingkarinya di dalam hati), dan itulah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim no. 70).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita tidak sanggup mencegah dan menasihati mereka, maka segeralah kita pergi dan tidak duduk-duduk bersama mereka. Ini termasuk cara mengingkari perbuatan mereka. Mudah-mudahan Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin dan menolong mereka dalam meraih kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Al-Fatawa Juz Tsani, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahumma amin. Semoga bermanfaat untuk saya dan untuk antum sekalian...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menasihati 'Uqbah bin 'Amir ketika dia bertanya tentang keselamatan: "Peliharalah lidahmu, betahlah tinggal di rumahmu dan tangisilah dosa-dosamu." (HR. Tirnidzi, dan dia berkata hadits ini hasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Muhammad Herman from facebook&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-1697915774450735157?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/1697915774450735157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/nge-gosip-ahh-siapa-mau-ikutan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/1697915774450735157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/1697915774450735157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/nge-gosip-ahh-siapa-mau-ikutan.html' title='NGE-GOSIP AHH....!! SIAPA MAU IKUTAN..??'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-9028241480863461409</id><published>2009-10-25T06:42:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T06:54:18.037-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>AWAS MUSUH DALAM SELIMUT</title><content type='html'>Pembaca yang budiman, di masa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam masih hidup ada dua golongan musuh Islam yaitu orang kafir dan orang munafiq. Di antara kedua golongan ini orang-orang munafiq adalah yang paling berbahaya bagi ummat Islam, karena mereka mengaku Islam namun pada hakekatnya menghancurkan Islam dari dalam. Dan hal ini senantiasa terjadi di sepanjang jaman, begitu pula di jaman kita sekarang ini bahkan di negeri yang kita tinggali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Ta’ala memerintahkan kepada Nabi dan orang-orang yang beriman supaya berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq. Alloh berfirman, “Wahai Nabi berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq dan bersikap keraslah pada mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (At Taubah: 73)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIL Mengganyang Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu musuh yang kini tengah dihadapi ummat Islam adalah ajaran sesat yang dibawa oleh Jaringan Islam Liberal/JIL. Sehingga kerancuan yang mereka tebarkan perlu dibantah, apalagi orang-orang yang membawa pemikiran sesat ini adalah tokoh-tokoh yang digelari cendekiawan, kyai dan intelektual. Sebenarnya pernyataan mereka terlalu menyakitkan untuk ditulis dan disebarluaskan, namun demi tegaknya kebenaran maka dalam kesempatan ini akan kami bawakan beberapa contoh kesesatan pemikiran mereka yang dengannya pembaca akan mengetahui betapa rusaknya akidah Islam Liberal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang JIL Tidak Paham Tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurcholis Majid menafsirkan Laa ilaaha illalloh dengan arti “Tiada tuhan (t kecil) kecuali Tuhan (T besar)”. Padahal Rosululloh, para sahabat dan para ulama dari jaman ke zaman meyakini bahwa makna Laa ilaaha ilalloh adalah “Tiada sesembahan yang benar kecuali Alloh”. Dalilnya adalah firman Alloh, “Demikian itulah kuasa Alloh Dialah sesembahan yang haq adapun sesembahan-sesembahan yang mereka seru selain Alloh adalah (sesembahan) yang batil…” (Al Hajj: 62). Nah, satu contoh ini sebenarnya sudah cukup bagi kita untuk mengatakan bahwa ajaran JIL adalah sesat karena menyimpang dari petunjuk Rosululloh dan para sahabat. Walaupun dalam mempromosikan kesesatannya mereka menggunakan label Islam, tapi sesungguhnya Islam cuci tangan dari apa yang mereka katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang JIL Tidak Paham Kebenaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulil Abshar (seorang tokoh JIL -ed) mengatakan bahwa semua agama sama, semuanya menuju jalan kebenaran, jadi Islam bukan yang paling benar katanya. Padahal Al Qur’an dan As Sunnah menegaskan bahwa Islamlah satu-satunya agama yang benar, yaitu Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. Alloh Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya agama yang benar di sisi Alloh hanyalah Islam.” (Ali Imron: 19). Nabi juga bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah ada seorang pun yang mendengar kenabianku, baik Yahudi maupun Nasrani kemudian mati dalam keadaan tidak beriman dengan ajaran yang aku bawa kecuali pastilah dia termasuk di antara para penghuni neraka.” (HR. Muslim). Kalau Alloh dan Rosul-Nya sudah menyatakan demikian, maka anda pun bisa menjawab apakah yang dikatakan Ulil ini kebenaran ataukah bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang JIL Tidak Paham Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para tokoh JIL menafsirkan Islam hanya sebagai sikap pasrah kepada Tuhan. Maksud mereka siapapun dia apapun agamanya selama dia pasrah kepada Tuhan maka dia adalah orang Islam. Allohu Akbar! Ini adalah Jahil Murokkab (bodoh kuadrat), sudah salah, merasa sok tahu lagi. Cobalah kita simak jawaban Nabi ketika Jibril bertanya tentang Islam. Beliau menjawab, “Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, engkau menegakkan sholat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Romadhon dan berhaji ke baitulloh jika engkau sanggup mengadakan perjalanan ke sana.” (HR. Muslim). Siapakah yang lebih tahu tentang Islam; Nabi ataukah orang-orang JIL?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang JIL Menghina Syari’at Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulil Abshor mengatakan bahwa larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam sudah tidak relevan lagi. Padahal Alloh Ta’ala telah berfirman, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku telah ridho Islam menjadi agama kalian.” (Al Ma’idah: 3). Kalau Alloh yang maha tahu sudah menyatakan bahwa Islam sudah sempurna sedangkan Ulil mengatakan bahwa ada aturan Islam yang tidak relevan -tidak cocok dengan perkembangan jaman- maka kita justeru bertanya kepadanya: Siapakah yang lebih tahu, JIL ataukah Alloh?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Bodoh Kok Diikuti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa contoh kesesatan pemikiran JIL. Kita telah melihat bersama betapa bodohnya pemikiran semacam ini. Kalaulah makna tauhid, makna Islam adalah sebagaimana yang dikatakan oleh mereka (JIL) niscaya Abu Jahal, Abu Lahab dan orang-orang kafir Quraisy yang dimusuhi Nabi menjadi orang yang pertama-tama masuk Islam. Karena mereka meyakini bahwasanya Alloh-lah pencipta, pengatur, pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, yang mampu menyelamatkan mereka ketika tertimpa bencana, sehingga ketika mereka diombang-ambingkan oleh ombak lautan mereka mengikhlashkan do’a hanya kepada Alloh, memasrahkan urusan mereka kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dengan keyakinan semacam ini mereka tetap saja menolak ajakan Nabi untuk mengucapkan Laa ilaaha illalloh. Bahkan mereka memerangi Rosululloh, menyiksa para sahabat dan membunuh sebagian di antara mereka dengan cara yang amat keji. Inilah bukti bahwa orang-orang JIL benar-benar tidak paham Al Qur’an, tidak paham As Sunnah, bahkan tidak paham sejarah!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himbauan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tulisan ini kami menghimbau kepada segenap kaum muslimin agar menjauhi buletin, majalah, website, siaran TV atau radio yang digunakan oleh JIL dalam menyebarkan kesesatan mereka dan bagi yang memiliki kewenangan hendaklah memusnahkannya. Karena Alloh Ta’ala telah memerintahkan, “Wahai Nabi berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq dan bersikap keraslah pada mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (At Taubah: 73). Dan ketahuilah bahwasanya tidak ada yang bisa membentengi kaum muslimin dari kebinasaan kecuali dengan kembali berpegang dengan Al Qur’an dan As Sunnah serta pemahaman para salafush sholih (sahabat dan murid-murid mereka). Dan Rosululloh telah menegaskan bahwasanya ilmu itu hanya bisa diraih dengan cara belajar (lihat Fathul Bari). Semoga tulisan yang singkat ini bisa meruntuhkan kerancuan-kerancuan yang ditebarkan oleh musuh-musuh Alloh dan Rosul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al Auza’i berpesan, “Wajib atas kalian mengikuti jejak salaf (para sahabat) walaupun banyak manusia yang menentangmu. Dan waspadalah dari pemikiran-pemikiran manusia meskipun mereka menghiasinya dengan perkataan-perkataan yang indah di hadapanmu”. Hanya kepada Alloh-lah kita memohon perlindungan. Wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-9028241480863461409?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/9028241480863461409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/awas-musuh-dalam-selimut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/9028241480863461409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/9028241480863461409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/awas-musuh-dalam-selimut.html' title='AWAS MUSUH DALAM SELIMUT'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-6359598959098832878</id><published>2009-10-23T07:12:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T23:32:27.048-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>Takut tersesat karena rajin mengaji ( menuntut ilmu syar'i )</title><content type='html'>Saudaraku… Kita perlu mengingat kembali sebuah hadits yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menggambarkan bagaimana Allah akan mencabut ilmu dari kehidupan dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan merenggutnya dari para manusia, namun ilmu itu dicabut dengan diwafatkannya para ulama. Sehingga apabila Allah tidak menyisakan lagi seorang ‘alim, maka manusia akan menjadikan para pembesar mereka dari kalangan orang-orang bodoh yang ditanya (tentang agama) lantas orang-orang bodoh itu berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR Al-Bukhari: 1: 174-175, Muslim no: 2673, At-Tirmidzi 2652)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain, beliau bersabda, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, kebodohan semakin merajalela, zina nampak di mana-mana, khamr diminum, kaum pria menjadi sedikit dan kaum wanita menjadi lebih banyak….” (Shahih dengan beberapa jalannya, Al-Bukhari juga meriwayatkannya dalam Sahih: kitab “nikah” dari hadits Hafsh bin Umar dan kitab “ilmu”, demikian pula halnya Muslim dalam Shahih-nya: 4: 256, dan selain mereka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Sungguh keberadaan agama Islam dan keberlangsungan dunia ini adalah dengan keberadaan ilmu agama, dengan hilangnya ilmu akan rusaklah dunia dan agama. Maka kokohnya agama dan dunia hanyalah dengan kekokohan ilmu.” (Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1: 500)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Auza’i berkata bahwa Ibnu Syihab Az-Zuhri menyatakan, “Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan. Sementara ilmu diangkat dengan cepat. Kekokohan ilmu adalah keteguhan bagi agama dan dunia. Hilangnya ilmu adalah kehancuran bagi itu semua.” (Riwayat Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhud 817, dan Ibnu ‘Abdil Bar dalam Al-Jami’ 1018)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakinlah bahwa di antara kunci kebahagiaan dunia dan akherat adalah dengan menuntut ilmu syar’i. Itulah yang akan menumbuhkan khasyyah dan sikap takut kepada Allah, merasa diawasi sehingga waspada terhadap semua ancaman Allah. Semua itu tidaklah didapatkan kecuali dengan ilmu syar’i. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya hanyalah para ulama yang memiliki khasyyah kepada Allah.” (QS. Fathir: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath-Thabari berkata, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah, menjaga diri dari adzab dengan menjalankan ketaatan kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu. Mereka mengetahui bahwa Allah Maha Mampu melakukan segala sesuatu, maka mereka menghindar dari kemaksiatan yang akan menyebabkan murka dan adzab Allah…” (Lihat Tafsir Ath-Thabari QS Fathir; ayat: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Abdullah bin Mas’ud dan Masruq berkata, “Cukuplah ilmu membuat seseorang takut kepada Allah, dan sebaliknya kebodohan menyebabkan seseorang lalai dari mengenal Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Baghawi menyebutkan bahwa seseorang memanggil dan berkata kepada Sya’bi, “Wahai ‘aalim berfatwalah.” Sya’bi menjawab, “Sesungguhnya seorang ‘alim adalah yang memiliki khasyyah (rasa takut) kepada Allah.” (Riwayat Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhud hal: 15, dan Ahmad dalam Az-Zuhud hal: 858 dan Lihat Tafsir Al-Baghawi QS Fathir; ayat: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh As-Sa’di berkata dalam tafsir dari Surat Al-Faaathir ayat 28, “Ayat ini adalah dalil keutamaan ilmu, karena ilmu akan menumbuhkan sikap khasyyah (takut) kepada Allah. Orang yang takut kepada Allah adalah orang yang akan mendapatkan kemuliaan Allah sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah. Itu hanya bagi orang-orang yang memiliki khasyyah kepadaNya.” (Lihat Tafsir As-Sa’di QS Fathir, ayat: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ilmu kita dapat menumbuhkan sikap khasyyah kepada Allah dan itulah muraqabah yang akan membimbing langkah-langkah kita menuju ridha Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufyan berkata, “Barangsiapa yang berharap (kebahagiaan) dunia dan akherat, hendaklah ia menuntut ilmu syar’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nadhr bin Syumail berkata, “Barangsiapa yang ingin dimuliakan di dunia dan akherat, hendaklah ia menuntut ilmu syar’i. Cukuplah menjadi kebahagiaan bagi dirinya jika ia dipercaya dalam perkara agama Allah, serta menjadi perantara antara seorang hamba dengan Allah.” (Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1: 503-504)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu’adz bin Jabal berkata, “Pelajarilah ilmu syar’i karena mempelajarinya di jalan Allah adalah khasyyah, memperdalamnya adalah ibadah, mengulang-ulangnya adalah tasbih (memuji Allah), membahas (permasalahan-permasalahannya) adalah jihad, mengajarkannya kepada yang belum mengetahuinya adalah shadaqah, dengan ilmulah Allah diketahui dan disembah, dengannya Allah diesakan dalam tauhid, dan dengannya pula diketahui yang halal dan yang haram…” (Hilayatul Auliya karya Abu Nu’aim 1: 239, Al-Ajmi’ oleh Ibnu ‘Abdil Bar 1: 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyair berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu adalah harta dan tabungan yang tak akan habis… Sebaik-baik teman yang bersahabat adalah ilmu…&lt;br /&gt;Terkadang seseorang mengumpulkan harta kemudian kehilangannya… Tidak seberapa namun meninggalkan kehinaan dan perseteruan… Adapun penuntut ilmu, ia selalu membuat iri (ghibthah) banyak orang… Namun dirinya tidak pernah merasa takut akan kehilangannya… Wahai para penuntut ilmu, betapa berharga hartamu itu… yang tak dapat dibandingkan dengan emas ataupun mutiara….. (Diterjemahkan dari Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1: 507)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, Luqman berwasiat kepada putranya, “Wahai anakku, duduklah bersama para ulama, dekatilah mereka dengan kedua lututmu. Sesungguhnya Allah akan menghidupkan hati yang mati dengan pelita “hikmah” sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang gersang dengan air hujan.” (Riwayat Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ 2: 1002). Hikmah yang beliau maksud adalah yang Allah sebutkan dalam firmanNya (QS Al-Baqarah: 269) yang artinya, “Allah menganugerahkan “hikmah” kepada yang Allah kehendaki, barangsiapa telah diberikan hikmah maka ia telah diberikan banyak kebaikan…” Qutaibah dan Jumhur ulama berkata “hikmah adalah mengetahui yang haq dengan sebenarnya serta mengamalkannya. Itulah ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih.” (Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1: 227)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad berkata, “Manusia lebih membutuhkan ilmu dibandingkan makan dan minum, karena makanan dan minuman dibutuhkan manusia satu atau dua kali dalam satu hari. Akan tetapi, ilmu senantiasa dibutuhkan seorang manusia setiap saat (selama nafasnya berhembus)”…(Thabaqat Al-Hanabilah; 1: 146)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Menuntut Ilmu, Tak Ada Kata Terlambat dan Tidak Ada Kata Malu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aisyah berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Mereka tidak terhalangi oleh rasa malu untuk mempelajari semua perkara agama ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahid juga berkata, “Seorang pemalu atau sombong tidaklah dapat menuntut ilmu. Yang satu terhalangi dari menuntut ilmu oleh rasa malunya. Sementara yang satu lagi terhalangi oleh kesombongannya.” (Al-Bukhari menyebutkannya secar mu’allaq dalam Shahih-nya 1: 229)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari bersama-sama kita membangkitkan semangat menuntut ilmu syar’i agar dengannya kita mendapatkan pelita nan bercahaya, menerangi setiap amalan hidup kita, membimbing setiap pola pikir dan langkah kita, memperbaiki setiap niat hati kita, membuat kita senantiasa takut karena merasa diawasi oleh Allah. Jika ilmu itu telah sampai maka jangan kita melupakannya dan mari kita berlomba untuk mengamalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali bin Abi Thalib berkata, “Ilmu membisikkan pemiliknya untuk diamalkan. Jika ia menjawab panggilan bisikan itu, maka ilmu akan tetap ada. Namun jika ia tidak menjawab panggilan itu, maka ilmu akan pergi.” (Iqtidhaul ‘Ilmil amal karya Al-Khathib: hal 41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah melimpahkan taufiqNya kepada kita untuk ikhlas dalam menuntut ilmu, beramal dan berdakwah di jalan-Nya. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hambaMu yang mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia serta akherat dengan ilmu, amin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber : tulisan Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-6359598959098832878?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/6359598959098832878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/takut-tersesat-karena-rajin-mengaji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/6359598959098832878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/6359598959098832878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/takut-tersesat-karena-rajin-mengaji.html' title='Takut tersesat karena rajin mengaji ( menuntut ilmu syar&apos;i )'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-8416455504281053159</id><published>2009-10-23T07:05:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T07:08:57.519-07:00</updated><title type='text'>KENAPA KITA ENGGAN MENUNTUT ILMU ( SYAR'I )</title><content type='html'>Allah ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia yang artinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah janji Allah. Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” &lt;br /&gt;(QS. Ar Ruum [30]: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya, “Sedangkan firman-Nya ta’ala ‘Itulah janji Allah. Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.’&lt;br /&gt;Artinya: Inilah yang Kami beritakan kepadamu hai Muhammad, bahwasanya Kami benar-benar akan memenangkan Romawi dalam melawan Persia, itulah janji yang benar dari Allah, sebuah berita yang jujur dan tidak akan meleset. Hal itu pasti terjadi. Karena ketetapan Allah yang telah berlaku menuntut-Nya untuk memenangkan salah satu kelompok yang lebih dekat kepada kebenaran di antara dua kubu yang saling memerangi.&lt;br /&gt;Dan Allah pasti akan memberikan pertolongan kepada mereka. ‘Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui’, artinya mereka tidak mengetahui hukum kauniyah Allah serta perbuatan-perbuatan-Nya yang sangat cermat dan selalu bergulir di atas prinsip keadilan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/168)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya, “Sedangkan firman-Nya ta’ala ‘Itulah janji Allah. Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.’&lt;br /&gt;Artinya: Inilah yang Kami beritakan kepadamu hai Muhammad, bahwasanya Kami benar-benar akan memenangkan Romawi dalam melawan Persia, itulah janji yang benar dari Allah, sebuah berita yang jujur dan tidak akan meleset. Hal itu pasti terjadi. Karena ketetapan Allah yang telah berlaku menuntut-Nya untuk memenangkan salah satu kelompok yang lebih dekat kepada kebenaran di antara dua kubu yang saling memerangi.&lt;br /&gt;Dan Allah pasti akan memberikan pertolongan kepada mereka. ‘Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui’, artinya mereka tidak mengetahui hukum kauniyah Allah serta perbuatan-perbuatan-Nya yang sangat cermat dan selalu bergulir di atas prinsip keadilan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/168)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir kembali memaparkan, “Artinya kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu kecuali dalam urusan dunia, tata cara menggapainya, tetek bengeknya serta perkara apa saja yang ada di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang cerdas dan pandai tentang bagaimana cara meraup dunia serta celah-celah untuk bisa mendapatkannya. Namun mereka lalai terhadap hal-hal yang akan mendatangkan manfaat untuk mereka di negeri akhirat. Seolah-olah akal mereka lenyap. Seperti halnya orang yang tidak memiliki akal dan pikiran.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/168)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas menjelaskan tentang makna ayat yang mulia ini, “Maksudnya adalah orang-orang kafir. Mereka itu mengetahui bagaimana cara untuk memakmurkan dunia akan tetapi dalam masalah-masalah agama mereka bodoh.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/168)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelumit Tentang Keutamaan Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Meningkatkan Derajat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Mujadilah [58]: 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh menjelaskan, “Ada yang mengatakan tentang tafsirannya adalah: Allah akan mengangkat kedudukan orang beriman yang berilmu dibandingkan orang beriman yang tidak berilmu. Dan pengangkatan derajat ini menunjukkan adanya sebuah keutamaan…” (Fathul Bari, 1/172). Beliau juga meriwayatkan sebuah ucapan Zaid bin Aslam mengenai ayat yang artinya, “Kami akan mengangkat derajat orang yang Kami kehendaki.” (QS. Yusuf [12]: 76). Zaid mengatakan, “Yaitu dengan sebab ilmu.” (Fathul Bari, 1/172)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir menyebutkan di dalam tafsirnya sebuah riwayat dari Abu Thufail Amir bin Watsilah yang menceritakan bahwa Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan Umar bin Khattab di ‘Isfan (nama sebuah tempat, pen). Ketika itu Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Umar pun berkata kepadanya, “Siapakah orang yang kamu serahi urusan untuk memimpin penduduk lembah itu?”. Dia mengatakan, “Orang yang saya angkat sebagai pemimpin mereka adalah Ibnu Abza; salah seorang bekas budak kami.” Maka Umar mengatakan, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”. Dia pun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia adalah orang yang pandai memahami Kitabullah, mendalami ilmu waris, dan juga seorang hakim.” Umar radhiyallahu’anhu menimpali ucapannya, “Adapun Nabi kalian, sesungguhnya dia memang pernah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sekelompok orang dengan sebab Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian lainnya karena kitab ini pula.’ (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Nabi Diperintahkan Berdoa untuk Mendapatkan Tambahan Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Kitabul Ilmi Bukhari membawakan sebuah ayat yang artinya, “Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha [20]: 114). Kemudian Al Hafizh menjelaskan, “Ucapan beliau: Firman-Nya ‘azza wa jalla, ‘Wahai Rabbku tambahkanlah kepadaku ilmu’. Memiliki penunjukan yang sangat jelas terhadap keutamaan ilmu. Sebab Allah ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan untuk apapun kecuali tambahan ilmu. Sedangkan yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i; yang dengan ilmu itu akan diketahui kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf untuk menjalankan ajaran agamanya dalam hal ibadah ataupun muamalahnya, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, dan hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, menyucikan-Nya dari segenap sifat tercela dan kekurangan. Dan poros semua ilmu tersebut ada pada ilmu tafsir, hadits dan fiqih…” (Fathul Bari, 1/172)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Perintah Bertanya Kepada Ahli Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci memerintahkan untuk bertanya kepada mereka (ahli ilmu) dan merujuk kepada pendapat-pendapat mereka. Allah juga menjadikannya sebagaimana layaknya persaksian dari mereka. Allah berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu kecuali para lelaki yang Kami wahyukan kepada mereka: bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kalian tidak mempunyai ilmu.’ (QS. An Nahl [16]: 43). Sehingga makna ahli dzikir adalah ahli ilmu yang memahami wahyu yang diturunkan Allah kepada para nabi.” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Kebenaran Akan Tampak Bagi Ahli Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, “Allah Yang Maha Suci memberitakan mengenai keadaan orang-orang yang berilmu; bahwa merekalah orang-orang yang bisa memandang bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi dari Rabbnya adalah sebuah kebenaran. Allah menjadikan hal ini sebagai pujian atas mereka dan permintaan persaksian untuk mereka. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang diberikan ilmu bisa melihat bahwa wahyu yang diturunkan dari Rabbmu itulah yang benar.” (QS. Saba’ [34]: 6).” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Segala Sifat Terpuji Bersumber dari Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya seluruh sifat yang menyebabkan hamba dipuji oleh Allah di dalam al-Qur’an maka itu semua merupakan buah dan hasil dari ilmu. Dan seluruh celaan yang disebutkan oleh-Nya maka itu semua bersumber dari kebodohan dan akibat darinya…” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 128). Beliau juga menegaskan, “Dan tidaklah diragukan bahwasanya kebodohan adalah pokok seluruh kerusakan. Dan semua bahaya yang menimpa manusia di dunia dan di akhirat maka itu adalah akibat dari kebodohan…” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 101)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, “Adapun kebahagiaan ilmu, maka hal itu tidak dapat kamu rasakan kecuali dengan cara mengerahkan segenap kemampuan, keseriusan dalam belajar, dan niat yang benar. Sungguh indah ucapan seorang penyair yang mengungkapkan hal itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah kepada orang yang mendambakan&lt;br /&gt;Perkara-perkara yang tinggi lagi mulia&lt;br /&gt;Tanpa mengerahkan kesungguhan&lt;br /&gt;Berarti kamu berharap sesuatu yang mustahil ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair yang lain mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bukan karena faktor kesulitan&lt;br /&gt;Tentunya semua orang bisa menjadi pimpinan&lt;br /&gt;Sifat dermawan membawa risiko kemiskinan&lt;br /&gt;Sebagaimana sifat berani membawa risiko kematian&lt;br /&gt;(Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 111)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga mengatakan, “Berbagai kemuliaan berkaitan erat dengan hal-hal yang tidak disenangi (oleh hawa nafsu, pen). Sedangkan kebahagiaan tidak akan bisa dilalui kecuali dengan meniti jembatan kesulitan. Dan tidak akan terputus jauhnya jarak perjalanan kecuali dengan menaiki bahtera keseriusan dan kesungguh-sungguhan. Muslim mengatakan di dalam Sahihnya, Yahya bin Abi Katsir berkata: ‘Ilmu tidak akan diraih dengan tubuh yang banyak bersantai-santai.’ Dahulu ada yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang menginginkan hidup santai (di masa depan, pen) maka dia akan meninggalkan banyak bersantai-santai’.” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sekelumit pelajaran dan motivasi bagi para penuntut ilmu (termasuk orang yang rajin mengikuti berbagai pengajian syar’i, red). Semoga yang sedikit ini bisa menyalakan semangat mereka dalam berjuang membela agama-Nya dari serangan musuh-musuh-Nya. Sesungguhnya pada masa yang penuh dengan fitnah semacam ini kehadiran para penuntut ilmu yang sejati sangat dinanti-nanti. Para penuntut ilmu yang berhias diri dengan adab-adab islami, yang tidak tergoda oleh gemerlapnya dunia dengan segala kepalsuan dan kesenangannya yang fana. Para penuntut ilmu yang bisa merasakan nikmatnya berinteraksi dengan al-Qur’an sebagaimana seorang yang lapar menyantap makanan. Para penuntut ilmu yang senantiasa berusaha meraih keutamaan di waktu-waktunya. Para penuntut ilmu yang bersegera dalam kebaikan dan mengiringi amalnya dengan rasa harap dan cemas. Para penuntut ilmu yang mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaannya kepada segala sesuatu. Bergegaslah, sambut hari esokmu dengan ilmu! Janganlah kau larut dalam arus kebanyakan orang yang tidak berilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat bagi penulis dan pembacanya di hari yang tidak berguna lagi harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bersumber dari (mengalam peringkasan teknis) tulisan Abu Mushlih Ari Wahyudi, Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER http://kebunhidayah.wordpress.com/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-8416455504281053159?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/8416455504281053159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/kenapa-kita-enggan-menuntut-ilmu-syari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/8416455504281053159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/8416455504281053159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/kenapa-kita-enggan-menuntut-ilmu-syari.html' title='KENAPA KITA ENGGAN MENUNTUT ILMU ( SYAR&apos;I )'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-1466782607585356135</id><published>2009-10-22T06:26:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T06:45:59.681-07:00</updated><title type='text'>Siapa Idola Kita ?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/SuBeYK4UZHI/AAAAAAAAAU0/mb-9eHKC6-k/s1600-h/true-love.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 350px; height: 338px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/SuBeYK4UZHI/AAAAAAAAAU0/mb-9eHKC6-k/s400/true-love.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395416122920297586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Wâ-il dari ‘Abdullah (bin Mas’ud), dia berkata: “seorang laki-laki datang kepada Rasulullah sembari berkata: ‘wahai Rasulullah! Apa pendapatmu terhadap seorang laki-laki yang mencintai suatu kaum padahal dia belum pernah (sama sekali) berjumpa dengan mereka?’. Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda: “seseorang itu adalah bersama orang yang dia cintai”. (H.R.Muslim)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita memperhatikan fenomena dan gejala yang memasyarakat saat ini di dalam mencari panutan atau lebih trend lagi dengan sebutan “sang idola”, maka kita akan menemukan hal yang sangat kontras dengan apa yang terjadi pada abad-abad terdahulu, khususnya pada tiga abad utama (al-Qurûn al-Mufadldlalah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dulu, orang begitu mengidolakan manusia-manusia pilihan dan berakhlaq mulia di kalangan mereka seperti para ulama dan orang-orang yang shalih. Maka, kondisi itu sekarang sudah berubah total. Orang-orang sekarang cenderung menjadikan manusia-manusia yang tidak karuan dari segala aspeknya sebagai idola. Mereka mengidolakan para pemain sepakbola, kaum selebritis, paranormal dan tokoh-tokoh maksiat pada umumnya. Anehnya, hal ini didukung oleh keluarga bahkan diberi spirit sedemikian rupa agar anaknya kelak bisa menjadi si fulanah yang artis, atau si fulan yang pemain sepakbola dan seterusnya. Lebih aneh lagi bahwa mereka berbangga-bangga dengan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya ini sangat ironis karena sebagai umat Islam yang mayoritas seharusnya mereka harus memahami ajaran agama secara benar sehingga tidak terjerumus kepada hal-hal yang dilarang di dalamnya. Ketidaktahuan akan ajaran agama ini akan berimplikasi kepada masa depan mereka kelak karena ini menyangkut keselamatan dan ketentraman mereka di dalam meniti kehidupan di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pada sebagian masyarakat kita, telah muncul gejala yang lebih serius dan mengkhawatirkan lagi, yaitu pengkultusan terhadap sosok yang dianggap sebagai tokoh tanpa menyelidiki terlebih dahulu sisi ‘aqidah dan akhlaqnya. Tokoh idola ini diikuti semua perkataan dan ditiru semua perbuatannya tanpa ditimbang-timbang lagi, apakah yang dikatakan atau dilakukan itu benar atau salah menurut agama bahkan sebaliknya, perkataan dan perbuatannya justru menjadi acuan benar tidaknya menurut agama…naûdzu billâhi min dzâlik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih memilukan lagi, sang idola yang tidak ketahuan juntrungannya tersebut memposisikan dirinya sebagaimana yang dianggap oleh para pengidolanya. Mereka berlagak sebagai manusia-manusia suci pada momen-momen yang memang suci seperti pada bulan Ramadhan, hari Raya ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adlha. Mereka diangkat sedemikian rupa oleh mass media dan media visual maupun audio visual seperti surat kabar, majalah, internet, radio dan televisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada momen-momen tersebut, mereka seakan mengisi semua hari-hari para pengidola bahkan non pengidolapun tak luput dari itu. Mereka menganggap bahwa diri merekalah yang paling mengetahui apa yang harus dilakukan secara agama pada momen-momen tersebut. Maka dipersembahkanlah berbagai tayangan program dan acara untuk menyemarakkan syi’ar bulan Ramadhan tersebut – menurut anggapan mereka- . Tampak, pada momen-momen tersebut mereka seakan menjadi manusia paling suci dan panutan semua… Yah! Untuk sesaat saja!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, apa yang mereka lakukan itu tak lain hanyalah racun yang dipaksakan kepada ummat untuk diteguk, mulai dari racun dengan reaksi lambat, sedang bahkan cepat tergantung kepada daya tahan dan tingkat kekebalan peneguknya.&lt;br /&gt;Selanjutnya, akankah kita membiarkan anggota keluarga kita meneguk racun-racun tersebut, baru kemudian menyesali apa yang telah terjadi?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka untuk mengetahui siapa yang seharusnya dijadikan sebagai idola oleh seorang Muslim dan bagaimana implikasi-implikasinya?. Kajian hadits kali ini sengaja mengangkat tema tersebut, mengingat hampir semua rumah kaum Muslimin telah dimasuki oleh salah satu atau kebanyakan mass media dan media tersebut.Semoga kita belum terlambat untuk menyelamatkan keluarga kita sehingga racun-racun tersebut dapat dilenyapkan dan dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NASKAH HADITS &lt;br /&gt;عَنْ أَبِي وَائِلٍ, عَنْ عَبْدِ اللّهِ (بْنِ مَسْعُوْدٍ) قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَىَ رَسُولِ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللّهِ, كَيْفَ تَرَىَ فِي رَجُلٍ أَحَبّ قَوْماً وَلَمّا يَلْحَقْ بِهِمْ؟ قَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ: «الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبّ». رواه مسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Wâ-il dari ‘Abdullah (bin Mas’ud), dia berkata: “seorang laki-laki datang kepada Rasulullah sembari berkata: ‘wahai Rasulullah! Apa pendapatmu terhadap seorang laki-laki yang mencintai suatu kaum padahal dia belum pernah (sama sekali) berjumpa dengan mereka?’. Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda: “seseorang itu adalah bersama orang yang dia cintai”. (H.R.Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAKHRIJ HADITS SECARA GLOBAL &lt;br /&gt;Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Bukhâry, at-Turmuzy, an-Nasaiy, Abu Daud, Ahmad dan ad-Darimy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN HADITS &lt;br /&gt;Di dalam riwayat yang lain, disebutkan dengan lafazh “Engkau bersama orang yang engkau cintai”. Demikian pula dengan hadits yang maknanya: “Ikatan Islam yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik mengomentarinya: “Setelah keislaman kami, tidak ada lagi hal yang membuat kami lebih gembira daripada ucapan Rasulullah: ‘engkau bersama orang yang engkau cintai’ ”. Lalu Anas melanjutkan: “Kalau begitu, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya, Abu Bakar serta ‘Umar. Aku berharap kelak dikumpulkan oleh Allah bersama mereka meskipun aku belum berbuat seperti yang telah mereka perbuat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam an-Nawawy, setelah menyebutkan beberapa hadits terkait dengan hadits diatas, menyatakan: “Hadits ini mengandung keutamaan mencintai Allah dan Rasul-Nya, orang-orang yang shalih, orang-orang yang suka berbuat kebajikan baik yang masih hidup atau yang telah mati. Dan diantara keutamaan mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan keduanya serta berakhlaq dengan akhlaq islami. Di dalam mencintai orang-orang yang shalih tidak mesti mengerjakan apa saja yang dikerjakannya sebab bila demikian halnya maka berarti dia adalah termasuk kalangan mereka atau seperti mereka. Pengertian ini dapat diambil dari hadits setelah ini, yakni (ucapan seseorang yang bertanya tentang pendapat beliau shallallâhu 'alaihi wa sallam mengenai) seseorang yang mencintai suatu kaum sementara dia tidak pernah sama sekali bertemu dengan mereka (seperti yang tersebut di dalam hadits diatas-red)…”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah mengaitkan makna cinta tersebut selama seseorang itu mencintai Allah dan Rasul-Nya sebab orang yang mencintai Allah, maka dia pasti mencintai para Nabi-Nya karena Dia Ta’ala mencintai mereka dan mencintai setiap orang yang meninggal di atas iman dan taqwa. Maka mereka itulah Awliyâ Allah (para wali Allah) yang Allah cintai seperti mereka yang dipersaksikan oleh Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam masuk surga, demikian pula dengan Ahli Badar dan Bai’ah ar-Ridlwan. Jadi, siapa saja yang telah dipersaksikan oleh Rasulullah masuk surga, maka kita bersaksi untuknya dengan hal ini sedangkan orang yang tidak beliau persaksikan demikian, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama; sebagian ulama mengatakan: ‘tidak boleh dipersaksikan bahwa dia masuk surga dan kita juga tidak bersaksi bahwa Allah mencintainya’. Sedangkan sebagian yang lain mengatakan: ‘justeru orang yang memang dikenal keimanan dan ketakwaannya di kalangan manusia serta kaum Muslimin telah bersepakat memuji mereka seperti ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, al-Hasan al-Bashry, Sufyan ats-Tsaury, Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’iy, Ahmad, Fudlail bin ‘Iyadl, Abu Sulaiman ad-Darany (al-Kurkhy), ‘Abdullah bin Mubarak dan selain mereka, kita mesti bersaksi bahwa mereka masuk surga’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara dalil yang digunakan oleh kelompok kedua ini adalah hadits shahih yang menyatakan bahwa Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam pernah melewati suatu jenazah lalu mereka memujinya dengan kebaikan, maka beliau berkata: “pasti, pasti”. Kemudian lewat lagi suatu jenazah lalu mereka bersaksi untuknya dengan kejelekan, maka beliau berkata: “pasti, pasti”. Mereka lantas bertanya: “wahai Rasulullah! Apa maksud ucapanmu : ‘pasti, pasti tersebut ?’. beliau menjawab: “jenazah ini kalian puji dengan kebaikan, maka aku katakan: ‘pasti ia masuk surga’. Dan jenazah satunya, kalian bersaksi dengan kejelekan untuknya, maka aku katakan: ‘pasti dia masuk neraka’. Lalu ada yang bertanya kepada beliau: “bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “dengan pujian baik atau jelek”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi Mahabbah (Kecintaan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahabbah ada beberapa jenis:&lt;br /&gt;Pertama, al-Mahabbah Lillâh (kecintaan karena Allah) ; jenis ini tidak menafikan tauhid kepada-Nya bahkan sebagai penyempurna sebab ikatan keimanan yang paling kuat adalah kecintaan karena Allah dan kebencian karena Allah.&lt;br /&gt;Refleksi dari kecintaan karena Allah adalah bahwa kita mencintai sesuatu karena Allah Ta’ala mencintainya baik ia berupa orang atau pekerjaan, dan inilah yang merupakan penyempurna keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara contoh yang menjelaskan perbedaan antara kecintaan kepada Allah dan selain Allah adalah antara apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Abu Thalib; Abu Bakar mencintai Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam karena semata-mata mengharap ridla Allah sedangkan Abu Thalib, paman Nabi mencintai diri beliau dan membelanya karena mengikuti hawa nafsunya bukan karena Allah sehingga Allah menerima amal Abu Bakar dan tidak menerima amal Abu Thalib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, al-Mahabbah ath-Thabî’îyyah (kecintaan yang alami) dimana seseorang tidak mendahulukannya dari kecintaannya kepada Allah ; jenis ini juga tidak menafikan kecintaan kepada Allah. Contohnya adalah seperti kecintaan terhadap isteri, anak dan harta. &lt;br /&gt;Oleh karena itu, tatkala Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam ditanyai tentang siapa manusia yang paling engkau cintai?. Beliau menjawab: ‘Aisyah. Lalu beliau ditanyai lagi: dari kalangan laki-laki siapa?. Beliau menjawab: ayahnya (yakni Abu Bakar). &lt;br /&gt;Demikian juga kecintaan seseorang kepada makanan, pakaian dan selain keduanya yang bersifat alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, al-Mahabbah ma’a Allah (kecintaan berbarengan dengan kecintaan kepada Allah) yang menafikan tauhid kepada-Nya; yaitu menjadikan kecintaan kepada selain Allah seperti kecintaan kepada-Nya atau melebihinya dimana bila kedua kecintaan itu saling bertolak belakang, seseorang lebih mengutamakan kecintaan kepada selain-Nya ketimbang kepada-Nya. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang menjadikan kecintaan tersebut sebagai sekutu bagi Allah yang lebih diutamakannya atas kecintaan kepada-Nya atau –paling tidak- menyamainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara contoh kecintaan kepada selain Allah adalah seperti kecintaan kaum Nashrani terhadap ‘Isa al-Masih 'alaihissalâm, kecintaan kaum Yahudi terhadap Musa 'alaihissalâm, kecintaan kaum Syi’ah Rafidlah terhadap ‘Aly radliallâhu 'anhu, kecintaan kaum Ghulât (orang-orang yang melampaui batas dan berlebih-lebihan) terhadap para syaikh dan imam mereka seperti orang yang menunjukkan loyalitas terhadap seorang Syaikh atau Imam dan menghasut orang lain agar menjauhi orang yang dianggap rival atau saingannya padahal masing-masing mereka hampir sama atau sama di dalam kedudukan dan kualitas keilmuan. Ini sama dengan kondisi Ahlul Kitab yang beriman kepada sebagian Rasul dan kufur kepada sebagian yang lain; kondisi kaum Syi’ah Rafidlah yang menunjukkan loyalitas terhadap sebagian shahabat dan memusuhi sebagian besar yang lainnya, demikian pula kondisi orang-orang yang fanatik dari kalangan Ahli Fiqih dan Zuhud yang menunjukkan sikap loyalitas terhadap para syaikh dan imam mereka dengan menganggap remeh orang-orang selain mereka yang sebenarnya hampir sama atau selevel dengan para syaikh dan imam mereka tersebut. Seorang Mukmin sejati adalah orang yang menunjukkan loyalitas terhadap semua orang yang beriman sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan Antara Klasifikasi Pertama Dan Ketiga &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan antara klasifikasi pertama, yakni al-Mahabbah lillâh (kecintaan karena Allah) dan klasifikasi ketiga, yakni al-Mahabbah ma’a Allah (kecintaan berbarengan dengan kecintaan kepada Allah) tampak jelas sekali, yaitu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- bahwa Ahli syirik menjadikan sekutu-sekutu yang mereka cintai sama seperti kecintaan mereka kepada Allah bahkan lebih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- sedangkan orang-orang yang beriman dan ahli iman sangat mencintai Allah, ini dikarenakan asal kecintaan mereka adalah mencintai Allah dan barangsiapa yang mencintai Allah, maka dia akan mencintai orang yang dicintai oleh Allah; dan barangsiapa yang dicintai oleh-Nya, maka dia akan mencintai-Nya. Jadi, orang yang dicintai oleh orang yang dicintai oleh Allah adalah dicintai oleh Allah karena dia mencintai Allah; barangsiapa yang mencintai Allah, maka Allah akan mencintainya sehingga kemudian dia mencintai orang yang dicintai oleh-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urgensi Mencintai Allah dan Rasul-Nya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban pertama seorang hamba adalah mencintai Allah Ta’ala karena merupakan jenis ibadah yang paling agung sebagaimana firman-Nya : “Dan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”. (Q,.s.al-Baqarah/01: 165). Hal ini dikarenakan Dia Ta’ala adalah Rabb yang telah berkenan memberikan kepada semua hamba-Nya nikmat-nikmat yang banyak baik secara lahir maupun bathin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban berikutnya adalah mencintai Rasul-Nya, Muhammad shallallâhu 'alaihi wa sallam sebab beliaulah yang mengajak kepada Allah, memperkenalkan-Nya, menyampaikan syari’at-Nya serta menjelaskan kepada manusia hukum-hukum-Nya. Jadi, semua kebaikan yang didapat oleh seorang mukmin di dunia dan akhirat semata adalah berkat perjuangan Rasulullah. Seseorang tidak akan masuk surga kecuali bila ta’at dan mengikuti beliau shallallâhu 'alaihi wa sallam . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadits yang lain disebutkan: “Tiga hal yang bila ada pada seseorang maka dia akan merasakan manisnya iman; (pertama)bahwa dia menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya; (kedua) dia mencintai seseorang hanya karena Allah; (ketiga) dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah darinya sebagaimana dia benci dirinya dicampakkan ke dalam api neraka”. (Hadits Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, mencintai Rasulullah yang menempati peringkat kedua merupakan sub-ordinasi dan konsekuensi dari mencintai Allah Ta’ala. Khusus dengan kewajiban mencintai Rasulullah dan mendahulukannya atas kecintaan terhadap siapapun dari Makhluk Allah, terdapat hadits beliau yang berbunyi (artinya) : “Tidaklah beriman seseorang diantara kalian hingga aku menjadi orang yang paling dicintainya daripada anaknya, ayahnya serta seluruh manusia”. (Hadits Muttafaqun ‘alaih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, hendaknya kecintaannya terhadap Rasulullah melebihi kecintaannya terhadap dirinya sendiri sebagaimana disebutkan di dalam hadits bahwa ‘Umar bin al-Khaththab radliallâhu 'anhu pernah berkata: “Wahai Rasulullah! Sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu selain daripada diriku”. Lalu beliau bersabda: “demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga engkau jadikan aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri”. Lantas ‘Umar berkata kepada beliau: “Kalau begitu, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri”. Beliau berkata kepadanya: “Sekaranglah, wahai ‘Umar!”. (H.R.Bukhary).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibn al-Qayyim berkata: “Setiap mahabbah (kecintaan) dan pengagungan terhadap manusia hanya boleh menjadi sub-ordinasi dari kecintaan kepada Allah dan pengagungan terhadap-Nya, yaitu seperti kecintaan kepada Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam dan pengagungan terhadapnya karena hal ini merupakan sarana penyempurna kecintaan terhadap utusan-Nya dan pengagungan terhadap-Nya. Sesungguhnya, umat mencintai Rasul mereka karena kecintaan Allah, pengagungan-Nya serta pemuliaan-Nya terhadap dirinya. Inilah bentuk kecintaan yang merupakan konsekuensi dari kecintaan kepada Allah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasi Dari Kecintaan Kepada Selain Allah Dan Rasul-Nya Yang Berlebihan &lt;br /&gt;Dimuka telah dijelaskan bahwa kita sangat menginginkan agar dikumpulkan bersama orang-orang yang kita cintai, yaitu orang-orang yang shalih dan dikenal ketaqwaannya. Sementara itu menurut satu pendapat, juga kita dibolehkan bersaksi untuk orang yang memang dikenal oleh kalangan luas ketaqwaan dan keshalihannya serta umat telah bersepakat memujinya seperti imam-imam madzhab yang empat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, telah disebutkan bahwa ada dua pendapat terkait dengan persaksian masuk surga terhadap orang yang belum dipersaksikan demikian oleh Rasulullah dimana salah satu pendapat berdalil dengan salah satu sabda beliau shallallâhu 'alaihi wa sallam yang memberikan kriteria, yaitu adanya pujian baik dan jelek dari manusia.&lt;br /&gt;Dari sini, sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah bahwa sebenarnya banyak di kalangan para syaikh yang terkenal di masa beliau yang bisa jadi bukan orang berilmu, bahkan melakukan amalan sesat, kemaksiatan dan dosa-dosa yang menghalangi diri mereka dari persaksian orang terhadap mereka dengan kebaikan. Bahkan bisa jadi, diantara mereka ada orang Munafiq dan Fasiq, juga tidak menutup kemungkinan ada orang yang termasuk wali-wali Allah yang benar-benar bertaqwa dan beramal shalih serta termasuk hizb-Nya yang mendapatkan kemenangan. Disamping itu, ada pula kelompok manusia selain para syaikh tersebut yang dikategorikan sebagai para wali Allah dan hamba-hamba-Nya yang bertaqwa -dimana mereka itu masuk surga - seperti para pedagang, petani dan selain mereka dari kelas sosial lainnya yang ada di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, menurut Syaikhul Islam, barangsiapa yang meminta agar kelak dikumpulkan dengan seorang Syaikh yang dia tidak tahu bagaimana akhir hidupnya maka dia telah sesat, bahkan seharusnya dia meminta agar dikumpulkan oleh Allah dengan orang yang dia ketahui akhir hidupnya yaitu para Nabi dan hamba-hamba-Nya yang shalih sebagaimana firman Allah Ta’ala: “…dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mu'min yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula”. (Q,.s. 66/at-Tahrim: 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)”. (Q,.s. 5/al-Ma-idah: 55). Demikian pula di dalam firman-Nya: “Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”. (Q,.s. 5/al-Ma-idah: 56).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, berdasarkan ayat-ayat tersebut diatas, kembali menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, siapa saja yang mencintai seorang Syaikh/tuan guru yang menyelisihi syari’at, maka dia kelak akan bersamanya; bila si Syaikh dimasukkan ke dalam neraka, maka dia akan bersamanya disana. Sebab secara lumrah sudah diketahui bahwa para Syaikh yang menyimpang dan menyelisihi Kitabullah dan as-Sunnah adalah orang-orang yang sesat dan jahil, karenanya; barangsiapa yang bersama mereka, maka jalan akhir dari kehidupannya adalah sama seperti jalan akhir dari kehidupan orang-orang tersebut (ahli kesesatan dan kejahilan). Sedangkan mencintai orang yang termasuk para wali Allah yang bertaqwa seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Aly dan selain mereka adalah merupakan ikatan keimanan yang paling kokoh dan sebesar-besar kebaikan yang akan diraih oleh orang-orang yang bertaqwa. Andaikata seseorang mencintai seseorang yang lain lantaran melihat kebaikan yang tampak pada dirinya yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan mengganjarnya pahala atas kecintaannya terhadap apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya meskipun dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya tersimpan di dalam bathinnya (orang tersebut) karena hukum asalnya adalah mencintai Allah dan mencintai apa yang dicintai oleh-Nya; barangsiapa yang mencintai Allah dan apa yang dicintai oleh-Nya, maka dia termasuk wali Allah akan tetapi kebanyakan manusia sekarang hanya mengaku-aku saja bahwa dirinya mencintai tetapi tanpa teliti dan realisasi yang benar. Allah berfirman: “Katakanlah (wahai Muhammad)! Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni semua dosa kalian”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini turun terhadap suatu kaum di masa Rasulullah yang mengaku-aku bahwa mereka mencintai Allah. &lt;br /&gt;Mencintai Allah dan Rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya yang bertaqwa memiliki konsekuensi melakukan hal-hal yang dicintai-Nya dan menjauhi hal-hal yang tidak disukai-Nya sementara manusia di dalam hal ini memiliki perbedaan yang signifikan; barangsiapa yang di dalam hal tersebut berhasil meraup jatah yang banyak, maka dia akan meraih derajat yang paling besar pula di sisi Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang yang mencintai seseorang karena mengikuti hawa nafsunya seperti dia mencintainya karena ada urusan yang bersifat duniawi yang ingin diraihnya, karena suatu hajat tertentu, karena harta yang dia menumpang makan kepada si empunya-nya, atau karena fanatisme terhadapnya, dan semisal itu; maka ini semua itu bukan termasuk kecintaan karena Allah tetapi (kecintaan) karena hawa nafsu belaka. Kecintaan seperti inilah yang menjerumuskan para pelakunya ke dalam kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK DARI HADITS TERSEBUT &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban pertama seorang hamba adalah mencintai Allah, setelah itu diikuti dengan kewajiban berikutnya, yaitu mencintai Rasul-Nya yang merupakan subordinasi dan konsekuensi dari mencintai Allah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang kelak akan dikumpulkan bersama orang yang diidolakan dan dicintainya; maka hendaknya yang menjadi idola kita adalah Allah dan Rasul-Nya serta hamba-hamba-Nya yang shalih dan bertaqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaksian terhadap seseorang masuk surga atau tidak boleh dilakukan bila memang termasuk orang yang sudah dipersaksikan oleh Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam, sedangkan terhadap orang yang banyak dipuji dan dipersaksikan oleh orang banyak; maka terdapat perbedaan pendapat tentang kebolehannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya semua makhluk mengikuti Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam; tidak menyembah selain Allah dan beribadah kepada-Nya dengan syari’at Rasulullah, bukan selainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh kita mengidolakan dan mencintai orang-orang yang dikenal sebagai pelaku maksiat dan pengumbar hawa nafsu karena implikasinya amat berbahaya, khususnya terhadap ‘aqidah. Karenanya, bagi mereka yang terlanjur telah mengidolakan orang-orang seperti itu yang tidak karuan ‘aqidah dan akhlaqnya, hendaknya mulai dari sekarang mencabut pengidolaan tersebut dari hati mereka dan mengalihkannya kepada idola yang lebih utama, yaitu Allah dan Rasul-Nya serta hamba-hamba-Nya yang shalih dan bertaqwa. Sebab bila tidak, maka akhir hidupnya akan seperti akhir hidup orang-orang yang diidolakannya yang tidak karuan juntrungannya tersebut, na’ûdzu billâhi min dzâlik. Wallahu a’lam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REFERENSI:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.“Majmu’ al-Fatâwâ” Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah, pasal: Ma’na hadîts “al-Mar-u ma’a man Ahabb” &lt;br /&gt;2.Kitab “at-Tauhid” karya Syaikh Shalih al-Fauzân&lt;br /&gt;3.Kitab “al-Qaul al-Mufîd ‘ala kitâb at-Tauhîd” karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullâh, jld. I, hal. 151)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-1466782607585356135?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/1466782607585356135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/siapa-idola-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/1466782607585356135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/1466782607585356135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/siapa-idola-kita.html' title='Siapa Idola Kita ?'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/SuBeYK4UZHI/AAAAAAAAAU0/mb-9eHKC6-k/s72-c/true-love.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-6567773754762371835</id><published>2009-10-21T15:38:00.000-07:00</published><updated>2009-10-21T16:04:46.503-07:00</updated><title type='text'>Mensyukuri Nikmat Allah dengan Menuntut Ilmu Agama (sebuah nasehat bagi pemuda)</title><content type='html'>A. Kewajiban kita atas karunia yang kita terima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya wajib bagi kita bersyukur kepada Allah ta’ala dengan cara melaksanakan kewajiban terhadap-Nya. Hal ini merupakan kewajiban karena nikmat yang telah diberikan Allah ta’ala kepada kita. Seseorang yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada orang lain yang telah memberikan sesuatu yang sangat berharga baginya, ia adalah orang yang yang tidak tahu berterima kasih. Maka manusia yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada Allah ta’ala adalah manusia yang paling tidak tahu berterima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kewajiban yang harus kita laksanakan kepada Allah ta’ala yang telah memberikan karuniaNya kepada kita? Jawabannya adalah karena Allah ta’ala telah memberikan karuniaNya kepada kita dengan petunjuk ke dalam Islam dan mengikuti Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, maka bukti terima kasih kita yang paling baik adalah dengan beribadah hanya kepada Allah ta’ala secara ikhlas, mentauhidkan Allah ta’ala, menjauhkan segala bentuk kesyirikan, ittiba’ (mengikuti) Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, taat kepada Allah ta’ala dan RasulNya shalallahu ‘alaihi wasallam, yang dengan hal itu kita menjadi muslim yang benar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim sejati ialah muslim yang mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah ta’ala semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, serta ittiba’ hanya kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu untuk menjadi seorang muslim yang benar, ia harus menuntut ilmu syar’i. Ia harus belajar agama Islam, karena Islam adalah ilmu dan amal shalih. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam diutus Allah ta’ala untuk membawa keduanya. Allah ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia-lah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS At Taubah:33 dan Ash Shaf : 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala juga berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia-lah yang telah mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkanNya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS Al Fath : 28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan  الهُدَى  (petunjuk) ialah ilmu yang bermanfaat, dan  دِيْنُ الْحَقِ (agama yang benar) ialah amal shalih. Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan, menjelaskan tentang nama-nama Allah ta’ala, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya, hukum-hukum dan berita yang datang dariNya, memerintahkan semua yang bermanfaat untuk hati, ruh dan jasad. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah ta’ala, mencintaiNya, berakhlak dengan akhlak yang mulia, beramal shalih, beradab dengan adab yang bermanfaat. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam melarang perbuatan syirik, amal dan akhlak yang buruk yang berbahaya untuk hati dan badan, dunia dan akhirat.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara untuk mendapat hidayah dan mensyukuri nikmat Allah ta’ala adalah dengan menuntut ilmu syar’i. Menuntut ilmu sebagai jalan yang lurus (ash shirathal mustaqim), untuk memahami antara yang haq dan bathil, yang bermanfaat dengan yang mudaharat (membahayakan), yang dapat mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim tidaklah cukup hanya menyatakan ke-Islamannya, tanpa memahami Islam dan mengamalkannya. Pernyataannya itu  harus dibuktikan dengan melaksanakan konsekuensi dari Islam.&lt;br /&gt;Untuk itu, menuntut ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan yang abadi. Seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu syar’i. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (رواه ابن ماجه 224 عن أنس بن مالك رضي الله عنه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim. (HR Ibnu Majah No. 224 dari shahabat Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, lihat Shahih Jamiush Shagir, no. 3913) [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Keutamaan Ilmu dan Menuntutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu memiliki banyak keutamaan, di antaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menuntut ilmu adalah jalan menuju Surga. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ (رواه مسلم4/2074 رقم 2699 و غيره عن أبي هريرة رضي الله عنه)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. (HR Muslim 4/2074 no. 2699 dan yang lainnya dari shahabat Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Warisan para Nabi, sebagaimana sabda Rasululloh shalallahu ‘alaihi wasallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ رَوَاه التِّرْمِذِيْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham, namun hanya mewariskan ilmu. Sehingga siapa yang mengambil ilmu tersebut maka telah mengambil bagian sempurna darinya (dari warisan tersebut). (HR At Tirmidzi )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Allah ta’ala mengangkat derajat ahli ilmu di dunia dan akherat, sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.Dan apabila dikatakan:”Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujadilah : 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ilmu Pintu kebaikan dunia dan akherat, sebagaimana sabda Rasululloh shalallahu ‘alaihi wasallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa yang Allah inginkan padanya kebaikan maka Allah fahamkan agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pentingnya Ilmu Syar’i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita senantiasa ditambahkan ilmu, hidayah dan istiqamah di atas keta’atan, bila kita menuntut ilmu syar’i. Hal ini tidak boleh diabaikan dan tidak boleh juga dianggap remeh. Kita harus selalu bersikap penuh perhatian, serius serta sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i. Kita akan tetap berada di atas ash-Shirathal Mustaqiim bila kita selalu belajar ilmu syar’i dan beramal shalih. Kalau   kita tidak perhatikan dua hal penting ini bukan mustahil Iman dan Islam kita akan terancam bahaya. Iman kita akan terus berkurang dengan sebab ketidaktahuan kita tentang Islam, Iman, Kufur, Syirik, dan dengan sebab banyaknya dosa dan maksiyat yang kita lakukan ! Bukankah Iman kita jauh lebih berharga daripada hidup ini ? Dari sekian banyak waktu yang kita habiskan untuk bekerja, berusaha, bisnis, berdagang, kuliah dan lainnya, apakah tidak bisa kita sisihkan sepersepuluhnya untuk hal-hal yang dapat melindungi Iman kita ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidaklah mengatakan bahwa setiap muslim harus menjadi ulama, membaca kitab-kitab yang tebal dan menghabiskan waktu sepuluh atau belasan tahun untuk usaha tersebut. Minimal setiap muslim harus bisa menyediakan waktunya satu jam saja setiap hari untuk mempelajari ilmu pengetahuan agama Islam. Itulah waktu yang paling sedikit yang harus disediakan oleh setiap muslim, baik remaja, pemuda, orang dewasa maupun yang sudah lanjut usia. Setiap muslim harus memahami esensi ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman salafush shalih. Oleh karena itu ia harus tahu agama Islam dengan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah sehingga ia dapat mengamalkan Islam ini dengan benar. Tidak banyak waktu yang dituntut untuk memperoleh pengetahuan agama Islam. Bila Iman kita lebih berharga dari segalanya, maka tidak sulit bagi kita untuk menyediakan waktu 1 jam ( enam puluh menit ) untuk belajar tentang Islam setiap hari dari waktu 24 jam ( seribu empat ratus empat puluh menit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu syar’i mempunyai keutamaan yang sangat besar dibandingkan dengan harta yang kita miliki. Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullahu (wafat tahun 751 H) menjelaskan perbedaan antara ilmu dengan harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Kemuliaan Ilmu atas Harta [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ilmu adalah warisan para Nabi, sedang harta adalah warisan para raja dan orang kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ilmu itu menjaga yang empunya, sedang pemilik harta menjaga hartanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ilmu adalah penguasa atas harta, sedang harta  tidak berkuasa atas ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Harta bisa habis dengan sebab dibelanjakan, sedang ilmu justru bertambah dengan diajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pemilik harta jika telah meninggal dunia, ia berpisah dengan dengan hartanya, sedang ilmu mengiringinya masuk ke dalam kubur bersama para pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Harta bisa didapatkan oleh siapa saja baik orang beriman, kafir, orang shalih dan orang jahat, sedang ilmu yang bermanfaat hanya didapatkan oleh orang yang beriman saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Sesungguhnya jiwa menjadi lebih mulia dan bersih dengan mendapatkan ilmu, itulah kesempurnaan dirinya dan kemuliaannya. Sedang harta, ia tidak membersihkan dirinya, tidak pula menambahkan sifat kesempurnaan dirinya, malah jiwanya menjadi berkurang dan kikir dengan mengumpulkan harta dan menginginkannya. Jadi keinginannya kepada ilmu adalah inti kesempurnaannya dan keinginannya kepada harta adalah ketidaksempurnaan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Sesungguhnya mencintai ilmu dan mencarinya adalah akar semua ketaatan, sedangkan mencintai harta  dan dunia  adalah akar semua kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Sesungguhnya orang berilmu mengajak manusia kepada Allah ta’ala dengan ilmunya dan akhlaknya, sedang orang kaya itu mengajak manusia ke neraka dengan harta dan sikapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Sesungguhnya yang dihasilkan dengan kekayaan harta adalah kelezatan binatang. Jika pemiliknya mencari kelezatan dengan mengumpulkannya, itulah kelezatan ilusi. Jika pemiliknya mengumpulkan dengan menggunakannya untuk memenuhi kebutuhannya syahwatnya, itulah kelezatan binatang. Sedang kelezatan ilmu, ia adalah kelezatan akal plus ruhani yang mirip dengan kelezatan para malaikat dan kegembiraan mereka. Antara kedua kelezatan tersebut (kelezatan harta dan ilmu) terdapat perbedaan yang mencolok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.    Faktor Pembantu Dalam Menuntut Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor pembantu dalam keberhasilan menuntut ilmu sangat banyak sekali, diantaranya:&lt;br /&gt;1. Taqwa&lt;br /&gt;2. Do’a&lt;br /&gt;3. Konsistensi dan kontinyuitas dalam menuntut ilmu&lt;br /&gt;4. Menghafal&lt;br /&gt;5. Mulazamah ulama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Cara Tahshiel (Mendapatkan) Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua cara mendapatkan ilmu :&lt;br /&gt;1. Dengan menelaah dan mangambil ilmu dari kitab-kitab yang terpercaya yang telah ditulis para ulama yang sudah dikenal aqidah dan amanahnya&lt;br /&gt;2. Dengan menerima langsung dari guru yang terpercaya kelilmuan dan kesholehannya. Cara inilah yang paling cepat dan gampang dalam mengambil ilmu agama.&lt;br /&gt;Demikianlah ringkasan makalah ini, mudah-mudahan bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ust. Kholid Syamhudi, Lc&lt;br /&gt;Artikel ustadzkholid.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Kaki:&lt;br /&gt;[1] Lihat Tafsir Taisirul Karimur Rahman Fi Tafsir Kalaamil Mannaan, oleh Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As Sa’di (wafat th. 1376 H) hlm. 295-296, Cet. Muasasah Ar Risalah th. 1417 H.&lt;br /&gt;[2] Diriwayatkan pula dari beberapa sahabat seperti  Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id Al-Khudri, Husain bin Ali  radhiyallahu ‘anhum dan imam-imam ahli hadits dengan sanad yang shahih. Lihat kitab Takhrij Musykilatul Faqr no. 86 oleh Syaikh Al Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani t Cet. IV Al Maktab Al Islami, th. 1414 H.&lt;br /&gt;[3] Lihat Al Ilmu Fadhluhu Wa Syarafuhu Min Durari Kalami, Syaikhul Islam Ibnu Qoyyim, tahqiq wa ta’liq Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al Halabi Al Atsari, Cet. I. Majmu’ atuttuhaf An Nafaais Ad Dauliyah, th. 1416 H.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-6567773754762371835?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/6567773754762371835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/mensyukuri-nikmat-allah-dengan-menuntut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/6567773754762371835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/6567773754762371835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/mensyukuri-nikmat-allah-dengan-menuntut.html' title='Mensyukuri Nikmat Allah dengan Menuntut Ilmu Agama (sebuah nasehat bagi pemuda)'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-6104324002889084440</id><published>2009-10-21T06:17:00.000-07:00</published><updated>2009-10-21T06:33:16.019-07:00</updated><title type='text'>MALAM DAN SIANG HANYALAH SEBUAH PERJALANAN</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku semuslim…&lt;br /&gt;Malam dan siang hanyalah sebuah perjalanan yang selalu dilalui oleh setiap insan, dia melewatinya selangkah demi selangkah sehingga sampai pada akhir sebuah perjalanan. Jika Anda bisa mempersembahkan sebuah perbekalan pada setiap langkah tersebut, maka lakukanlah, karena tidak lama lagi perjalanan ini akan berakhir, bahkan dia berlari dengan lebih cepat dari yang engkau bayangkan. Maka bekalilah dirimu dalam perjalanan ini dan lakukanlah kewajibanmu, seakan-akan engkau sedang ada dalam perjalanan yang banyak mengandung bahaya para perampok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Salaf menulis surat kepada saudaranya (yang isinya), “Wahai saudaraku, engkau berkhayal bahwa engkau selamanya berada di dunia, akan tetapi sebenarnya engkau ada dalam sebuah perjalanan. Engkau digiring dengan cepat, kematian datang menghadangmu, sedangkan dunia telah menggulung tikarnya di belakangmu, umurmu yang telah berlalu sama sekali tidak akan kembali.”[1]&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua berjalan pada kelompok orang-orang yang zuhud, sedangkan kafilah (rombongan) orang-orang yang shalih telah berlalu… bagaimana kita melihat dunia menyatu dengan akhirat… antara zuhud dengan qana’ah. ‘Ali bin Fudhail berkata, “Aku mendengar ayahku berbicara kepada Ibnul Mubarak, ‘Engkau memerintahkan kami untuk hidup dengan zuhud dan kesederhanaan, akan tetapi aku melihat dirimu yang selalu membawa barang dagangan, bagaimana hal ini bisa terjadi?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Abu ‘Ali, aku melakukannya hanya untuk menjaga wajah dan kehormatanku, dan dengannya aku melakukan ketaatan kepada Rabb-ku.’ Lalu dia berkata, ‘Wahai Ibnul Mubarak! Sungguh indahnya hal ini jika ini dilakukan dengan sempurna!!’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku tercinta…&lt;br /&gt;Bagaimana engkau memandang dunia ini? Sungguh indahnya dunia jika ia datang dari pintu yang halal dan digunakan di jalan yang halal. Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan sangat banyak dan tidak dapat dihitung: shadaqah, membantu orang yang sangat membutuhkan, menolong orang yang tertimpa musibah, membantu para janda, dan menanggung hidup anak-anak yatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…Sufyan pernah berkata, “Jagalah dirimu dari kemarahan Allah dalam tiga hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Jagalah dirimu agar tidak lalai pada perintah-Nya,&lt;br /&gt;(2) Jagalah dirimu dari sikap tidak rela akan keputusan-Nya sedangkan Dia melihatmu, dan&lt;br /&gt;(3) Jagalah dirimu dari sikap membenci Rabb-mu ketika engkau meminta kepada-Nya, tetapi engkau tidak mendapatkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya yang membagi-bagikan rizki di dunia ini adalah Allah, karena itu engkau harus rela terhadap pembagian-Nya, sedikit ataupun banyak, datang atau pergi, dunia itu memihakmu ataupun meninggalkanmu, engkau harus rela terhadap apa yang engkau dapatkan. Janganlah hatimu risau karenanya, janganlah engkau membenci apa yang telah Allah tentukan untukmu, dan janganlah engkau melihat orang yang lebih tinggi darimu dalam hal keduniaan. Akan tetapi lihatlah kepada orang-orang shalih dan orang-orang pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja yang ingin hidup lapang&lt;br /&gt;di dalam naungan agama dengan meraih dunia,&lt;br /&gt;maka lihatlah orang yang lebih wara’ (takwa) daripadanya&lt;br /&gt;dan perhatikanlah orang yang lebih miskin dari-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih indah lagi dari ungkapan tersebut adalah firman Allah di dalam Kitab-Nya yang mulia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya… ." [Thahaa: 131]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim al-Asy’ats rahimahullah berkata, “Aku mendengar Fudhail berkata, ‘Rasa takut seorang hamba terhadap Allah sesuai dengan keilmuannya kepada-Nya. Kezuhudan seorang hamba terhadap dunia sesuai dengan keinginannya atas kebahagiaan akhirat. Siapa saja yang beramal dengan ilmu yang ia ketahui, maka dia akan merasa cukup terhadap apa-apa yang tidak ia ketahui. Dan siapa saja yang mengamalkan sesuatu yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan ilmu yang tidak ia ketahui. Siapa saja memiliki prilaku yang jelek, maka jelek pulalah agama, keturunan, dan kehormatannya.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dari orang-orang zuhud berkata, “Aku tidak pernah mengetahui seseorang yang mendengar Surga dan Neraka, kemudian didatangkan kematian kepadanya. Sedangkan ia dalam keadaan tidak melakukan ketaatan kepada Allah sesaat pun, baik dengan berdzikir, shalat, membaca al-Qur-an atau dengan berbuat baik.” Lalu seseorang berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku banyak menangis.” Lalu beliau berkata, “Jika engkau tertawa dengan mengakui kesalahan, itu lebih baik daripada engkau menangis tetapi selalu menampakkan amal. Jika seseorang me-nampakkan amalnya, niscaya amal tersebut tidak akan naik melebihi kepalanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tadi berkata, “Nasihatilah aku!” Beliau pun berkata, “Tinggalkanlah dunia untuk orang yang tamak kepadanya sebagaimana mereka meninggalkan akhirat. Dan jadilah di dunia ini bagaikan seekor lebah, dia tidak akan makan kecuali yang baik-baik. Dan jika terjatuh, maka dia tidak akan memecahkan atau merobek-robek sesuatu.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku tercinta…&lt;br /&gt;Tidak ada seorang pun yang mengingat kematian melainkan dunia akan menjadi hina dalam pandangannya, akhirnya semua penutup di hadapannya akan terbuka. Sesungguhnya dunia adalah beberapa tahun yang bisa dihitung, sebanyak apa pun materi yang dikumpulkan oleh seseorang dan sebanyak apa pun harta simpanan yang ia miliki, karena di belakang semua itu adalah kematian yang akan menghancurkan semua kelezatan dan memisahkan seseorang dari semua kawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kematian itu selalu membuka aib dunia, dia tidak akan membiarkan seseorang yang berakal mendapatkan kebahagiaan di dalamnya.” [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan apakah wahai saudaraku, sedangkan dunia begitu adanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia telah berseru kepada dirinya,&lt;br /&gt;seandainya di alam ini ada orang yang mendengarnya.&lt;br /&gt;Berapa banyak sang pengumpul harta yang telah aku hancurkan,&lt;br /&gt;harta yang dikumpulkannya.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Ad-Dun-yaa Zhillun Zaa-il, Penulis ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Edisi Indonesia Menyikapi Kehidupan Dunia Negeri Ujian Penuh Cobaan, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;Footnotes&lt;br /&gt;[1]. Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam, hal. 381.&lt;br /&gt;[2]. As-Siyar (VIII/426).&lt;br /&gt;[3]. Al-Ihyaa’ (IV/131).&lt;br /&gt;[4]. As-Siyar (VIII/426).&lt;br /&gt;[5]. Taariikh Baghdaad (XIV/444).&lt;br /&gt;[6]. Thabaqaatusy Syaafi’iyyah (VI/78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-6104324002889084440?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/6104324002889084440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/malam-dan-siang-hanyalah-sebuah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/6104324002889084440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/6104324002889084440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/malam-dan-siang-hanyalah-sebuah.html' title='MALAM DAN SIANG HANYALAH SEBUAH PERJALANAN'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-2742800985880739920</id><published>2009-10-20T00:17:00.000-07:00</published><updated>2009-10-20T00:26:00.140-07:00</updated><title type='text'>10 alasan untuk tidak memakai jilbab</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/St1l8CORAAI/AAAAAAAAAUs/DLif9FfNSA0/s1600-h/jilbab.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 360px; height: 302px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/St1l8CORAAI/AAAAAAAAAUs/DLif9FfNSA0/s400/jilbab.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394580010722983938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saudariku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan biarkan tubuhmu dipertontonkan di pasar para syetan dan merayu hati para pria. Model rambut, pakaian ketat yang mempertontonkan setiap detail tubuhmu, pakaian-pakaian pendek yang menunjukkan keindahan kakimu, dan semua yang dapat membangkitkan amarah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyenangkan syetan. Setiap waktumu yang kau habiskan dalam kondisi ini, akan terus semakin menjauhkanmu dari Allah dan semakin membawamu lebih dekat pada syetan. Setiap waktu kutukan dan kemarahan menuju kepadamu dari surga hingga kau bertaubat. Setiap hari membawamu semakin dekat kepada kematian. “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain dari kesenangan yang memperdayakan” (QS Ali ‘Imran 3:185). Naikilah kereta untuk mengejar ketinggalan, saudariku, sebelum kereta itu melewati stasiunmu. Renungkan secara mendalam, saudariku, apa yang terjadi hari ini sebelum esok datang. Pikirkan tentang hal ini, saudariku, sekarang, sebelum semuanya terlambat !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anda seorang muslimah dewasa dan masih belum menutup auratnya dengan hijab dan jilbab yang benar, maka ada baiknya merenungkan kembali alasan anda dengan menyimak dialog pemikiran dbawah ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALASAN I : Saya belum benar-benar yakin akan fungsi/kegunaan jilbab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kemudian menanyakan dua pertanyaan kepada saudari ini; Pertama, apakah ia benar-benar percaya dan mengakui kebenaran agama Islam? Dengan alami ia berkata, Ya, sambil kemudian mengucap Laa Ilaa ha Illallah! Yang menunjukkan ia taat pada aqidahnya dan Muhammadan rasullullah! Yang menyatakan ia taat pada syariahnya. Dengan begitu ia yakin akan Islam beserta seluruh hukumnya. Kedua, kami menanyakan; Bukankah memakai jilbab termasuk hukum dalam Islam? Apabila saudari ini jujur dan dan tulus dalam ke-Islamannya, ia akan berkata; Ya, itu adalah sebagian dari hukum Islam yang tertera di Al-Quran suci dan merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang suci. Jadi kesimpulannya disini, apabila saudari ini percaya akan Islam dan meyakininya, mengapa ia tidak melaksanakan hukum dan perintahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALASAN II : Saya yakin akan pentingnya jilbab namun Ibu saya melarangnya, dan apabila saya melanggar ibu, saya akan masuk neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang telah menjawab hal ini adalah ciptaan Allah Azza wa Jalla termulia, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam nasihatnya yang sangat bijaksana; “Tiada kepatuhan kepada suatu ciptaan diatas kepatuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR Ahmad). Sesungguhnya, status orangtua dalam Islam, menempati posisi yang sangat tinggi dan terhormat. Dalam sebuah ayat disebutkan; “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang Ibu Bapak . . “ (QS. An-Nisa:36). Kepatuhan terhadap orangtua tidak terbatas kecuali dalam satu aspek, yaitu apabila berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman; “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…(QS. Luqman : 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat tidak patuh terhadap orangtua dalam menjalani perintah AllahSubhanahu wa Ta’alatidak menyebabkan kita dapat berbuat seenaknya terhadap mereka. Kita tetap harus hormat dan menyayangi mereka sepenuhnya. Allah berfirman di ayat yang sama; “dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Kesimpulannya, bagaimana mungkin kamu mematuhi ibumu namun melanggar Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan kamu dan ibumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALASAN III : Posisi dan lingkungan saya tidak membolehkan saya memakai jilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudari ini mungkin satu diantara dua tipe: dia tulus dan jujur, atau sebaliknya, ia seorang yang membohongi dirinya sendiri dengan mengatasnamakan lingkungan pekerjaannya untuk tidak memakai jilbab. Kita akan memulai dengan menjawab tipe dia adalah wanita yang tulus dan jujur. “Apakah anda tidak tidak menyadari saudariku tersayang, bahwa wanita muslim tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah tanpa menutupi auratnya dengan hijab dan adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahuinya? Apabila engkau, saudariku, menghabiskan banyak waktu dan tenagamu untuk melakukan dan mempelajari berbagai macam hal di dunia ini, bagaimana mungkin engkau dapat sedemikian cerobohnya untuk tidak mempelajari hal-hal yang akan menyelamatkanmu dari kemarahan Allah dan kematianmu?” Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman; “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui (QS An-Nahl : 43).Belajarlah untuk mengetahui hikmah menutup auratmu. Apabila kau harus keluar rumahmu, tutupilah auratmu dengan jilbab, carilah kesenangan Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada kesenangan syetan. Karena kejahatan dapat berawal dari pemandangan yang memabukkan dari seorang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku tersayang, apabila kau benar-benar jujur dan tulus dalam menjalani sesuatu dan berusaha, kau akan menemukan ribuan tangan kebaikan siap membantumu, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat segala permasalahan mudah untukmu. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’alatelah berfirman; “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya..”(QS. AtTalaq :2-3). Kedudukan dan kehormatan adalah sesuatu yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tidak bergantung pada kemewahan pakaian yang kita kenakan, warna yang mencolok, dan mengikuti trend yang sedang berlaku. Kehormatan dan kedudukan lebih kepada bersikap patuh pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan bergantung pada hukum Allah yang murni. Dengarkanlah kalimat Allah; “sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu..”(QS. Al-Hujurat:13).Kesimpulannya, lakukanlah sesuatu dengan mencari kesenangan dan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan berikan harga yang sedikit pada benda-benda mahal yang dapat menjerumuskanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALASAN IV : Udara di daerah saya amatlah panas dan saya tidak dapat menahannya. Bagaimana mungkin saya dapat mengatasinya apalagi jika saya memakai jilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan perumpamaan dengan mengatakan; “api neraka jahannam itu lebih lebih sangat panas(nya) jikalau mereka mengetahui..”(QS At-Taubah : 81). Bagaimana mungkin kamu dapat membandingkan panas di daerahmu dengan panas di neraka jahannam? Sesungguhnya saudariku, syetan telah mencoba membuat tali besar untuk menarikmu dari panasnya bumi ini kedalam panasnya suasana neraka. Bebaskan dirimu dari jeratannya dan cobalah untuk melihat panasnya matahari sebagai anugerah, bukan kesengsaraan. Apalagi mengingat bahwa intensitas hukuman dari Allah akan jauh lebih berat dari apa yang kau rasakan sekarang di dunia fana ini. Kembalilah pada hukum Allah dan berlindunglah dari hukuman-Nya, sebagaimana tercantum dalam ayat; “mereka tidak merasakan kesejukan didalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah” (QS. AN-NABA 78:24-25). Kesimpulannya, surga yang Allah janjikan, penuh dengan cobaan dan ujian. Sementara jalan menuju neraka penuh dengan kesenangan, nafsu dan kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALASAN V : Saya takut, bila saya memakai jilbab sekarang, di lain hari saya akan melepasnya kembali, karena saya melihat banyak sekali orang yang begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada saudari itu saya berkata, “apabila semua orang mengaplikasikan logika anda tersebut, mereka akan meninggalkan seluruh kewajibannya pada akhirnya nanti! Mereka akan meninggalkan shalat lima waktu karena mereka takut tidak dapat melaksanakan satu saja waktu shalat itu. Mereka akan meninggalkan puasa di bulan ramadhan, karena mereka takut tidak dapat menunaikan satu hari ramadhan saja di bulan puasa, dan seterusnya. Tidakkah kamu melihat bagaimana syetan telah menjebakmu lagi dan memblokade petunju bagimu? Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai ketaatan yang berkesinambungan walaupun hanya suatu ketaatan yang sangat kecil atau dianjurkan. Lalu bagaimana dengan sesuatu yang benar-benar diwajibkan sebagaimana kewajiban memakai jilbab? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallambersabda; “Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan mulia yang terus menerus, yang mungkin orang lain anggap kecil.” Mengapa kamu saudariku, tidak melihat alasan mereka yang dibuat-buat untuk menanggalkan kembali jilbab mereka dan menjauhi mereka? Mengapa tidak kau buka tabir kebenaran dan berpegang teguh padanya? Allah Subhanahu wa Ta’ala sesungguhnya telah berfirman; “maka kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang di masa kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. AL BAQARAH 2:66). Kesimpulannya, apabila kau memang teguh petunjuk dan merasakan manisnya keimanan, kau tidak akan meninggalkan sekali pun perintah Allah setelah kau melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALASAN VI : Apabila saya memakai jilbab, maka jodohku akan sulit, jadi aku akan memakainya nanti setelah menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, suami mana pun yang lebih menyukaimu tidak memakai jilbab dan membiarkan auratmu di depan umum, berarti dia tidak mengindahkan hukum dan perintah Allah dan bukanlah suami yang berharga sejak semula. Dia adalah suami yang tidak memiliki perasaan untuk melindungi dan menjaga perintah Allah , dan jangan pernah berharap tipe suami seperti ini akan menolongmu menjauhi api neraka, apalagi memasuki surga Allah . Sebuah rumah yang dipenuhi dengan ketidak-taatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan selalu menghadapi kepedihan dan kemalangan di dunia kini dan bahkan di akhirat nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala bersabda; “dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. TAHA 20:124). Pernikahan adalah sebuah pertolongan dan keberkahan dari Allah kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Berapa banyak wanita yang ternyata menikah sementara mereka yang tidak memakai jilbab tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kau, saudariku tersayang, mengatakan bahwa ketidak-tertutupanmu kini adalah suatu jalan menuju sesuatu yang murni, asli, yaitu pernikahan. Tidak ada ketertutupan. Saudariku, suatu tujuan yang murni, tidak akan tercapai melalui jalan yang tidak murni dan kotor dalam Islam. Apabila tujuannya bersih dan murni, serta terhormat, maka jalan menuju kesana pastilah harus dicapai dengan bersih dan murni pula. Dalam syariat Islam kita menyebutnya : Alat atau jalan untuk mencapai sesuatu, tergantung dari peraturan yang ada untuk mencapai tujuan tersebut. Kesimpulannya, tidak ada keberkahan dari suatu perkawinan yang didasari oleh dosa dan kebodohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALASAN VII : Saya tidak memakai jilbab berdasarkan perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala : “dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (QS.Ad-Dhuhaa 93: 11). Bagaimana mungkin saya menutupi anugerah Allah berupa kulit mulus dan rambutku yang indah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saudari kita ini mengacu pada Kitab Allah selama itu mendukung kepentingannya dan pemahamannya sendiri ! ia meninggalkan tafsir sesungguhnya dibelakang ayat itu apabila hal itu tidak menyenangkannya. Apabila yang saya katakan ini salah, mengapa saudari kita ini tidak mengikuti ayat : “janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang nampak daripadanya” (QS An-Nur 24: 31] dan sabda Allah Subhanahu wa Ta’ala: “katakanlah kepada istri-istrimu,&lt;br /&gt;anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya..” (QS Al-Ahzab 33:59). Dengan pernyataan darimu itu, saudariku, engkau telah membuat syariah sendiri bagi dirimu, yang sesungguhnya telah dilarang oleh Allah, yang disebut at-tabarruj dan as-sufoor. Berkah terbesar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita adalah iman dan hidayah, yang diantaranya adalah menggunakan hijab. Mengapa kamu tidak mempelajari dan menelaah anugerah terbesar bagimu ini? Kesimpulannya, apakah ada anugerah dan pertolongan terhadap wanita yang lebih besar daripada petunjuk dan hijab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALASAN VIII : Saya tahu bahwa jilbab adalah kewajiban, tapi saya akan memakainya bila saya sudah merasa terpanggil dan diberi petunjuk oleh-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya kepada saudariku ini, rencana atau langkah apa yang ia lakukan selama menunggu hidayah, petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti yang dia katakan? Kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kalimat-kalimat bijak-Nya menciptakan sebab atau cara untuk segala sesuatu. Itulah mengapa orang yang sakit menelan sebutir obat untuk menjadi sehat, dan sebagainya. Apakah saudariku ini telah dengan seluruh keseriusan dan usahanya mencari petunjuk sesungguhnya dengan segala ketulusannya, berdoa, sebagaimana dalam surah Al-Fatihah 1:6 “Tunjukilah kami jalan yang lurus” serta berkumpul mencari pengetahuan kepada muslimah-muslimah lain yang lebih taat dan yang menurutnya telah diberi petunjuk dengan menggunakan jilbab? Kesimpulannya, apabila saudariku ini benar-benar serius dalam mencari atau pun menunggu petunjuk dari Allah , dia pastilah akan melakukan jalan-jalan menuju pencariannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALASAN IX : Belum waktunya bagi saya. Saya masih terlalu muda untuk memakainya. Saya pasti akan memakainya nanti seiring dengan penambahan umur dan setelah saya pergi haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat kematian, saudariku, mengunjungi dan menunggu di pintumu kapan saja Allah berkehendak. Sayangnya, saudariku, kematian tidak mendiskriminasi antara tua dan muda dan ia mungkin saja datang disaat kau masih dalam keadaan penuh dosa dan ketidaksiapan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersabda; “tiap umat mepunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS Al-An’aam 7:34] saudariku tersayang, kau harus berlomba-lomba dalam kepatuhan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, “berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumu..”(QS Al-Hadid 57:21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, jangan melupakan Allah atau Ia akan melupakanmu di dunia ini dan selanjutnya. Kau melupakan jiwamu sendiri dengan tidak memenuhi hak jiwamu untuk mematuhi-Nya. Allah mengatakan tentang orang-orang yang munafik, “dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri”(QS Al-Hashr 59: 19) saudariku, memakai jilbab di usiamu yang muda, akan memudahkanmu. Karena Allah akan menanyakanmu akan waktu yang kau habiskan semasa mudamu, dan setiap waktu dalam hidupmu di hari pembalasan nanti.Kesimpulannya, berhentilah menetapkan kegiatanmu dimasa datang, karena tidak seorang pun yang dapat menjamin kehidupannya hingga esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALASAN X : Saya takut, bila saya memakai jilbab, saya akan di-cap dan digolongkan dalam kelompok tertentu! Saya benci pengelompokan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, hanya ada dua kelompok dalam Islam. Dan keduanya disebutkan dalam Kitabullah. Kelompok pertama adalah kelompok / tentara Allah (Hizbullah) yang diberikan pada mereka kemenangan, karena kepatuhan mereka. Dan kelompok kedua adalah kelompok syetan yang terkutuk (hizbush-shaitan) yang selalu melanggar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila kau, saudariku, memegang teguh perintah Allah, dan ternyata disekelilingmu adalah saudara-saudaramu yang memakai jilbab, kau tetap akan dimasukkan dalam kelompok Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun apabila kau memperindah nafsu dan egomu, kau akan mengendarai kendaraan Syetan, seburuk-buruknya teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan biarkan tubuhmu dipertontonkan di pasar para syetan dan merayu hati para pria. Model rambut, pakaian ketat yang mempertontonkan setiap detail tubuhmu, pakaian-pakaian pendek yang menunjukkan keindahan kakimu, dan semua yang dapat membangkitkan amarah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyenangkan syetan. Setiap waktumu yang kau habiskan dalam kondisi ini, akan terus semakin menjauhkanmu dari Allah dan semakin membawamu lebih dekat pada syetan. Setiap waktu kutukan dan kemarahan menuju kepadamu dari surga hingga kau bertaubat. Setiap hari membawamu semakin dekat kepada kematian. “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain dari kesenangan yang memperdayakan” (QS Ali ‘Imran 3:185). Naikilah kereta untuk mengejar ketinggalan, saudariku, sebelum kereta itu melewati stasiunmu. Renungkan secara mendalam, saudariku, apa yang terjadi hari ini sebelum esok datang. Pikirkan tentang hal ini, saudariku, sekarang, sebelum semuanya terlambat !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://kebunhidayah.wordpress.com/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-2742800985880739920?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/2742800985880739920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/10-alasan-untuk-tidak-memakai-jilbab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/2742800985880739920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/2742800985880739920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/10-alasan-untuk-tidak-memakai-jilbab.html' title='10 alasan untuk tidak memakai jilbab'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/St1l8CORAAI/AAAAAAAAAUs/DLif9FfNSA0/s72-c/jilbab.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-4408393237396892997</id><published>2009-10-19T16:16:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T16:32:32.372-07:00</updated><title type='text'>sakarotul maut.. siapkah kita ?!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/Stz2-ebVF1I/AAAAAAAAAUk/6J-MOYOQwVc/s1600-h/taubat-tiga-dara_1676_l.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 120px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/Stz2-ebVF1I/AAAAAAAAAUk/6J-MOYOQwVc/s200/taubat-tiga-dara_1676_l.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394458006863026002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku! Anda masih ingat detik-detik ketika kakek, atau nenek, atau mungkin ayah, ibunda, atau mungkin juga istri atau suami tercinta meregang nyawanya? Pernahkah anda bertanya dan berpikir apakah yang mereka rasakan ketika ruh mereka meninggalkan raganya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar anda dapat menerka apa yang mereka rasakan kala itu, coba anda kembali mengingat raut wajah mereka ketika detik-detik terakhir sebelum meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah saudara! Apa yang dialami oleh ayahanda atau kerabat anda saat itu? Tahukah saudara, dengan siapa ia berhadapan? Berikut inilah kejadian yang dialami oleh ayahanda atau ibunda atau kerabat anda kala itu (Kisah ini dituturkan oleh Rasulullah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan Ibnu Majah):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِى انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلاَئِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِىءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِى إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ - قَالَ - فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِى السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِى يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِى ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِى ذَلِكَ الْحَنُوطِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ - قَالَ - فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلاَ يَمُرُّونَ - يَعْنِى بِهَا - عَلَى مَلأٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ إِلاَّ قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ فَيَقُولُونَ فُلاَنُ بْنُ فُلاَنٍ بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِى كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِى الدُّنْيَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut 'alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: "Wahai jiwa yang baik,bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah". Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membukusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: "Ruh siapakah ini, begitu harum." Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku! Walau demikian mudah arwah orang mukmin keluar dari raganya, akan tetapi bukan berarti bebas dari rasa sakit! Sekali-kali tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah keraguan pada diri anda bahwa Nabi Muhammad dalah orang mukmin yang paling sempurna keimanannya? Akan tetapi kemulian dan kesempurnaan iman beliau tidak dapat melindungi beliau dari rasa pedihnya sakaratul maut. Olehkarena itu, tatkala beliau menghadapi sakaratul maut, beliau begitu gundah. Beliau berusaha menenangkan dirinya dengan mengusap wajahnya dengan tangannya yang telah dicelupkan ke dalam bejana berisi air. Beliau mengusap wajahnya berkali-kali, sambil bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ) رواه البخاري&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiada Tuhan Yang berhak diibadahi selain Allah. Sesungguhnya kematian itu disertai oleh rasa pedih." Riwayat Imam Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari sahabat Umar bin Al Khatthab bertanya kepada Ka'ab Al Ahbaar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا كعب حدثنا عن الموت، قال: يا أمير المؤمنين غصن كثير الشوك يدخل في جوف الرجل فتأخذ كل شوكة بعرق&lt;br /&gt;يجذبه رجل شديد الجذب، فأخذ ما أخذ، وأبقى ما أبقى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai Ka'ab: Ceritakan kepada kita tentang kematian!. Ka'abpun berkata: Wahai Amirul Mukminin! Gambaran sakitnya kematian adalah bagaikan sebatang dahan yang banyak berduri tajam, tersangkut di kerongkongan anda, sehingga setiap duri menancap di setiap syarafnya. Selanjutnya dahan itu sekonyong-konyong ditarik dengan sekuat tenaga oleh seorang yang gagah perkasa. Bayangkanlah, apa yang akan turut tercabut bersama dahan itu dan apa yang akan tersisa!" Riwayat Abu Nu'aim Al Asfahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شداد بن أوس الموت افظع هول في الدنيا والآخرة على المؤمن وهو أشد من نشر بالمناشير وقرض بالمقاريض وغلي في القدور. ولو أن الميت نشر فأخبر أهل الدنيا بالموت ما انتفعوا بعيش ولا لذوا بنوم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaddaad bin Al Aus berkata: "Kematian adalah pengalaman yang paling menakutkan bagi seorang mukmin, baik di dunia ataupun di akhirat. Kematian itu lebih menyakitkan dibanding anda digergaji, atau dipotong dengan gunting, atau direbus dalam periuk. Andai ada seseorang yang telah mati diizinkan untuk menceritakan tentang apa yang ia rasakan pada saat menghadapi kematian, niscaya mereka tidak akan pernah bisa menikmati kehidupan dan juga tidak akan pernah tidur nyenyak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila demikian dahsyatnya rasa sakti yang menimpa seorang mukmin ketika menghadapi sakaratul maut, maka bagaimana dengan diri anda? Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang menodai lembaran amal anda? Anda ingin tahu bagaimana rasanya sakarutul maut bila anda tidak segera bertaubat dari kemaksiatan dan beristiqamah dalam ketaatan? Simaklah kelanjutan hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah di atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ وفي رواية وَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ السُّوءُ إِذَا كَانَ فِى انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلاَئِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ مَعَهُمُ الْمُسُوحُ فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِىءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِى إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَغَضَبٍ - قَالَ - فَتُفَرَّقُ فِى جَسَدِهِ فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِى يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِى تِلْكَ الْمُسُوحِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلاَ يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلأٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ إِلاَّ قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ فَيَقُولُونَ فُلاَنُ بْنُ فُلاَنٍ بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِى كَانَ يُسَمَّى بِهَا فِى الدُّنْيَا رواه أحمد وابن ماجة وصححه الألباني&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila orang kafir, pada riwayat lain: Bila orang jahat hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Mereka berwajahkan hitam kelam,membawa kain yang kasar, dan selanjutnya mereka duduk darinya sejauh mata memandang. Pada saat itulah Malaikat Maut 'alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: "Wahai jiwa yang buruk, bergegas engkau keluarlah dari ragamu menuju kepada kebencian dan kemurkaan Allah". Segera ruh orang jahat itu menyebar keseluruh raganya. Tanpa menunda-nunda malaikat maut segera mencabut ruhnya dengan keraas, bagaikan mencabut kawat bergerigi dari bulu domba yang basah. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat Maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para malaikat segera mengambil ruh orang jahat itu dan membukusnya dengan kain kasar yang mereka bawa. Dari kain itu tercium aroma busuk bagaikan bau bangkai paling menyengat yang pernah tercium di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruh itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: "Ruh siapakah ini, begitu buruk." Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terburuk yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku! Coba anda ingat kembali, rasa pedih dan sakit yang pernah anda rasakan ketika tertusuk atau tersengat api! Sangat menyakitkan bukan? Padahal syaraf yang merasakan rasa sakit hanyalah sebagiannya. Walau demikian, rasanya begitu menyakitkan, sehingga susah untuk dilupakan?&lt;br /&gt;Nah bagaimana halnya bila kelak pada saat sakaratul maut seluruh syaraf anda merasakan sakit. Disaat ruh anda berusaha berpegangan erat-erat dengan setiap syaraf anda sedangkan Malaikat Maut mencabutnya dengan keras dan kuat. Betul-betul menyakitkan.&lt;br /&gt;Penampilan Rasa Malaikat Maut yang begitu seram dan menakutkan akan semakin menambah pedih rasa sakit yang anda rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku! Siapkah anda menjalani pengalaman yang begitu menakutkan dan begitu menyakitkan?&lt;br /&gt;Bila saudara tidak kuasa menjalani sakaratul maut yang sangat menyakitkan seperti ini, maka mengapa noda-noda maksiat terus mengotori lembaran amal dan menghitamkan hati anda? Mengapa kaki anda terasa kaku, tangan serasa terbelenggu, mata seakan melekat dan pintu hati seakan terkunci ketika ada seruan beribadah kepada Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku! Agar hati anda kembali menjadi lunak dan pintu hati anda terbuka lebar-lebar untuk menerima dan mengamalkan kebenaran, maka alangkah baiknya bila anda sering-sering berziarah ke kuburan. Dengan berziarah ke kuburan, diharapkan anda akan senantiasa menyadari, cepat atau lambat anda pasti menjadi salah seorang dari penghuni kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ) رواه مسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berziarahlah ke kuburan, karena ziarah ke kuburan itu dapat mengingatkan kalian akan kematian." Riwayat Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku! Ada satu pertanyaan yang tidak mungkin anda temukan jawabannya sebelum anda mengalaminya sendiri: Termasuk golongan manakah diri anda, apakah termasuk golongan orang-orang mukmin yang dimudahkan ketika menghadapi sakaratul maut ataukah termasuk golongan yang kedua?&lt;br /&gt;Karenanya, marilah kita berjuang, dan berdoa memohon kepada Allah agar diri kita –dengan rahmat dan kemurahan Allah- dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan keteguhan dan kemudahan ketika menghadapi Malaikat Maut dimudahkan. Amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ust. Muhammad Arifin Badri, MA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-4408393237396892997?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/4408393237396892997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/sakarotul-maut-siapkah-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/4408393237396892997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/4408393237396892997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/sakarotul-maut-siapkah-kita.html' title='sakarotul maut.. siapkah kita ?!'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/Stz2-ebVF1I/AAAAAAAAAUk/6J-MOYOQwVc/s72-c/taubat-tiga-dara_1676_l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-3435211355800925568</id><published>2009-10-19T05:57:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T06:10:58.327-07:00</updated><title type='text'>Sekelumit Tentang Keutamaan Ilmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/StxlIUno2LI/AAAAAAAAAUc/1aL0tVw_VWA/s1600-h/19.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/StxlIUno2LI/AAAAAAAAAUc/1aL0tVw_VWA/s200/19.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394297647331334322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertama :&lt;br /&gt;Ilmu Meningkatkan derajat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Mujadilah [58] : 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh menjelaskan, “Ada yang mengatakan tentang tafsirannya adalah : Allah akan mengangkat kedudukan orang beriman yang berilmu dibandingkan orang beriman yang tidak berilmu. Dan pengangkatan derajat ini menunjukkan adanya sebuah keutamaan…” (Fathul Bari, 1/172). Beliau juga meriwayatkan sebuah ucapan Zaid bin Aslam mengenai ayat yang artinya, “Kami akan mengangkat derajat orang yang Kami kehendaki.” (QS. Yusuf [12] : 76). Zaid mengatakan, “Yaitu dengan sebab ilmu.” (Fathul Bari, 1/172).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir menyebutkan di dalam tafsirnya sebuah riwayat dari Abu Thufail Amir bin Watsilah yang menceritakan bahwa Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan Umar bin Khattab di ‘Isfan (nama sebuah tempat, pen). Ketika itu Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Umar pun berkata kepadanya, “Siapakah orang yang kamu serahi urusan untuk memimpin penduduk lembah itu?”. Dia mengatakan, “Orang yang saya angkat sebagai pemimpin mereka adalah Ibnu Abza; salah seorang bekas budak kami.” Maka Umar mengatakan, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”. Dia pun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia adalah orang yang pandai memahami Kitabullah, mendalami ilmu waris, dan juga seorang hakim.” Umar radhiyallahu’anhu menimpali ucapannya, “Adapun Nabi kalian, sesungguhnya dia memang pernah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sekelompok orang dengan sebab Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian lainnya karena kitab ini pula.’ (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua :&lt;br /&gt;Nabi diperintahkan untuk berdoa untuk mendapatkan tambahan ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Kitabul Ilmi Bukhari membawakan sebuah ayat yang artinya, “Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha [20] : 114). Kemudian Al Hafizh menjelaskan, “Ucapan beliau : Firman-Nya ‘azza wa jalla, ‘Wahai Rabbku tambahkanlah kepadaku ilmu’. Memiliki penunjukan yang sangat jelas terhadap keutamaan ilmu. Sebab Allah ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan untuk apapun kecuali tambahan ilmu. Sedangkan yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i; yang dengan ilmu itu akan diketahui kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf untuk menjalankan ajaran agamanya dalam hal ibadah ataupun muamalahnya, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, dan hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, menyucikan-Nya dari segenap sifat tercela dan kekurangan. Dan poros semua ilmu tersebut ada pada ilmu tafsir, hadits dan fiqih…” (Fathul Bari, 1/172).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga :&lt;br /&gt;Perintah bertanya kepada ahli ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci memerintahkan untuk bertanya kepada mereka (ahli ilmu) dan merujuk kepada pendapat-pendapat mereka. Allah juga menjadikannya sebagaimana layaknya persaksian dari mereka. Allah berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu kecuali para lelaki yang Kami wahyukan kepada mereka : bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kalian tidak mempunyai ilmu.’ (QS. An Nahl [16] : 43). Sehingga makna ahli dzikir adalah ahli ilmu yang memahami wahyu yang diturunkan Allah kepada para nabi.” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat :&lt;br /&gt;Kebenaran akan tampak bagi ahli ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, “Allah Yang Maha Suci memberitakan mengenai keadaan orang-orang yang berilmu; bahwa merekalah orang-orang yang bisa memandang bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi dari Rabbnya adalah sebuah kebenaran. Allah menjadikan hal ini sebagai pujian atas mereka dan permintaan persaksian untuk mereka. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang diberikan ilmu bisa melihat bahwa wahyu yang diturunkan dari Rabbmu itulah yang benar.” (QS. Saba’ [34] : 6).” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima :&lt;br /&gt;Segala sifat terpuji bersumber dari ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya seluruh sifat yang menyebabkan hamba dipuji oleh Allah di dalam Al Qur’an maka itu semua merupakan buah dan hasil dari ilmu. Dan seluruh celaan yang disebutkan oleh-Nya maka itu semua bersumber dari kebodohan dan akibat darinya…” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 128). Beliau juga menegaskan, “Dan tidaklah diragukan bahwasanya kebodohan adalah pokok seluruh kerusakan. Dan semua bahaya yang menimpa manusia di dunia dan di akhirat maka itu adalah akibat dari kebodohan…” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 101).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, “Adapun kebahagiaan ilmu, maka hal itu tidak dapat kamu rasakan kecuali dengan cara mengerahkan segenap kemampuan, keseriusan dalam belajar, dan niat yang benar. Sungguh indah ucapan seorang penyair yang mengungkapkan hal itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah kepada orang yang mendambakan&lt;br /&gt;Perkara-perkara yang tinggi lagi mulia&lt;br /&gt;Tanpa mengerahkan kesungguhan&lt;br /&gt;Berarti kamu berharap sesuatu yang mustahil ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair yang lain mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bukan karena faktor kesulitan&lt;br /&gt;Tentunya semua orang bisa menjadi pimpinan&lt;br /&gt;Sifat dermawan membawa resiko kemiskinan&lt;br /&gt;Sebagaimana sifat berani membawa resiko kematian&lt;br /&gt;(Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 111).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga mengatakan, “Berbagai kemuliaan berkaitan erat dengan hal-hal yang tidak disenangi (oleh hawa nafsu, pen). Sedangkan kebahagiaan tidak akan bisa dilalui kecuali dengan meniti jembatan kesulitan. Dan tidak akan terputus jauhnya jarak perjalanan kecuali dengan menaiki bahtera keseriusan dan kesungguh-sungguhan. Muslim mengatakan di dalam Sahihnya, ‘Yahya bin Abi Katsir berkata : Ilmu tidak akan diraih dengan tubuh yang banyak bersantai-santai.’ Dahulu ada yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang menginginkan hidup santai (di masa depan, pen) maka dia akan meninggalkan banyak bersantai-santai.’.” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 112).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sekelumit pelajaran dan motivasi bagi para penuntut ilmu. Semoga yang sedikit ini bisa menyalakan semangat mereka dalam berjuang membela agama-Nya dari serangan musuh-musuh-Nya. Sesungguhnya pada masa yang penuh dengan fitnah semacam ini kehadiran para penuntut ilmu yang sejati sangat dinanti-nanti. Para penuntut ilmu yang berhias diri dengan adab-adab islami, yang tidak tergoda oleh gemerlapnya dunia dengan segala kepalsuan dan kesenangannya yang fana. Para penuntut ilmu yang bisa merasakan nikmatnya berinteraksi dengan Al Qur’an sebagaimana seorang yang lapar menyantap makanan. Para penuntut ilmu yang senantiasa berusaha meraih keutamaan di waktu-waktunya. Para penuntut ilmu yang bersegera dalam kebaikan dan mengiringi amalnya dengan rasa harap dan cemas. Para penuntut ilmu yang mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaannya kepada segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun oleh Ari Wahyudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER http://mahadilmi.wordpress.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-3435211355800925568?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/3435211355800925568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/sekelumit-tentang-keutamaan-ilmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/3435211355800925568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/3435211355800925568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/sekelumit-tentang-keutamaan-ilmu.html' title='Sekelumit Tentang Keutamaan Ilmu'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/StxlIUno2LI/AAAAAAAAAUc/1aL0tVw_VWA/s72-c/19.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-5657203762518457436</id><published>2009-10-18T20:26:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T23:33:34.320-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>Jangan Kau Buat Allah Cemburu!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/StvfI6KuQqI/AAAAAAAAAUU/OKiypt1wRzg/s1600-h/ingat_ALLOH.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/StvfI6KuQqI/AAAAAAAAAUU/OKiypt1wRzg/s200/ingat_ALLOH.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394150322852479650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Sang pembawa lentera ilmu dan bimbingan. Demikian pula semoga dicurahkan kepada para sahabatnya yang berjihad dengan segenap harta dan diri mereka di jalan-Nya, begitu pula para pengikut mereka di sepanjang masa. Amma ba’du.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu’anhuma meriwayatkan, suatu saat dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/28] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin itu merasa cemburu, sedangkan Allah lebih besar rasa cemburunya -daripada dirinya-.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/29] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan Allah cemburu?&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah merasa cemburu. Dan seorang mukmin pun merasa cemburu. Adapun kecemburuan Allah itu akan bangkit tatkala seorang mukmin melakukan sesuatu yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/28] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satupun sosok yang lebih menyukai pujian kepada dirinya dibandingkan Allah. Oleh sebab itulah Allah pun memuji diri-Nya sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang lebih punya rasa cemburu dibandingkan Allah, dikarenakan itulah maka Allah pun mengharamkan perkara-perkara yang keji.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/27] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan Allah gembira?&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, Allah sangat-sangat bergembira terhadap taubat salah seorang di antara kalian jauh melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian di saat ia berhasil menemukan kembali ontanya yang telah menghilang.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/13] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, Allah jauh-jauh lebih bergembira terhadap taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya daripada salah seorang dari kalian yang suatu saat mengendarai hewan tunggangannya di suatu padang yang luas namun tiba-tiba hewan itu lepas darinya. Padahal di atasnya terdapat makanan dan minumannya. Dia pun berputus asa untuk bisa mendapatkannya kembali. Lalu dia mendatangi sebuah pohon kemudian berbaring di bawah naungannya dengan perasaan putus asa dari memperoleh tunggangannya tadi. Ketika dia sedang larut dalam perasaan semacam itu, tiba-tiba hewan tadi telah ada berdiri di sisinya. Lalu dia pun meraih tali pengikat hewan tadi, dan karena saking bergembiranya dia pun berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu.’ Dia salah berucap gara-gara saking gembiranya. “ (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/16] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah amat menyayangi kalian!&lt;br /&gt;Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa suatu ketika didatangkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serombongan tawanan perang. Ternyata ada seorang perempuan yang ikut dalam rombongan itu. Dia sedang mencari-cari sesuatu -yaitu anaknya, pent-. Setiap kali dia menjumpai bayi di antara rombongan tawanan itu maka dia pun langsung mengambil dan memeluknya ke perutnya dan menyusuinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepada kami, “Apakah menurut kalian perempuan ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”. Maka kamipun menjawab, “Tentu saja dia tidak akan mau melakukannya, demi Allah. Walaupun dia sanggup, pasti dia tidak mau melemparkan anaknya -ke dalamnya-.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Sungguh, Allah jauh lebih menyayangi hamba-hamba-Nya dibandingkan -kasih sayang- perempuan ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/21] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertaubatlah, sekarang juga!&lt;br /&gt;Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari segera bertaubat. Dan Allah bentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di waktu malam hari segera bertaubat. Sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/26] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku akan dimaafkan kecuali orang yang melakukan dosa secara terang-terangan. Termasuk perbuatan dosa yang terang-terangan yaitu apabila seorang hamba pada malam hari melakukan perbuatan (dosa) lalu menemui waktu pagi dalam keadaan dosanya telah ditutupi oleh Rabbnya, namun setelah itu dia justru mengatakan, ‘Wahai fulan, tadi malam saya melakukan ini dan itu’. Padahal sepanjang malam itu Rabbnya telah menutupi aibnya sehingga dia pun bisa melalui malamnya dengan dosa yang telah ditutupi oleh Rabbnya itu. Akan tetapi pagi harinya dia justru menyingkap tabir yang Allah berikan untuk menutupi aibnya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/225] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sepelekan maksiat&lt;br /&gt;Anas bin Malik radhiyallahu’anhu mengatakan, “Sesungguhnya kalian akan melakukan perbuatan-perbuatan yang dalam pandangan mata kalian hal itu lebih ringan daripada helaian rambut. Sementara kami dulu di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya termasuk perkara-perkara yang membinasakan.” (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari [11/372] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba bisa saja hanya mengucapkan suatu kalimat namun hal itu menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/234] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda kiamat sudah dekat&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah hari kiamat.” Ada yang berkata, “Bagaimanakah -contoh bentuk- penyia-nyiaannya wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari [11/377] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan hanya bicara, amalkan ilmu&lt;br /&gt;Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kelak pada hari kiamat didatangkan seorang lelaki lalu dilemparkan ke dalam neraka. Maka usus perutnya pun terburai lalu dia pun berputar-putar dengannya sebagaimana halnya seekor keledai yang mengelilingi alat penggiling. Maka para penduduk neraka pun berkeumpul mengerumuninya. Mereka mengatakan, ‘Wahai fulan, apa yang terjadi padamu. Bukankah dulu kamu memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar?’. Dia menjawab, ‘Benar. Aku dulu memang memerintahkan yang ma’ruf tapi aku sendiri tidak melaksanakannya. Dan aku juga melarang dari yang mungkar namun aku sendiri justru melakukannya.’.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/235] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar, Dunia hanya sebentar&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/214] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Surga diliputi oleh perkara-perkara yang terasa tidak menyenangkan, sedangkan neraka diliputi oleh perkara-perkara yang terasa menyenangkan hawa nafsu.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/101] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, tiada kehidupan yang sejati melainkan kehidupan akherat…” (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/260] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berusaha menjaga kehormatannya maka Allah pun akan mengaruniakan iffah/terjaganya kehormatan kepadanya. Barangsiapa yang melatih diri untuk bersabar maka Allah akan jadikan dia penyabar. Barangsiapa yang melatih diri untuk senantiasa merasa cukup maka niscaya Allah akan beri kecukupan untuk dirinya. Tidaklah kalian diberikan suatu karunia yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/343] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tertipu oleh dunia!&lt;br /&gt;Amr bin Auf radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kemiskinan yang kukhawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi sesungguhnya yang kukhawatirkan menimpa kalian adalah ketika dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian sehingga kalian pun berlomba-lomba untuk meraupnya sebagaimana dahulu mereka berlomba-lomba mendapatkannya. Dan dunia mencelakakan kalian sebagaimana dulu dunia telah mencelakakan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/216] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003 dan Fath al-Bari [11/274] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak awal tiba di Madinah tidak pernah sampai merasakan kenyang karena menyantap hidangan gandum halus selama tiga malam berturut-turut sampai beliau meninggal.” (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/327] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memakan dua jenis makanan dalam sehari kecuali salah satunya pasti kurma kering.” (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/329] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlaslah!&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama dengan diri-Ku maka akan Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/232] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, kaya jiwanya (merasa cukup), dan tersembunyi (tidak suka menonjol-nonjolkan diri, pent).” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/220] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan yang sejati itu kekayaan yang berupa melimpahnya perbendaharaan dunia. Akan tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan di dalam hati -merasa cukup dengan pemberian Allah, pent-.” (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/306] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan tiada tara menanti di sana…&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Aku telah persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang soleh kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah terdengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.’.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/102] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang masuk surga maka dia akan selalu senang dan tidak akan merasa susah. Pakaiannya tidak akan usang dan kepemudaannya tidak akan habis.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/110] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila para penduduk surga telah memasuki surga dan para penduduk neraka pun telah memasuki neraka maka didatangkanlah kematian hingga diletakkan di antara surga dan neraka, kemudian kematian itu disembelih. Lalu ada yang menyeru, ‘Wahai penduduk surga, kematian sudah tiada. Wahai penduduk neraka, kematian sudah tiada’. Maka penduduk surga pun semakin bertambah gembira sedangkan penduduk neraka semakin bertambah sedih karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/120-121] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, jangan kau seperti mereka!&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua kelompok manusia calon penghuni neraka yang belum pernah kulihat keduanya. Suatu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang dengannya mereka memukuli manusia. Dan kaum perempuan yang berpakaian tapi telanjang, yang menyimpang dan mengajak orang lain untuk ikut menyimpang. Kepala mereka seperti punuk onta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, dan tidak akan mencium baunya. Padahal baunya akan bisa tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/124] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiamat terlalu dahsyat untuk dibayangkan!&lt;br /&gt;Aisyah radhiyallahu’anha meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat umat manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan.” Maka Aisyah mengatakan, “Wahai Rasulullah, perempuan dan laki-laki dikumpulkan menjadi satu? Tentu saja mereka akan saling melihat satu dengan yang lain.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya urusan di waktu itu lebih dahsyat sehingga tidak sempat bagi mereka untuk saling memperhatikan satu dengan yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/126] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istiqomahlah!&lt;br /&gt;‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Amal yang paling disenangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang dikerjakan secara terus menerus oleh pelakunya.” (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/332] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aisyah radhiyallahu’anha meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berbuatlah sebaik dan selurus mungkin dan lakukan apa yang paling mendekati ideal. Ketahuilah sesungguhnya bukan amal kalian semata yang bisa memasukkan kalian ke surga. Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu walaupun hanya sedikit.” (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/335] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah yang bisa kami sajikan ke hadapan para pembaca yang mulia, dengan harapan Allah berkenan untuk mengaruniakan petunjuk dan bimbingan-Nya ke dalam hati kita sehingga akan semakin meningkatkan rasa cinta kita kepada-Nya, harap dan takut serta tawakal hanya kepada Rabb alam semesta. Teriring doa semoga Allah mengampuni semua dosa kita di masa lalu, dan semoga Allah -Yang Maha Pemberi petunjuk- menuntun kita agar tetap berjalan di atas shirathal mustaqim sampai ajal tiba. Akhirnya, segala puji bagi Allah yang dengan karunia-Nya segala kebaikan bisa menjadi terlaksana. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber http://abumushlih.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-5657203762518457436?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/5657203762518457436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/jangan-kau-buat-allah-cemburu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/5657203762518457436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/5657203762518457436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/10/jangan-kau-buat-allah-cemburu.html' title='Jangan Kau Buat Allah Cemburu!'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/StvfI6KuQqI/AAAAAAAAAUU/OKiypt1wRzg/s72-c/ingat_ALLOH.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-4425148413698670820</id><published>2009-09-26T19:05:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T23:34:21.333-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>CARA BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/Sr7KOVQs9yI/AAAAAAAAAUM/1mpg1k95DXI/s1600-h/kasih-dan-cinta-lillahi-taala.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 141px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/Sr7KOVQs9yI/AAAAAAAAAUM/1mpg1k95DXI/s200/kasih-dan-cinta-lillahi-taala.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385964551955871522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-Bentuk Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua Adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama.&lt;br /&gt;Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa memberikan kegembiraan kepada seorang mu’min termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua orang tua kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam nasihat perkawinan dikatakan agar suami senantiasa berbuat baik kepada istri, maka kepada kedua orang tua harus lebih dari kepada istri. Karena dia yang melahirkan, mengasuh, mendidik dan banyak jasa lainnya kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa ketika seseorang meminta izin untuk berjihad (dalam hal ini fardhu kifayah kecuali waktu diserang musuh maka fardhu ‘ain) dengan meninggalkan orang tuanya dalam keadaan menangis, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kembali dan buatlah keduanya tertawa seperti engkau telah membuat keduanya menangis” [Hadits Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i] Dalam riwayat lain dikatakan : “Berbaktilah kepada kedua orang tuamu” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua.&lt;br /&gt;Yaitu berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan berbicara dengan kedua orang tua dan berbicara dengan anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua, tidak boleh mengucapkan ‘ah’ apalagi mencemooh dan mencaci maki atau melaknat keduanya karena ini merupakan dosa besar dan bentuk kedurhakaan kepada orang tua. Jika hal ini sampai terjadi, wal iya ‘udzubillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak boleh berkata kasar kepada orang tua kita, meskipun keduanya berbuat jahat kepada kita. Atau ada hak kita yang ditahan oleh orang tua atau orang tua memukul kita atau keduanya belum memenuhi apa yang kita minta (misalnya biaya sekolah) walaupun mereka memiliki, kita tetap tidak boleh durhaka kepada keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga.&lt;br /&gt;Tawadlu (rendah diri). Tidak boleh kibir (sombong) apabila sudah meraih sukses atau mempunyai jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan. Kedua orang tualah yang menolong dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kita diperintahkan untuk melakukan pekerjaan yang kita anggap ringan dan merendahkan kita yang mungkin tidak sesuai dengan kesuksesan atau jabatan kita dan bukan sesuatu yang haram, wajib bagi kita untuk tetap taat kepada keduanya. Lakukan dengan senang hati karena hal tersebut tidak akan menurunkan derajat kita, karena yang menyuruh adalah orang tua kita sendiri. Hal itu merupakan kesempatan bagi kita untuk berbuat baik selagi keduanya masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat.&lt;br /&gt;Yaitu memberikan infak (shadaqah) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah milik orang tua. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat Al-Baqarah ayat 215.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah, “Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat sesungguhnya Allah maha mengetahui”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang sudah berkecukupan dalam hal harta hendaklah ia menafkahkannya yang pertama adalah kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua memiliki hak tersebut sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Baqarah di atas. Kemudian kaum kerabat, anak yatim dan orang-orang yang dalam perjalanan. Berbuat baik yang pertama adalah kepada ibu kemudian bapak dan yang lain, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu kemudian ibumu sekali lagi ibumu kemudian bapakmu kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat” [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 3, Abu Dawud No. 5139 dan Tirmidzi 1897, Hakim 3/642 dan 4/150 dari Mu'awiyah bin Haidah, Ahmad 5/3,5 dan berkata Tirmidzi, "Hadits Hasan"]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang yang telah menikah tidak menafkahkan hartanya lagi kepada orang tuanya karena takut kepada istrinya, hal ini tidak dibenarkan. Yang mengatur harta adalah suami sebagaimana disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Harus dijelaskan kepada istri bahwa kewajiban yang utama bagi anak laki-laki adalah berbakti kepada ibunya (kedua orang tuanya) setelah Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kewajiban yang utama bagi wanita yang telah bersuami setelah kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kepada suaminya. Ketaatan kepada suami akan membawanya ke surga. Namun demikian suami hendaknya tetap memberi kesempatan atau ijin agar istrinya dapat berinfaq dan berbuat baik lainnya kepada kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima.&lt;br /&gt;Mendo’akan orang tua. Sebagaimana dalam ayat “Robbirhamhuma kamaa rabbayaani shagiiro” (Wahai Rabb-ku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil). Seandainya orang tua belum mengikuti dakwah yang haq dan masih berbuat syirik serta bid’ah, kita harus tetap berlaku lemah lembut kepada keduanya. Dakwahkan kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut sambil berdo’a di malam hari, ketika sedang shaum, di hari Jum’at dan di tempat-tempat dikabulkannya do’a agar ditunjuki dan dikembalikan ke jalan yang haq oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kedua orang tua telah meninggal maka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama : Kita lakukan adalah meminta ampun kepada Allah Ta’ala dengan taubat yang nasuh (benar) bila kita pernah berbuat durhaka kepada kedua orang tua sewaktu mereka masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua : Adalah mendo’akan kedua orang tua kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits dla’if (lemah) yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ada suatu kebaikan yang harus aku perbuat kepada kedua orang tuaku sesudah wafat keduanya ?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, kamu shalat atas keduanya, kamu istighfar kepada keduanya, kamu memenuhi janji keduanya, kamu silaturahmi kepada orang yang pernah dia pernah silaturahmi kepadanya dan memuliakan teman-temannya” [Hadits ini dilemahkan oleh beberapa imam ahli hadits karena di dalam sanadnya ada seorang rawi yang lemah dan Syaikh Albani Rahimahullah melemahkan hadits ini dalam kitabnya Misykatul Mashabiih dan juga dalam Tahqiq Riyadush Shalihin (Bahajtun Nazhirin Syarah Riyadush Shalihin Juz I hal.413 hadits No. 343)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut hadits-hadits yang shahih tentang amal-amal yang diperbuat untuk kedua orang tua yang sudah wafat, adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Mendo’akannya&lt;br /&gt;[2] Menshalatkan ketika orang tua meninggal&lt;br /&gt;[3] Selalu memintakan ampun untuk keduanya.&lt;br /&gt;[4] Membayarkan hutang-hutangnya&lt;br /&gt;[5] Melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari’at.&lt;br /&gt;[6] Menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diringkas dari beberapa hadits yang shahih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturrahmi kepada teman-teman bapaknya sesudah bapaknya meninggal” [Hadits Riwayat Muslim No. 12, 13, 2552]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain, Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma menemui seorang badui di perjalanan menuju Mekah, mereka orang-orang yang sederhana. Kemudian Abdullah bin Umar mengucapkan salam kepada orang tersebut dan menaikkannya ke atas keledai, kemudian sorbannya diberikan kepada orang badui tersebut, kemudian Abdullah bin Umar berkata, “Semoga Allah membereskan urusanmu”. Kemudian Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhumua berkata, “Sesungguhnya bapaknya orang ini adalah sahabat karib dengan Umar sedangkan aku mendengar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturrahmi kepada teman-teman ayahnya” [Hadits Riwayat Muslim 2552 (13)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dibenarkan mengqadha shalat atau puasa kecuali puasa nadzar [Tamamul Minnah Takhrij Fiqih Sunnah hal. 427-428, cet. III Darul Rayah 1409H, lihat Ahkamul Janaiz oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal 213-216, cet. Darul Ma'arif 1424H]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber http://www.almanhaj.or.id/&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-4425148413698670820?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/4425148413698670820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/09/cara-berbakti-kepada-kedua-orang-tua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/4425148413698670820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/4425148413698670820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/09/cara-berbakti-kepada-kedua-orang-tua.html' title='CARA BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/Sr7KOVQs9yI/AAAAAAAAAUM/1mpg1k95DXI/s72-c/kasih-dan-cinta-lillahi-taala.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-2051845731238214458</id><published>2009-09-22T17:39:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T23:34:52.072-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>PACARAN DALAM KACAMATA ISLAM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/Srlv1E197UI/AAAAAAAAAUE/YdpYAyM3QdU/s1600-h/pacar2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 180px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/Srlv1E197UI/AAAAAAAAAUE/YdpYAyM3QdU/s200/pacar2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5384457787121986882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah fitnah besar menimpa pemuda pemudi pada zaman sekarang. Mereka terbiasa melakukan perbuatan yang dianggap wajar padahal termasuk maksiat di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala. Perbuatan tersebut adalah “pacaran”, yaitu hubungan pranikah antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Biasanya hal ini dilakukan oleh sesama teman sekelas atau sesama rekan kerja atau yang lainnya. Sangat disayangkan, perbuatan keji ini telah menjamur di masyarakat kita. Apalagi sebagian besar stasiun televisi banyak menayangkan sinetron tentang pacaran di sekolah maupun di kantor. Tentu hal ini sangat merusak moral kaum muslimin. Namun, anehnya, orang tua merasa bangga kalau anak perempuannya memiliki seorang pacar yang sering mengajak kencan. Ada juga yang melakukan pacaran beralasan untuk ta’aruf (berkenalan). Padahal perbuatan ini merupakan dosa dan amat buruk akibatnya. Oleh sebab itu, mengingat perbuatan haram ini sudah begitu memasyarakat, kami memandang perlu untuk membahasnya pada kesempatan ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacaran dari Sudut Pandang Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacaran tidak lepas dari tindakan menerjang larangan larangan Alloh subhanahu wa ta’ala. Fitnah ini bermula dari pandang memandang dengan lawan jenis kemudian timbul rasa cinta di hati—sebab itu, ada istilah “dari mata turun ke hati”— kemudian berusaha ingin memilikinya, entah itu dengan cara kirim SMS atau surat cinta, telepon, atau yang lainnya. Setelah itu, terjadilah saling bertemu dan bertatap muka, menyepi, dan saling bersentuhan sambil mengungkapkan rasa cinta dan sayang. Semua perbuatan tersebut dilarang dalam Islam karena merupakan jembatan dan sarana menuju perbuatan yang lebih keji, yaitu zina. Bahkan, boleh dikatakan, perbuatan itu seluruhnya tidak lepas dari zina. Perhatikanlah sabda Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperolehnya hal itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina, zinanya dengan memandang. Kedua telinga itu berzina, zinanya dengan mendengarkan. Lisan itu berzina, zinanya dengan berbicara. Tangan itu berzina, zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina, zinanya dengan melangkah. Sementara itu, hati berkeinginan dan beranganangan sedangkan kemaluan yang membenarkan itu semua atau mendustakannya.” (H.R. Muslim: 2657, alBukhori: 6243)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam an Nawawi rahimahullah berkata: “Makna hadits di atas, pada anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan farji (kemaluan)nya ke dalam farji yang haram. Ada yang zinanya secara majazi (kiasan) dengan memandang wanita yang haram, mendengar perbuatan zina dan perkara yang mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan mahromnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau melihat zina, atau menyentuh wanita yang bukan mahromnya, atau melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita yang bukan mahromnya dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya. Semuanya ini termasuk zina secara majazi.” (Syarah Shohih Muslim: 16/156157)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah di antara mereka tatkala berpacaran dapat menjaga pandangan mata mereka dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah (bukan mahrom) atau lak-ilaki ajnabi (bukan mahrom) termasuk perbuatan yang diharamkan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ta’aruf Dengan Pacaran, Bolehkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang awam beranggapan bahwa pacaran adalah wasilah (sarana) untuk berta’aruf (berkenalan). Kata mereka, dengan berpacaran akan diketahui jati diri kedua ‘calon mempelai’ supaya nanti jika sudah menikah tidak kaget lagi dengan sikap keduanya dan bisa saling memahami karakter masing-masing. Demi Alloh, tidaklah anggapan ini dilontarkan melainkan oleh orang-orang yang terbawa arus budaya Barat dan hatinya sudah terjangkiti bisikan setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah mereka menyadari bahwa yang namanya pacaran tentu tidak terlepas dari kholwat (berdua-duaan dengan lawan jenis) dan ikhtilath (lakilaki dan perempuan bercampur baur tanpa ada hijab/tabir penghalang)?! Padahal semua itu telah dilarang dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah tentang larangan tersebut sebagaimana tertuang dalam sabda Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekalikali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahromnya.” (H.R. alBukhori: 1862, Muslim: 1338)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa larangan bercampur baur dengan wanita yang bukan mahrom adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Fathul Bari: 4/100)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kendati telah resmi melamar seorang wanita, seorang lakilaki tetap harus menjaga jangan sampai terjadi fitnah. Dengan diterima pinangannya itu tidak berarti ia bisa bebas berbicara dan bercanda dengan wanita yang akan diperistrinya, bebas surat menyurat, bebas bertelepon, bebas berSMS, bebas chatting, atau bercakap-cakap apa saja. Wanita tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah Pacaran Islami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi pemudapemudi aktivis organisasi Islam—yang katanya punya semangat terhadap Islam—disebabkan dangkalnya ilmu syar’i yang mereka miliki dan terpengaruh dengan budaya Barat yang sudah berkembang, mereka memunculkan istilah “pacaran islami” dalam pergaulan mereka. Mereka hendak tampil beda dengan pacaranpacaran orang awam. Tidak ada saling sentuhan, tidak ada pegangpegangan. Masingmasing menjaga diri. Kalaupun saling berbincang dan bertemu, yang menjadi pembicaraan hanyalah tentang Islam, tentang dakwah, saling mengingatkan untuk beramal, dan berdzikir kepada Alloh q serta mengingatkan tentang akhirat, surga, dan neraka. Begitulah katanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, pacaran yang diembelembeli Islam ala mereka tak ubahnya omong kosong belaka. Itu hanyalah makar iblis untuk menjerumuskan orang ke dalam neraka. Adakah mereka dapat menjaga pandangan mata dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah atau lakilaki ajnabi termasuk perbuatan yang diharamkan?! Camkanlah firman Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada lakilaki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada wanitawanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka” …. (Q.S. anNur [24]: 3031)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tahukah mereka bahwa wanita merupakan fitnah yang terbesar bagi laki-laki? Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (H.R. al-Bukhori: 5096)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segeralah Menikah Bila Sudah Mampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemuda yang sudah berkemampuan lahir dan batin diperintahkan agar segera menikah. Inilah solusi terbaik yang diberikan Islam karena dengan menikah seseorang akan terjaga jiwa dan agamanya. Akan tetapi, jika memang belum mampu maka hendaklah berpuasa, bukan berpacaran. Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu menikah maka segeralah menikah karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa menjadi benteng (dari gejolak birahi).” (H.R. al-Bukhori: 5066)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Yang dimaksud mampu menikah adalah mampu berkumpul dengan istri dan memiliki bekal untuk menikah.” (Fathul Bari: 9/136)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menikah segala kebaikan akan datang. Itulah pernyataan dari Alloh subhanahu wa ta’ala yang tertuang dalam Q.S. ar-Rum [30]: 21. Islam menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya tempat pelepasan hajat birahi manusia terhadap lawan jenisnya. Lebih dari itu, pernikahan sanggup memberikan jaminan dari ancaman kehancuran moral dan sosial. Itulah sebabnya Islam selalu mendorong dan memberikan berbagai kemudahan bagi manusia untuk segera melaksanakan kewajiban suci itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah ikut-ikutan budaya Barat yang sedang marak ini. Sebagai orang tua, jangan biarkan putra-putrimu terjerembab dalam fitnah pacaran ini. Jangan biarkan mereka keluar rumah dalam keadaan membuka aurat, tidak memakai jilbab[1] atau malah memakai baju ketat yang membuat pria terfitnah dengan penampilannya. Perhatikanlah firman Alloh subhanahu wa ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. alAhzab [33]: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallohu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Muklis Abu Dzar hafizhahullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: buletin al-Furqon Tahun 3, Vol. 9 no. 3 Bulan Muharram 1430 H&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-2051845731238214458?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/2051845731238214458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/09/pacaran-dalam-kacamata-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/2051845731238214458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/2051845731238214458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/09/pacaran-dalam-kacamata-islam.html' title='PACARAN DALAM KACAMATA ISLAM'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/Srlv1E197UI/AAAAAAAAAUE/YdpYAyM3QdU/s72-c/pacar2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-3515432953325743596</id><published>2009-09-21T02:31:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T23:35:17.424-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>HIDUPKAN SUNNAH YANG TERASINGKAN!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/SrdI_qMVlTI/AAAAAAAAAT8/ZaW4NGL6oPY/s1600-h/beda.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/SrdI_qMVlTI/AAAAAAAAAT8/ZaW4NGL6oPY/s200/beda.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5383852138039711026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup pada zaman yang akhir adalah sebuah tantangan bagi seorang muslim. Bagaimana tidak, kaum muslimin dituntut untuk selalu konsisten dengan ajaran agama yang asli. Namun, di sisi lain, mereka harus menghadapi kenyataan yang sangat tidak enak, yaitu zaman terasingnya sunnah persis seperti yang telah disabdakan Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam semenjak lima belas abad yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir di setiap tempat, kaum muslimin yang konsisten dengan ajaran agamanya merasa tertekan akibat keterasingan sunnah ini. Label, cap, atau julukan yang jelek seakan sudah biasa disematkan pada mereka oleh orang umum. Bagi mereka yang tidak tahan dengan tantangan ini mungkin akan putus di tengah jalan dan kembali kepada kesesatan. Oleh karena itu, kami mencoba mengetengahkan pembahasan ini di hadapan sidang pembaca sebagai motivator (pendorong) dalam berpegang teguh di atas sunnah yang kian terasing ini. Wallohul Muwaffiq.Kabar dari Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallamSeorang muslim hendaklah tenang dan tidak kaget menghadapi ujian ini karena pada hakikatnya ia hanya sedang menjalani sunnatulloh yang sedang berlaku. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas abad yang lalu Sahabat Abu Huroiroh radliyallahu’anhu menceritakan bahwa Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:“Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan kelak ia akan kembali asing,maka beruntunglah orangorang yang asing.” (H.R. Muslim: 145)Dalam riwayat yang lain Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengatakan: “Akan datang suatu zaman(yang pada saat itu) orang yang sabar di atas agamanya semisal orang memegangbara.” (H.R. Tirmidzi: 2260, dishohihkan oleh Syaikh alAlbani dalam SilsilatulAhadits ashShohihah: 957)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa “Orang Asing” yang Dimaksudkan?Setelah kita tahu bahwa di antara sifat orangorang yang beruntung adalah asing dan berjumlah sedikit, lantas apakah setiap ada orang yang asing atau tampil beda langsung kita masukkan ke dalam kategori hadits di atas? Tidak, namun orang yang dimaksud dalam hadits ini adalah seperti apa yang telah shohih diriwayatkan dari Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam :“Kaum sholih yang berjumlah sedikit, di tengahtengah komunitas (kumpulan) jelek yang mayoritas (banyak). Yang menentang mereka lebih banyak daripada orang yang patuh.”Merekalah para penggenggam bara. Merekalah orang-orang yang beruntung. (Lihat Kasyful Kurbah: 1/316 dan Basho‘ir Dzawi Syarof kar. Syaikh Salim bin Id alHilali: 125)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MacamMacam Keterasingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Keterasingan terbagi menjadi tiga macam: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Keterasingan Ahlussunnah di antara semua manusia.Inilah keterasingan yang dipuji oleh Alloh subhanahu wa ta’la dan RosulNya sebab Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam telah mengabarkan hal ini dalam hadits beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keterasingan yang tercela.Yaitu asingnya kebatilan di antara pengikut kebenaran, walaupun mereka mempunyai banyak pengikut namun mereka asing, tidak dikenal oleh penduduk langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Keterasingan yang masuk di dalamnya muslim dan kafir, tidak terpuji juga tak tercela.Semisal asingnya seseorang yang jauh dari kampungnya. Semua orang yang hidup di dunia ini adalah asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam sendiri pernah mengatakan di dalam hadits yang shohih: ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing (pengembara)’.” (Madarijus Salikin: 3/203209—dengan ringkas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itu, bergembiralah wahai saudaraku yang asing. Anda semua mungkin asing di dunia … namun ketahuilah, hakikatnya anda adalah orang yang terkenal di langit!Bukti KeterasinganDewasa ini, khususnya di negara kita, fenomena keterasingan sunnah sangat tampak di mana-mana. Ada banyak contoh yang bisa kita dapati. Akan tetapi, dalam lembar buletin yang terbatas ini kami cantumkan dua saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Masalah pakaianKaum wanita pada umumnya sudah tidak mengenal pakaian syar’i model apakah yang seharusnya mereka gunakan. Ada yang keterlaluan membuka bagian tubuh yang seharusnya tertutup kain. Tetapi anehnya, bila ada wanita yang menutup seluruh tubuh dan wajahnya maka ia akan menjadi sasaran gunjingan dan bahan obrolan. Pria juga tak mau kalah. Mereka kebablasan mengulurkan celana hingga menutupi mata kaki sehingga apabila ada yang meninggikan celananya di atas mata kaki saja langsung dicemooh sebagai orang yang kurang kain saja. Keadaan yang serba terbalik ini sudah kita ketahui bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Masalah jenggot bagi kaum lelakiBanyak orang yang mengatakan bahwa orang yang berjenggot identik dengan kejahatan, terorisme, atau seperti kambing. Tetapi tahukah kita bahwa memelihara jenggot itu sendiri adalah perintah dan sunnah Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam?Jangan Bersedih, Ternyata Kita Tidak Sendiri!Banyak orang yang konsisten di atas jalan sunnah merasa amat tertekan oleh keterasingan ini. Pada akhirnya, mereka yang tidak kuat lantas kembali lagi kepada keadaannya semula (jelek). Padahal kalau kita menengok sejarah, sungguh akan dijumpai orang yang senasib sepenanggungan dengan kita. Lihatlah diri Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam, bagaimana awalnya beliau mendapat wahyu untuk mendakwahkan agama Islam ini. Seperti apa reaksi kaumnya? Tidak lain, mereka langsung berpaling, mengucilkan dan meninggalkan beliau sendiri serta menghinanya dengan katakata yang sangat kasar. Tahukah Anda tentang penderitaan Khobbab bin al-Arot dan Bilal bin Robbah radliyallahu’anhuma, dua orang mantan budak yang harus rela mendapatkan berbagai siksaan dari majikannya yang masih musyrik demi mempertahankan agama yang mereka berdua yakini kebenarannya? Dan ingatlah kembali akhir kisah keluarga Yasir radliyallahu’anhum yang syahid bersama istri demi memperjuangkan agama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, sungguh demi Alloh, jika kita melihat perjalanan orang semisal mereka maka kita akan malu dan tahu bahwa masih ada orang yang lebih tertekan, lebih menderita dan tersiksa daripada apa yang telah kita alami!Bersabarlah, Ini Hanya SementaraSaudaraku yang asing, bersabarlah atas keterasingan ini. Genggam erat terus bara sunnah ini hingga dirimu tidak merasakan panasnya lagi. Mengapa demikian? Ingatlah, kita hidup di dunia ini hanya sementara tidak selamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, mari perhatikan bersamaku janji Alloh azza wa jalla bagi mereka yang memegang bara sunnah ini dengan sangat erat dan mengacuhkan pandangan miring manusia terhadapnya.Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menggadaikan keridhoan manusia demi keridhoan Alloh, Alloh azza wa jalla akan meridhoinya dan membuat manusia ridho kepadanya. Namun, barang siapa yang menggadaikan keridhoan Alloh dengan keridhoan manusia maka Alloh azza wa jalla akan murka kepadanya dan membuat manusia murka atasnya.” (H.R. Ibnu Hibban: 276, dishohihkan oleh alAlbani dalam Syarah Aqidah Thohawiyyah: 268).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyair pernah bersenandung:"Kesabaran memang pahit, seperti namanya,Namun hasil akhirnya lebih manis dari madu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wasiat dari Mereka yang Telah Pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam al Fudhoil bin ’Iyadh rahimahullah -salah seorang tabi’in—berkata:“Tempuhlah jalan petunjuk dan jangan terpengaruh dengan sedikitnya pengikut! Jauhi jalan kehinaan dan janganlah tertipu dengan banyaknya orang yang celaka (di dalamnya)!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setelah kita mengetahui rasa keterasingan yang kita hadapi, yang harus dilakukan adalah saling menyayangi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh benar apa yang dikatakan oleh al Imam al Hasan al Bashri rahimahullah:“Wahai Ahlussunnah, berlemahlembutlah antara kalian. Sungguh saya melihat kalian ini adalah orang yang sangat sedikit.”Rasa keterasingan ini jangan malah ditambah dengan sikap yang kurang atau bahkan tidak akrab terhadap saudara-saudara kita. Ingat, mereka butuh teman.Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menasihatkan: “Wajib atas seluruh kaum muslimin dan muslimat di setiap tempat untuk selalu berpegang teguh dengan agama Alloh subhanahu wa ta’ala, bersabar di atasnya, serta tetap berusaha menggigitnya dengan gigi geraham. Apalagi di zaman ini, zaman keterasingan Islam dan banyaknya musuh.”Saudaraku, sebelum mengakhiri tulisan ini saya akan menyampaikan kabar gembira untuk Anda semua yang berpegang teguh dengan sunnah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang itu (kelak di akhirat) bersama orang yang ia cintai.” Maka pilihlah kepada siapa hati Anda akan condong dan cinta! Wallohu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh. Abu Usamah alKadiriy hafizhahullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: buletin al-Furqon Tahun 3, Vol. 9 no. 4 Bulan Muharram 1430 H&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715036330420308138-3515432953325743596?l=deddytrianto78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/feeds/3515432953325743596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/09/hidupkan-sunnah-yang-terasingkan_21.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/3515432953325743596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715036330420308138/posts/default/3515432953325743596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deddytrianto78.blogspot.com/2009/09/hidupkan-sunnah-yang-terasingkan_21.html' title='HIDUPKAN SUNNAH YANG TERASINGKAN!'/><author><name>DEDDY TRIANTO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/S1fv_-Uo6rI/AAAAAAAAAVg/WHIAHnbCVXM/S220/i+love+the+sunnah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/SrdI_qMVlTI/AAAAAAAAAT8/ZaW4NGL6oPY/s72-c/beda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715036330420308138.post-8355451135498186688</id><published>2009-09-08T21:24:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T23:35:39.626-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASEHAT'/><title type='text'>MENCINTAI ANAK KECIL</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/SqctotAA1MI/AAAAAAAAASM/cJwOjBAlhn8/s1600-h/2922_1062129598605_1386906344_177055_3556869_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_p3S_xDvpymc/SqctotAA1MI/AAAAAAAAASM/cJwOjBAlhn8/s320/2922_1062129598605_1386906344_177055_3556869_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Telah dicontohkan begitu indah, bagaimana Rassulullah mencintai Allah, mencintai sesama manusia, bahkan musuh sekalipun..Subhanallah, begitu lembut dan penuh kasih sayang, hatinya seluas samudera yang hanya bisa diisi dengan cinta, toleransi, maaf, dan kasih sayang..tak ada setitikpun ruang di hatinya yang dimuatkan oleh kebencian dan kedengkian..sungguh akhlaq yang sangat mulia..suri tauladan kita semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan dalam suatu peperangan yang terjadi antara kaum muslimin dengan kaum kafir, ada beberapa anak kecil dari kaum kafir yang menjadi korban. Setelah Rasul mendengar berita itu, beliau sedih sekali..hal inipun mengundang pertanyaan para sahabatnya, “Apa yang membuatmu sedih, wahai Rasulullah? Mereka hanyalah anak-anak kecil dari golongan kaum kafir”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan tersebut Rasulullah marah dan berkata, “Mereka lebih baik dari kalian! Mereka masih berada dalam fitrahnya. Janganlah kalian sekali-kali membunuh anak kecil! Jangan sampai sekalipun membunuh anak kecil” (al-Hadist).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, sungguh malang nasib anak-anak dari kaum kafir. Mereka dipaksa untuk bergabung dalam barisan tentara. Mereka diberi pedang dan tameng, busur dan panah, dan alat persenjataan lainnya. Mereka dipaksa membunuh, menyerang, melukai, dan menebas..dipaksa keluar ke medan perang dengan segala keluguan yang dimilikinya..Kaum kafir seakan tak peduli apakah yang dihadapinya anak kecil atau orang lemah, wanita atau orang yang tua renta. Mereka tidak peduli, siapa yang ikut dan tidak ikut perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kaum kafir sudah berlumuran darah kaum muslimin. Namun demikian, Rasulullah dengan hatinya yang sangat pemurah meminta sahabat-sahabatnya untuk tidak membunuh anak kecil dari kaum kafir, walau mereka berniat membunuh kaum muslimin, meski hal itu dilakukan untuk membela diri atau membela agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah mencintai semua orang. Namun cintanya kepada anak-anak melebihi apa yang bisa dibayangkan. Wajahnya selalu penuh dengan kegembiraan di saat beliau melihat sosok anak-anak. Sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu memeluk anak-anak dan bercanda dengan mereka. Beliau selalu ikut serta dengan kegembiraan anak-anak..subhanallah..sungguh cinta yang luar biasa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan dari Jabir bin Samurah, bahwa di tengah perjalanannya Rasulullah melihat sebagian anak-anak sedang berlomba lari. Beliau menghentikan langkahnya untuk bisa berbincang dengan mereka dan ikut serta dalam permainan mereka. Beliau pun ikut berlari dan berlomba bersama mereka. Di lain waktu, di saat beliau sedang menaiki untanya dan melihat seorang anak berjalan kaki, beliau akan menghentikan untanya dan turun untuk menemui anak tersebut dan memeluknya dengan penuh kasih kemudian mengajaknya naik unta. Sang anak pun perasa amat gembira..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba renungkan..apa yang dilakukan Rasulullah dengan cinta di hatinya.. Beliau adalah manusia terbaik dan termulia. Namun demikian, beliau mampu menanggalkan semua atribut itu dan turun dari pelana untuknya untuk membahagiakan anak kecil. Mereka yang memiliki hati yang bebas dan bersih, kekasih Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah tidak segan untuk ikut bermain bersama anak-anak atau mengajak mereka ikut serta menumpang di atas untanya. Beliau pun tidak segan untuk menanyakan kebutuhan mereka dan memenuhinya serta bercanda ria bersama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usamah bin Zaid, seorang budak yang dibebaskan Rassulullah dan diberi kasih sayang oleh beliau sekaligus diangkat sebgai anak angkat rasul mengatakan, “Di saat aku masih kecil, Raulullah mengangkatku ke salah satu pahanya dan mendudukkan Hasan di pahanya yang lain. Lalu beliau memeluk kami berdua seraya berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, sayangi keduanya! Sesungguhnya aku menyayangi keduanya” (al-hadist)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu senangnya Rasul kepada anak-anak. Beliau rela membiarkan cucunya menaiki pundaknya saat beliau sedang melakukan shalat, ketika beliau sedang dalam posisi ruku’ dan sujud. Beliaupun memperlama sujudnya saat sang cucu berada di pundaknya agar sang cucu tidak segera turun dan agar tidak merusak kebahagiaan dan kegembiraan sang cucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah r.a mengungkapkan bahwa sebagian orang arab heran melihat Rasulullah memeluk dan menciumi anak-anak kecil. Mereka lalu mengatakan kepada rasul, “Kami tidak pernah menciumi naka-anak kami”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang dari mereka, Aqra’ bin Habis mengungkapkan, “Aku memiliki sepuluh anak, namun aku tidak pernah menciumi satu pun dari mereka”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah merespons ucapannya dengan berkata, “Apakah Allah telah mengangkat kasih sayang dari hati kalian?” Raulullah seolah mengkritisi kekerasan hati mereka dan mengatakan, “Kasih sayang tidak akan pernah terangkat kecuali dari orang-orang yang sesat” (al-hadist)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kala seorang cucunya meninggal dan Rasulullah mendapat kabar tersebut, dengan segera beliau beranjak menuju rumah putrinya untuk melihat jenazah sang cucu terakhir kalinya dan mengucapkan selamat tinggal sebelum akhirnya jenazah tsb dikubur. Ketika Rasulullah menyaksikan jenazah tsb bergetar dirinya dan deraslah air matanya.&lt;br /&gt;&lt;br
